Militansi dan Keteguhan Hati Pemilih

Militansi dan Keteguhan Hati Pemilih Ilustrasi

Covesia.com - Pilpres 2019 yang akan datang ditenggarai hanyalah pengulangan dari Pilpres 2014. Tidak akan banyak berubah. Calon presiden (capres) tetap dua dimana orangnya itu-itu juga, yakni Prabowo dan Jokowi. Sementara bedanya hanya di calon wakil presiden (cawapres). Dulu Prabowo - Hatta Rajasa, sekarang Prabowo - Sandiaga Uno. Dulu Jokowi - Jusuf Kalla, sekarang Jokowi - Ma'ruf Amin.

Pada Pilpres 2014 lalu, Prabowo kalah dari Jokowi, di mana Prabowo - Hatta memperoleh 62.576.444 suara (46,85%), sementara Jokowi - JK 70.997.851 suara (53,15%). Jokowi menang dengan selisih 8.421.407 suara. Bisa 2 atau 3 provinsi di luar Jawa.

Dari perolehan suara itu, Prabowo hanya menang di 10 provinsi, Aceh (54,39%), Sumbar (76,92%), Riau (50,12%), Sumsel (51,26%), Jawa Barat (59,78%), Banten (57,10%), NTB (72,45%), Kalsel (50,05%), Gorontalo (63,10%) dan Maluku Utara (54,45%). Selebihnya di 24 provinsi lagi disapu bersih oleh Jokowi.

Kemenangan Prabowo yang mencolok di atas 60% terdapat di 3 provinsi, yakni Sumbar (76,92%), NTB (72,45%) dan Gorontalo (63,10%). Sementara Jokowi di 9 provinsi, Jateng (66,65%), Bali (71,42%), NTT (65,92%), Kalbar (60,38%), Kaltim (63,38%), Sulsel (71,43%), Sulbar (73,37%), Papua (72,49%) dan Papua Barat (67,63%).

Mencermati perkembangan politik kekinian setelah 4,5 tahun dari 2014, tidak bisa dipungkiri telah terjadi perubahan-perubahan dukungan. Dimana terjadi migrasi dari yang semula mendukung Prabowo, sekarang Jokowi. Dan begitu sebaliknya. Yang paling nyata itu adalah perubahan dukungan dari Partai Golkar dan PPP yang dulu mendukung Prabowo, sekarang mendukung Jokowi. Peralihan dukungan ini sepertinya lebih banyak migrasinya ke arah Jokowi.

Karena di Pilpres 2019 sekarang beda cawapresnya, maka seperti di Sulsel, dulu menang Jokowi karena ada faktor JK yang orang Makassar, sekarang tentu terjadi perubahan. Di Banten, dulunya Prabowo yang menang, sekarang dengan adanya putera daerah Banten Ma'ruf Amin yang menjadi cawapres, tentunya akan berpotensi menggerus perolehan suara Prabowo di Banten.

Kemudian secara psikologis, dari pengamatan di media sosial maupun secara langsung terhadap prilaku pemilih Prabowo maupun Jokowi mulai dari Pilpres 2014 dan menghadapi Pilpres 2019 yang akan datang, mayoritas pemilih Jokowi di Pilpres 2014 lalu berpotensi akan tetap memilih Jokowi kembali di Pilpres 2019. Sepertinya sulit bagi mereka untuk beralih mendukung Prabowo. Militansi dan keteguhan hati pemilih Jokowi nampaknya sangat pekat. Jadi susah mengubahnya.

Apapun yang direcoki untuk mengubah arah pilihan ke Prabowo, sepertinya mereka tetap akan memilih Jokowi. Saat Pilpres 2014, dibombardir dengan Tabloid "Obor Rakyat" dan kampanye hitam (black campaign) lainnya terhadap sosok Jokowi, mereka seteguh karang. Apalagi sekarang, kampanye hitam itu sudah tidak laku lagi. Kalau tidak percaya coba saja ke teman atau orang yang dulu memilih Jokowi, sekarang diminta pilih Prabowo?

Bagaimana dengan pemilih pemula, mereka yang lewat umurnya 17 tahun dan pensiunan TNI / Polri semenjak 2014? Rasanya tidak akan mengubah banyak persentase total perolehan suara, baik Prabowo maupun Jokowi. Kondisi di atas dapat berubah manakala secara ekonomi enam bulan ke depan menjelang Pilpres 2019 Indonesia mengalami krisis yang ekstrem, ditandai dengan melemahnya rupiah terhadap dolar, bisa sampai Rp25.000 / dolar AS. Atau, Jokowi diketahui korupsi besar-besaran seperti mantan PM Malaysia Najib Razak.

(lif)

Isa Kurniawan

Isa Kurniawan ( Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar )

Berita Terkait

Baca Juga