Amien Rais nan Fenomenal

Amien Rais nan Fenomenal Amien Rais

Covesia.com - Begitu banyak yang "gregetan" pada Amien Rais. Pun tak sedikit pula yang menyukainya. Banyak yang bertanya-tanya, mengapa gaya bicara seperti itu. 

Mengapa ia begitu tak suka pada Jokowi, sebagaimana dulunya ia juga tak suka pada SBY ? Apa sih yang diinginkannya ? Setidaknya demikian yang belakangan ini, kalimat tanya yang berseliweran di berbagai linimasa. Termasuk tanya dari saya, yang terkadang tak bisa mencerna apa sih tujuan beliau ?

Saya tak ingin ikut alur opini di berbagai linimasa tersebut. Bagaimanapun juga saya pernah mengaguminya. Saya ingin menuliskan kembali sisi-sisi "emejing" beliau yang dulu. Semoga beliau tetap "emejing".

Ketika mahasiswa, saya termasuk pengagum beratnya. Bersama-sama dengan Gus Dur, Syafii Ma'arief dan Yusril Ihza Mahendra. Mata berbinar dan gairah "bergelora" membincangkan Amien Rais. Di era 1997-1998. Kita tak boleh "mereduksi" ketokohannya. Ia termasuk orang paling berjasa menggerakkan lokomotif reformasi. Saya menyimpan banyak tulisan-tulisannya di berbagai koran masa jelang kejatuhan Soeharto. 

Di Forum Keadilan, Gatra maupun Detak. Ia magnitude. Sebagai orang yang dibesarkan di kalangan Muhammadiyah, saya bahagia dan merasa bangga padanya.

Tapi manusia itu tidak stagnan. Sebagai politisi, beliau tentunya diharuskan "bermain" dalam ranah yang penuh kompromi. Ranah kepentingan. Ranah tarik menarik. Ranah yang istilah Churchill sebagai wilayah "nan sunyi" sekaligus gegap gempita.

Saya tetap menjaga kebanggaan saya padanya. Amien Rais ketika saya mahasiswa. Dan tidak akan pernah saya hilangkan. Bila ada yang mencaci makinya seakan-akan beliau tak punya jasa, jujur saya marah. Orang seperti ini adalah orang yang a-historis.

Lantas bagaimana dengan kini? Itulah risiko dunia politik. Risiko sebagai politisi. Risiko sebagai elit. Karena itu bagi saya, biarlah proses berjalan. Seandanyai Amien Rais benar sebagaimana dituduhkan, maka harus kita katakan demikian adanya. Tak pula membela habis-habisan di satu sisi dan menghantam di sisi lain, seakan-akan beliau tak punya jasa. Jangan. Mari proporsional.

Anda anggap saya tak sedih Amien Rais mengalami hal seperti ini. Sedih bung. Tapi saya tetap memupuk kebanggaan padanya, kebanggaan dulu yang pernah diberikannya pada bangsa dan anak muda seperti saya.

Ada kerinduan pada Amien Rais. Terlepas suka atau tidak suka pada sosok yang vokal ini. Rasanya jagad politik Indonesia kurang “garam” karena tidak ada komentar pedas-nyelekit dari seorang Professor Doktor Ilmu Politik (spesialis) Timur Tengah bernama Amien Rais. 

(lif)

Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga