"Die Hard" di Pusaran Politik Nasional

Die Hard di Pusaran Politik Nasional Foto: Istimewa

Covesia.com - Di pusaran politik nasional ada pemandangan baru pasca diangkatnya politisi Partai Golkar Ali Mochtar Ngabalin sebagai Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi di Kantor Staf Presiden (KSP) beberapa waktu yang lalu. 

Ngabalin yang dulu merupakan "die hard" Prabowo di Pilpres 2014, sekarang menjadi pendukung Jokowi. Ngabalin beberapa hari ini sudah wara-wiri di televisi nasional dalam kapasitasnya sebagai staf KSP.

Banyak orang menganggap Ngabalin munafik, tapi tidak sedikit pula yang mengapresiasi langkahnya. Dulu memang Ngabalin mendukung Prabowo, tetapi setelah ia bergabung dengan Partai Golkar yang mendukung Jokowi, sebagai kader yang patuh dan taat akan garis kebijakan organisasi tentunya Ngabalin harus mendukung Jokowi. 

Dalam wilayah politik sebenarnya apa yang dilakukan Ngabalin sekarang sah-sah saja. Tidak ada yang salah. Yang berubah itu hanya itjihad politik, bukan akidahnya.

Munafik apabila kita itu adalah pendukung, tetapi sikap dan kelakuan kita tidak mendukung. Kalau tidak mau mendukung ya nyatakan sikap dengan jelas. Jangan uangnya kita terima, eh orangnya dimaki-maki. 

Dalam politik itu namanya tidak punya etika. Suka atau tidak suka, Ngabalin telah menunjukkan etika bagaimana berpolitik. Ketika sebagai pendukung, ya harus mendukung. Jangan mencla mencle.

Tapi yang hebat itu Jokowi, ia melihat mantan kader Partai Bulan Bintang (PBB) yang pernah menjadi Anggota DPR RI periode 2004 - 2009 itu sangat mumpuni sebagai orang yang bisa mengomunikasikan keberhasilan / kebijakan pemerintah ke publik. Sebagai politisi, pengetahuan Ngabalin cukup luas dan kalau berdebat sering menohok lawan bicaranya. 

Dengan gaya khasnya, kadang saat berdebat Ngabalin itu 'nyebelin'. Pokoknya sebagai pendukung, Ngabalin itu adalah "die hard" sejati.

"Die hard"? Merupakan sebuah filem yang dibintangi Bruce Willis yang diproduksi Hollywood pada tahun 1988, menceritakan bagaimana sikap pantang menyerah walau situasi kritis sekali pun. 

Tapi istilah "die hard" yang dimaksud di sini, bagaimana seseorang pasang badan / membela habis-habisan terhadap orang yang didukungnya. Dalam politik nasional beberapa nama layak disebut sebagai "die hard" papan atas. Misalnya Ruhut Sitompul, Fadjroel Rahman, Fadli Zon, Fahri Hamzah dan lainnya.

Masuknya Ngabalin ke dalam barisan "die hard" Jokowi, apalagi ke depan akan ada Pilpres 2019, tentunya akan menambah kekuatan yang sudah ada di samping Ruhut, Fadjroel dan lainnya. 

Percayalah, siapa pun itu, baik Fadli Zon maupun Fahri Hamzah akan mendapatkan lawan debat yang cukup merepotkan dengan hadirnya Ngabalin. Saya rasa di situ lah hebatnya yang mengangkat Ngabalin.

(lif)



Isa Kurniawan

Isa Kurniawan ( Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar )

Berita Terkait

Baca Juga