Dikotomi Ranah dan Rantau Sudah Cair

Dikotomi Ranah dan Rantau Sudah Cair Ilustrasi

Covesia.com - Budaya merantau merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Minangkabau. "Marantau bujang daulu, di rumah paguno balun". Itulah pepatah yang selalu menjadi inspirasi anak-anak Minangkabau. 

Bagi anak laki-laki Minang, semangat meninggalkan ranah (kampung) untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di rantau, sudah tertanam sejak beranjak akil baligh. Sebab, Minang yang menganut mazhab matrilineal (garis ibu) tidak ada tempat bagi anak laki-laki dalam soal harta pusaka.

Dalam pemahaman yang saya tahu, ranah itu awalnya adalah Luhak Nan Tigo yakni Luhak Tanah Data, Luhak Agam dan Luhak Limopuluah, selebihnya itu disebut dengan rantau. 

Seiring berjalannya waktu dan perubahan wilayah administrasi pemerintahan, yang dimaksud dengan ranah itu sekarang lebih kepada wilayah yang menjadi Provinsi Sumbar saat ini, dan di luar itu disebut dengan rantau.

Dulunya, saat sarana dan prasarana transportasi masih terbatas, pergi merantau itu bisa memakan waktu berhari-hari. Kadang ada yang sampai berbulan, baru sampai di rantau yang dituju. Pergi dengan bus dalam kondisi jalan yang sangat buruk dan kalau naik kapal berangkat dari Teluk Bayur. 

Lagu legendaris "Teluk Bayur" yang didendangkan Erni Johan itu, kalau dilihat dari liriknya, saya yakin itu terinspirasi dari semangat pergi merantau. Di masa-masa itu dikotomi antara ranah dan rantau sangat tajam sekali karena keterbatasan ruang dan waktu. 

Berkirim kabar pun hanya lewat surat menyurat, kemudian baru ada telepon. Tetapi sekarang di saat semuanya sudah borderless (tanpa sekat) dan teknologi informasi yang maju pesat, dikotomi antara ranah dan rantau itu sudah mencair. Hampir tidak ada lagi pembatasnya. Sekarang orang dalam hitungan jam bisa berpindah ke rantau, begitu juga sebaliknya.

Saat ini orang yang pergi ke Jakarta bisa duluan sampainya dari orang yang ke Bukittinggi. Dan ke Jakarta itu sekarang banyak pula yang balik hari. Pagi pergi, parkir mobil di bandara, malamnya sudah pulang lagi. 

Dalam interaksi sosial bahkan lebih cair lagi, sebab dalam hitungan detik kabar di ranah bisa dilihat di rantau. Hampir semua nagari di Sumbar sekarang sudah masuk telpon seluler dan bisa internet-an. Begitu juga kabar dari rantau, orang di ranah dalam detik itu juga sudah dapat cerita.

Tetapi secara emosional dan kultural, ranah dan rantau itu tetap beda. Di saat-saat Hari Raya Idul Fitri inilah orang rantau merindukan berlebaran di ranah, di kampung halaman. Di samping bisa memamerkan (melagakkan) keberhasilan dan kesuksesan di rantau, sekaligus menjadi ajang pelepas rindu akan sanak saudara, kawan-kawan, makanan (kuliner) dan suasana ranah yang adem.

Biasanya bagi yang belum berhasil di rantau, tidak bisa pulang. Malahan rantau diperjauh, agar bisa menjadi alasan mahalnya biaya transpor pulang. Bahkan kalau masih belum juga berhasil ada yang "marantau cino", tidak pulang-pulang. Bagi mereka ini berlaku apa yang ada pada lirik lagu Armada, "pulang malu dan tak pulang rindu".

(lif)

Isa Kurniawan

Isa Kurniawan ( Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar )

Berita Terkait

Baca Juga