Pancasila, Sejarah dan Implementasinya

Pancasila Sejarah dan Implementasinya Sukarno saaat membacakan pidato rumusan pancasila di sidang BPUPKI 1 juni 1945 (foto koleksi rusdi husein)

Covesia - Kita sebagai bangsa Indonesia, tentu tidak asing dengan Dasar Negara kita, yang mana di setiap upacara bendera senin, akan dibacakan oleh pemimpin upacara, ya, PANCASILA. Pancasila sendiri, merupakan sebuah kata Sansekerta, yang terdiri dari susunan dua kata Sanskerta, yaitu Panca berarti lima dan Sila berarti prinsip atau azas.

Tahun 2018 ini, adalah tahun kedua diperingatinya Hari Lahir Pancasila, setiap tanggal 1 Juni, dan ditetapkan sebagai hari libur secara nasional. Penetapan ini berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016, yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menyampaikan pidato pada peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, di Gedung Merdeka, Bandung, pada 1 Juni 2016.

Nah, mungkin sebagian kita masih belum tahu dan memahami, bagaimana sejarah lahirnya dasar Negara kita, Pancasila, sehingga menjadi rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia, ini loh sejarah nya.

Lahirnya Pancasila adalah judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan “BPUPKI”) pada tanggal 1 Juni 1945. Dalam pidato inilah, konsep dan rumusan awal "Pancasila" pertama kali dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan "Lahirnya Pancasila" oleh mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPKI tersebut.

Rumusan yang disampaikan Sukarno pada waktu itu pun, berbeda dengan susunan Pancasila yang kita kenal sekarang. Dasar negara yang disampaikan Bung Karno, pada waktu itu secara berurutan berbunyi: Kebangsaan, Internasionalisme atau perikemanusiaan, Mufakat atau demokrasi, Kesejahteraan sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Selanjutnya Dokuritsu Junbi Cosakai membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin) yang ditugaskan untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi, akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945. Naskah resmi Pancasila ini baru disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945, satu hari setelah Indonesia merdeka melalui rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), bersamaan dengan disahkannya UUD 1945 sebagai undang-undang dasar negara.

Jadi, rumusan Pancasila, sejak tanggal 1 Juni 1945 yang dipidatokan Ir Sukarno, kemudian rumusan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, hingga rumusan final tanggal 18 Agustus 1945 adalah satu kesatuan proses lahirnya Pancasila sebagai Dasar Negara

Dari kajian diatas, jelas bahwa Pancasila adalah buah hasil pemikiran Founding Father bangsa Indonesia, yang akhirnya menyepakati bahwa bunyi dari Pancasila seperti yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945, berbunyi: Satu: Ketuhanan Yang Maha Esa, Dua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Tiga: Persatuan Indonesia, Empat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan, dan  Lima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Kesaktian Pancasila ini, sudah tidak bisa kita ragukan lagi, dan Pancasila, menjadi pemersatu dari berbagai perbedaan yang terdapat di bumi Indonesia ini. Bahkan bangsa-bangsa barat, begitu mengagumi Pancasila, sehingga banyak mengadakan penelitian dan studi keilmuan, tak jarang mereka yang akan mengambil gelar Master atau Doktor disana, menjadikan Pancasila sebagai bahan skripsi dan penelitian mereka.

Lalu bagaimana dengan kita sebagai bangsa Indonesia itu sendiri. Dengan banyaknya kasus dan kejadian belakangan ini, jelas kita harus kembali kepada Pancasila kembali, karena saat ini, kita gampang dihasut dan diadu domba dengan sesama bangsa kita sendiri, dengan gencarnya isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan), dalam memjadikan bangsa kita lemah.

Ditambah nilai Pancasila yang jomplang yang kita temui dan jadi barang konsumsi public setiap hari, yang kita lihat dan dengar sekarang ini, tentang bagaimana keluarnya sebuah peraturan presiden (perpres) nomor 42 Tahun 2018 tentang Hak Keuangan dan Fasilitas Lainnya bagi Pimpinan, Pejabat, dan Pegawai Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ( BPIP).

Dengan Perpres yang diteken Jokowi pada 23 Mei lalu ini, maka pimpinan, pejabat dan pegawai BPIP akan mendapatkan hak keuangan beserta fasilitas. Untuk Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP mendapatkan hak keuangan atau gaji Rp 112.548.000 per bulan atau Rp 1.350.576.00 per tahun, Sementara itu, jajaran Anggota Dewan Pengarah masing-masing mendapatkan Rp 100.811.000 per bulan.

Adapun Kepala BPIP yang dijabat Yudi Latif mendapatkan Rp 76.500.000. Selanjutnya, Wakil Kepala Rp 63.750.000, Deputi Rp 51.000.000 dan Staf Khusus Rp 36.500.000. Selain gaji bulanan, Perpres 42/2018 juga mengatur para pimpinan, pejabat dan pegawai BPIP juga akan menerima fasilitas lainnya berupa biaya perjalanan dinas.

Dimana nilai sila kelima dari Pancasila yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, disaat sekarang hutang Indonesia menurut Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada kuartal pertama tahun ini, mencapai US$ 387,5 Miliar atau sekitar Rp 5.425 triliun (kurs Rp 14 Ribu/dolar AS). Belum kebutuhan hidup masyarakat yang semakin tinggi, dimana nilai beli masyarakat rendah, jadi menambah beban bagi masyarakat kecil.

Semoga dengan peringatan Hari Lahir Pancasila ini, kita dapat kembali memaknai bagaimana dasar Negara ini dibuat oleh founding father kita, semata-mata untuk kemaslahatan umat dan persatuan Indonesia. Harapan penulis, kita dapat mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dari Pancasila tersebut. Selamat Hari Lahir Pancasila, Bersatu, Berbagi dan Berprestasi, sesuai dengan slogannya tahun ini, hendaknya benar-benar diwujudkan, bukan hanya sekedar slogan saja.


Junaidi

Junaidi ( Jurnalis )

Berita Terkait

Baca Juga