Tak Guna Bicara (TGB)

Tak Guna Bicara TGB Tuan Guru Bajang

Covesia.com - Ada dua peristiwa bersejarah terjadi beberapa hari ke belakang sehubungan dengan jabatan gubernur. Pertama Gubernur Aceh Irwandi Yusuf terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Kemudian pernyataan dukungan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi yang biasa dipanggil dengan Tuan Guru Bajang (TGB) terhadap kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) yang perlu dilanjutkan menjadi 2 periode. Kedua peristiwa itu berhasil menyita perhatian rakyat Indonesia.

Kejadian pertama, tertangkapnya Gubernur Aceh Irwandi oleh KPK karena kasus suap yang berhubungan dengan proyek Otonomi Khusus (Otsus) sungguh sangat menyentak karena terjadi di daerah "Serambi Mekah" yang telah menganut hukum syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari. 

Ada yang karena kesalahannya, rakyat kecil di hukum cambuk, kalau pemimpin seperti Irwandi yang korupsi apa hukumannya? Ini ujian bagi penerapan hukum syariat Islam di Aceh.

Kemudian pernyataan keberpihakan Gubernur NTB TGB terhadap Jokowi sepertinya telah membuat mereka yang selama ini mengidolakannya sebagai umara yang juga ulama hebat, kecewa berat. 

Apalagi selama ini lulusan Universitas Al-Azhar Kairo - Mesir itu digadang-gadang sebagai calon presiden (capres) alternatif dari kalangan ummat Islam untuk melawan Jokowi. 

Penggalangan dan pembentukan relawan pun telah dilakukan ke seluruh Indonesia dan TGB pun sudah road show ke daerah-daerah.

Untuk kasus Irwandi biarlah hukum dan rakyat Aceh yang menyelesaikannya. Tapi untuk TGB saya menilai, setelah berkeliling ke daerah-daerah di Indonesia dan melihat konstelasi politik nasional pascapilkada, sepertinya TGB memilih bersikap realistis. 

Sebagai kader Partai Demokrat dengan adanya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tentunya tipis peluang TGB untuk diusung partainya. Sementara dari partai lain, tidak tampak pula yang mendukung.

Tapi tersirat juga sikap TGB sebagai bentuk kekecewaannya terhadap elit politik yang selama ini menginginkan adanya muncul capres yang bisa menyatukan suara ummat Islam seperti dirinya yang akan berhadapan dengan Jokowi, tapi tidak didukung. 

Malahan mereka semua sibuk dengan ambisi masing-masing sebagai capres pula. Melihat sulitnya kekuatan itu disatukan, maka TGB memilih mundur saja dari bursa capres.

Apapun yang telah diputuskan oleh Irwandi dan TGB harus kita hargai. Irwandi telah memilih jalannya ke penjara, dan TGB memilih merubah ijtihad politiknya dengan mendukung Jokowi. 

TGB yang kelahiran 1972 (berusia 46 tahun) masih panjang karir politiknya. Mana tau ke depan, TGB bisa menjadi salah seorang menteri di kabinet Jokowi kalau menang Pilpres. Maka itu, tak guna bicara (TGB), sudah habis kata-kata, biarkan waktu yang menjawabnya.

(lif)

Isa Kurniawan

Isa Kurniawan ( Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar )

Berita Terkait

Baca Juga