Tradisi 'Menambang' Saat Lebaran di Minangkabau

Tradisi Menambang Saat Lebaran di Minangkabau Ilustrasi

Covesia.com - Menambang merupakan kerja seseorang yang membawa angkutan umum untuk mencari penumpang (sewa), kemudian mendapatkan uang dari ongkos yang diberikan penumpang yang dibawanya itu. 

Terus, menambang bisa juga diartikan kerja yang dilakukan untuk mendapatkan batu bara, minyak maupun bahan-bahan logam (mulia), seperti emas, timah, mangan dan lainnya.

Menambang yang ini lain lagi ceritanya. Di Hari Raya Idul Fitri ada tradisi yang hidup di tengah-tengah masyarakat Minangkabau, khususnya anak-anak untuk merayakan hari kemenangan itu. 

Manambang bahasa Minangnya. Secara bersama anak-anak bersilaturahmi dari rumah ke rumah dan kemudian yang punya rumah memberikan uang kepada anak-anak tersebut sewaktu mau pulang. Dikatakan menambang, mungkin terinspirasi dari membawa angkutan umum di atas.

Menambang adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak. Bahkan dari malam takbiran persiapan untuk menambang besok itu sudah diancar-ancar. Tidur pun tidak nyenyak menunggu pagi. Salat Idul Fitri dan khotbah pun rasanya ingin cepat-cepat saja selesai, agar bisa segera menambang. 

Itulah dinamikanya, itulah dunia anak-anak. Tidak ada yang bisa menghambatnya. Dan tidak perlu pula dilabeli macam-macam tradisi itu.

Seiring berjalannya waktu, mereka akan menepi dengan sendirinya sewaktu usia sudah berangkat remaja. 

Untuk itu mari kita biarkan anak-anak bersukacita dengan menambang-nya. Sekali setahun mereka bisa memiliki uang banyak dari menambang dan kemudian menggunakannya untuk kesenangan mereka sendiri dengan membeli mainan maupun kegunaan lainnya. 

Biarkan tradisi menambang itu kelak kan menjadi kenangan bagi mereka.

(lif)

Isa Kurniawan

Isa Kurniawan ( Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar )

Berita Terkait

Baca Juga