Buku 'Politik' Jelang Pilpres

Buku Politik Jelang Pilpres Ilustrasi

Covesia.com - Politik nampaknya harus diisi oleh figur-figur yang “maksum”, atau tak memiliki cacat sejarah. Sudah menjadi kelaziman nampaknya, jelang pengambilan kebijakan politik, kembali isu-isu yang diperbincangkan beberapa buku, mengemuka. 

Pada prinsipnya bercerita tentang figur yang sedang “berjuang” dalam ranah politik praktis. Topik buku-buku tersebut bisa dilihat dari berbagai sudut. Sebagai “pelurus sejarah” agar rakyat tahu latar sang figur, konsekuensi logis dari kompetisi politik, pembunuhan karakter atau memang berawal dari serba kebetulan.

Mari kita jemput perjalanan sejarah beberapa waktu yang lalu

Jelang Pilpres 2009 dan 2014 yang lalu, hangat diperbincangkan buku "Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando" karya Sintong Panjaitan. Buku yang “menohok” peran historis Wiranto (Calon Presiden dari Partai Hanura) dan Prabowo Subianto (calon Presiden dari Partai Gerindra). Kehadiran buku ini kembali memperkaya buku-buku sejenis pasca-Orde Baru.

Sebelumnya sudah hadir buku Habibi yang “menggadang-gadangkan” Wiranto dan memojokkan Prabowo. Lalu muncul buku baru. Sebuah pembelaan dari Fadli Zon, loyalis Prabowo. Kemudian juga ada Buku karangan Kivlan Zein yang mendiskreditkan Wiranto (jelang Pilpres 2004). Semuanya muncul selalu jelang pengambilan kebijakan politik “tingkat tinggi”. Entah kebetulan atau memang disengaja.

Tapi dalam perspektif "pelurusan sejarah", kehadiran buku-buku kontroversial seperti di atas, sangat perlu dan sudah merupakan keharusan agar muncul berbagai tanggapan. Dialog intelektual akhirnya hidup.

Mantan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus Sintong Panjaitan dalam bukunya tersebut menyatakan bahwa mantan Panglima TNI Jenderal TNI (purn) Wiranto dan mantan Danjen Kopassus Letjen TNI (purn) Prabowo Subianto, harus mempertanggungjawabkan tindakannya terutama saat Mei 1998. 

"Sebagai pemimpin, mereka berdua harus bertanggungjawab dong," katanya, usai meluncurkan otobiografinya "Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando" di Jakarta, Rabu malam. 

Jenderal Sintong yang dikenal sebagai "orang dekat" Habibi ini mengatakan, pertanggungjawaban oleh Wiranto terkait aksi kerusuhan yang melanda Jakarta hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto kepada wakilnya BJ Habibie dan Prabowo menyangkut penculikan sejumlah aktivitis.

Menurut Letnan Jenderal Purnawirawan yang namanya melambung karena berhasil menggagalkan pembajakan pesawat Garuda Woyla DC 9 di Don Muang Muangthai oleh Kelompok Jihad Pimpinan Imran dan Salman Hafidz ini, pertanggungjawaban yang dilakukan mantan petinggi TNI itu belum selesai.

Jelang Pilpres 2019 yang akan datang, jika seandainya Prabowo menjadi calon Presiden, tak kecil kemungkinan buku tentang Prabowo kembali hangat dibahas. Termasuk isu-isu "seksi" yang berhubungan dengan mantan suami Titiek Soeharto ini. 

Kalau dulu ada Wiranto, maka sekarang, selain Prabowo, perbincangan tentang kejelekan rezim lampau yaitu rezim “Cikeas”, mulai diketengahkan ke depan. Buku George Aditjondro, “Gurita Cikeas” mungkin akan ramaiu lagi didiskusikan. Jadi konsumsi publik.

Demikianlah. Perlu tak perlunya, tergantung kita memandangnya. Politik memang demikian. "Bila takut dilamun ombak, janganberumah ditepi pantai", demikian penggalannyanyi Elly Kasim. Bila masuk dunia politik, maka seluruh borok akan diperbincangkan. Diperlihatkan pada publik. Itu sudah menjadi keniscayaan.

(lif)

Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga