Masjid dan Politik

Masjid dan Politik Masjid Raya Sumatera Barat. Dok Covesia

Covesia.com - Politik dan politisasi masjid. Demikian topik yang lagi berkembang belakangan ini. Diperbincangkan di berbagai tempat. Di warung, di kampus, di jejaring sosial bahkan di masjid itu sendiri.

Politik dan politisasi masjid itu, walaupun memiliki keterikatan yang erat, sebenarnya dua hal yang berbeda. Membincangkan term-term politik di masjid, bagi saya, adalah sesuatu yang biasa. 

Nabi Muhammad SAW justru menjadikan masjid sebagai "markas" untuk berdiskusi mengenai politik. Dalam Al Quran, ayat-ayat tentang politik juga banyak. Bukankah khutbah ataupun ceramah di masjid tersebut menyampaikan apa yang termaktub dalam al-Qur'an? Jadi apa salahnya? Bahkan saya seringkali menyampaikan materi politik dalam setiap khutbah ketika saya menjadi khatib. 

Mengutip kitab-kitab klasik yang membahas tentang politik Islam seperti kitab Al-Ahkam al-Sultaniyah adalah sesuatu yang paling saya sukai. Tapi melakukan politisasi terhadap masjid, itu yang harus kita hindari. Politisasi itu selalu berhubungan dengan "saya" dan "mereka" atau "kami" dan "bukan kami".

Kemudian "berniaga" yang sifatnya untuk kepentingan sepihak. Masjid yang merupakan milik "kita semua" (kaum muslim), justru dimanfaatkan oleh kelompok tertentu, untuk kepentingan kelompok tertentu, mendiskreditkan kelompok selain "saya" dan "kami".

Sama halnya ketika kita membahas tentang haji dan umrah. Hal yang lumrah ketika penceramah atau khatib membahas tentang haji dan umrah tersebut. Supaya para jamaah menjadi (lebih) paham. Apapun sudut pandang yang digunakan. Apapun tafsir yang dijadikan landasan. Tapi tak elok bila kemudian dijadikan ajang promosi travel haji dan umrah. Membagi-bagikan brosur. Apakah lagi dimbumbui dengan mengatakan, "travel kami jauh lebih baik dibandingkan dengan travel yang lain.

Bagi saya, silakan bicara politik di masjid. Bukankah politik itu tidak bisa dilepaskan dari ajaran Islam dan perjalanan sejarah panjang entitas peradaban Islam itu sendiri. Tapi ketika menjadikan masjid untuk mengatakan, "kami yang lebih baik, mereka tidak baik, jangan pilih mereka. Rasanya, tak elok. masjid itu milik bersama (muslim). Secara fungsional, masjid tersebut senantiasa menghadirkan kehangatan. Kehangatan spritual sekaligus kemanusiaan.

Agama, kata Baginda Nabi Muhammad SAW adalah kecintaan dan kehangatan yang tulus. Tak ada agama kalau sudah kehilangan kecintaan dan kehangatan yang tulus tersebut.

Dan mari kita lihat, di setiap sudut negeri ini, masjid senantiasa bertambah, dengan segala corak rona dan rupa. Mendecak kagum kita melihatnya. Semoga bertambah pula "kehangatan" dan "petunjuk" yang dihadirkannya.

(lif)

Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga