Ketika Alat Dapur Tradisional Mentawai Mulai Sulit Ditemukan

Ketika Alat Dapur Tradisional Mentawai Mulai Sulit Ditemukan Foto: Mentawaikita

Covesia.com - Keladi dan pisang termasuk makanan pokok asli orang Mentawai selain sagu. Mengolah keladi dan pisang biasanya menggunakan alat tradisional disebut luklak (di Siberut Selatan) atau panei (di Siberut Utara).

Luklak terbuat dari kayu, biasanya berbentuk miniatur sampan dengan alat penumbuknya bernama cuchutcut (Siberut Utara) atau tutunduk (Siberut Selatan).

Wiwik Sulastri (25), perempuan asal Kalimantan mencoba menumbuk keladi dalam luklak. "Ini pengalaman yang jarang sebab hanya dalam acara-acara tertentu bisa menggunakannya," kata Wiwik dikutip covesia.com dari laman Mentawaikita.

Keladi, sebelum ditumbuk, direbus dalam batang bambu. Setelah halus dibentuk bulat sebesar bola pingpong dan dilumuri parutan kelapa. Orang Sikabaluan, Siberut Utara menyebutnya tinemei, untuk daerah lain di Mentawai disebut subbet.

Tinemei, di Sikabaluan biasa dibuat pada acara punen putalimogat (pesta pernikahan), karena makanan yang disajikan saat memberikan makanan anak yang telah melangsungkan acara pernikahan yaitu tinemei.

Panei dan cuchutcut di Sikabaluan mulai sulit ditemukan. Salah satu faktor penyebab langkanya panei dan cuchutcut ini karena di Sikabaluan orang mulai jarang membuat sampan.

"Biasanya kalau orang buat sampan, bagian pangkal kayu yang ditinggalkan itu yang dibuat panei dan cuchutcut. Karena kayunya kayu pilihan agar kuat, tahan dan ringan, " kata Salim Tasirilitik, guru Budaya Mentawai di Sikabaluan, Selasa, (8/5/2018).

Biasanya kayu yang dipakai untuk membuat panei dan cuchutcut yaitu katuka dan mencemen. "Orang Mentawai buat sampan dari kayu itu," katanya.

Faktor lain dikatakan Salim, karena sulitnya mencari kayu mencemen dan katuka.

"Panei dan cuchutcut ini peralatan dapur yang wajib dimiliki seorang perempuan Mentawai, terutama yang sudah berkeluarga karena mereka tidak bisa lepas berperan dalam sebuah punen, " katanya.

Maria Sikaraja, salah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai panei dan cuchutcut mengatakan, dalam kegiatan punen yang dilaksanakan keluarga besar Sikaraja selalu bangga membawa panei dan cuchutcut miliknya.

"Punya saya itu sudah lebih dari puluhan tahun. Sudah banyak punen yang dilewatinya. Itu menjadi sebuah kebanggaan bagi saya karena saat yang lain tidak lagi punya, sama saya itu masih ada, " katanya.

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga