Ma'ruf Amin dan Pertaruhan Nahdlatul Ulama

Maruf Amin dan Pertaruhan Nahdlatul Ulama Ma'ruf Amin

Covesia.com - Memilih Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden (cawapres) tentu memiliki tujuan yang jelas bagi seorang Joko Widodo.Tugas yang diemban Ma'ruf Amin sebagai cawapres dibantu oleh PKB, PPP dan PBNU secara kultural maupun struktural adalah mengamankan suara kaum nahdliyin, yakni suara warga Nahdlatul Ulama (NU), termasuk ribuan pondok pesantren yang berafiliasi ke NU, khususnya di Tanah Jawa.

Berdasarkan data yang ada di wikipedia, di seluruh Indonesia jumlah anggota NU (atau yang mengaku berafiliasi) itu sekitar 90 juta orang. Data itu hampir sama dengan yang disampaikan Lembaga Survei Indonesia (LSI), 91.2 juta orang. Tapi oleh Sekjen Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini disebutkan lebih dari itu, yakni sebanyak 120 juta orang.

Ma'ruf Amin adalah Ketua Rais Aam PBNU, atau Ketua Dewan Syuro. Dan ketika salah seorang kiyai NU menjadi cawapres, tentunya ini suatu penghargaan tertinggi bagi NU. Suka atau tidak suka, Ma'ruf Amin menjadi cawapres-nya Jokowi tidak terlepas dari dorongan PBNU secara organisasi.

Untuk itu, tentunya NU akan bersatupadu berjuang mengantarkan kiyainya menjadi Wakil Presiden RI ke depan.

Tetapi perlu juga menjadi catatan di sini bahwa ketika Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004, ada lima pasang capres dan cawapres, Hamzah Haz-Agum Gumelar, Amien Rais-Siswono Yudohusodo, Megawati-Hasyim Muzadi, Wiranto-Sholahudin Wahid dan Susilo Bambang Yudhoyono- Jusuf Kalla. 

Hasyim Muzadi yang mantan Ketua Umum PBNU, kalah. Tapi karena yang menang SBY-JK, NU tetap menempatkan kadernya, yakni JK. Mantan Ketua Umum PBNU itu kalah karena suara terpecah-pecah.

Di Pilpres 2009, SBY-Boediono tidak terbendung, berhasil mengalahkan JK-Wiranto dan Megawati-Prabowo. Walaupun ada JK yang kader NU, tetapi tetap kalah juga. Sepertinya saat itu suara NU larinya ke SBY, bukan JK. 

Banyak faktor yang menyebabkan kekalahan JK tersebut. Kemudian sebagai petahana presiden, kekuatan politik dan jaringan SBY memang sangat mumpuni.

Di Pilpres 2014, pasangan Jokowi-JK menang atas Prabowo-Hatta Rajasa. Waktu itu keberpihakan NU tidak penuh ke pasangan Jokowi-JK, walaupun JK merupakan kader NU. Saat itu ada juga pengurus NU yang mendukung Prabowo-Hatta, seperti Said Aqil Siroj yang menjabat Ketua Umum PBNU. Tapi dukungan yang diberikan secara pribadi, bukan organisasi.

Sekarang di Pilpres 2019, dari 4 orang capres dan cawapres yang akan bertarung, Prabowo - Sandiaga Uno dan Jokowi - Ma'ruf Amin, hanya ada satu yang berasal / direkomendasikan PBNU, yakni Ma'ruf Amin. Yang menjadi pertanyaan, apakah PBNU secara organisasi akan solid mengantarkan Rais Aam-nya sebagai Wakil Presiden RI Periode 2019-2024?

Setelah NU selesai oleh Ma'ruf Amin, dibantu PKB, PPP serta PBNU, sepertinya isu lainnya mengenai pemilih milenial, buruh, luar Jawa dan masalah ekonomi, nampaknya porsi Jokowi dan partai pendukung lainnya seperti PDIP, Golkar, NasDem, Hanura, Perindo, PSI dan PKPI yang mengurusnya. Dan Pilpres 2019 semakin menarik untuk disimak.

(lif)

Isa Kurniawan

Isa Kurniawan ( Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar )

Berita Terkait

Baca Juga