Muallaf Tanpa Dendam Sejarah

Muallaf Tanpa Dendam Sejarah Foto: Istimewa

Covesia.com - Namanya Riyan. Yanrianto, tepatnya. Tuna netra permanen (buta) sejak lahir. Keturunan Tionghoa asal Tanjung Pinang. Marganya Hui. Sejak kecil sering dipanggil Asen. Sekarang semester VII (tujuh) Prodi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Padang. 

Ia salah seorang mahasiswa yang selalu mengunjungi cafe bawah jenjang di FAH, di sela-sela pergantian jam kuliah. Cafe tempat saya duduk-duduk untuk meminum setengah gelas teh susu. Berdiskusi dengan kawan sejawat. Berdiskusi dengan mahasiswa. Salah satunya, dengan Riyan ini.

Hidupnya penuh liku. Lika liku seorang laki-laki. Sejak kecil muallaf. Terisolasi dari keluarga besarnya yang miskin secara ekonomi. Mama dan papanya tidak merestui pilihannya untuk pindah agama. Ia mencari orang tua angkat. Kemudian kisah hidupnya bermula dari orang tua angkat ke orang tua angkat. 

Dari belia ia tinggalkan Tanjung Pinang. Sekolah di SLB Payakumbuh. Berlanjut ke Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Payakumbuh. Selanjutnya, berlabuh di UIN Imam Bonjol Padang.

Darimana Riyan mendapatkan biaya hidup? Dari para donatur. Dari orang tua angkat yang tak selalu rutin memberikan bantuan. Dan bebereapa semester ini, Riyan menerima beasiswa dari Badan Amil Zakat. Walau tak lebih, tapi cukup.

Riyan tidak pernah pulang ke Tanjung Pinang. Terkadang ia mengakui, bahwa ada kerinduan luar biasa untuk menjumpai orang tuanya tersebut. Saya bisa merasakan suasana bathinnya. 

Dan dari seluruh diskusi yang saya lakukan dengannya, tak pernah sekalipun ia menjelekk-jelekkan agama nenek moyangnya. Tak pernah memburuk-burukkan agama orang tua dan kakak-kakaknya. Baginya, ini yang saya pilih, maka ia harus mempertahankan pilihannya dengan resiko apapun. 

Sedangkan pilihan orang tua dan kakak-kakaknya adalah sebuah konsistensi pilihan yang harus dihormatinya. Sudah 3 tahun 6 bulan, Riyan menapaki jalan-jalan dari tempat kostnya di Karang Ganting menuju Kampus Lubuk Lintah. Terkadang dituntun kawan-kawan yang sangat menyayanginya. Tak jarang berjalan sendirian. Ditabrak sepeda motor, jatuh terduduk di tengah jalan dan sejenisnya adalah suatu hal yang biasa terjadi padanya. Ia tak pernah marah dengan keadaannya. 

Ia tak pernah menyebut-nyebut dengan bangga bahwa ia muallaf. Riyan yang sangat menyukai dunia IT (dengan bantuan cardrider) ini, anak yang cerdas. IPK-nya sekitar 3,45. Kemungkinan bisa menamatkan studi 4 tahun (8 semester). Ingatannya sangat kuat sekali. Bahkan ia ingat dengan jelas nama-nama dosen serta kawan-kawannya hanya dari suara mereka. 

Sudut-sudut kampus pun, tertutama yang sering dikunjunginya, ia tahu persis letaknya. Menjalani kehidupan normal seperti anak kos, tentunya dengan keterbatasan yang menurutnya "mengasyikkan".

"Saya ingin mengambil S2 bidang IT. Entah dimana, kita tunggu saja titah Tuhan pada saya. Saya ingin menjadi editor buku-buku sejarah dan keislaman digital ke huruf braille untuk anak-anak disabiltas, khususnya tuna netra. Kadang juga ingin mengambil S2 di Tarbiyah. Ingin menjadi guru sejarah dan keislaman bagi saudara-saudara saya penderita tuna netra. Terserah mana yang memungkinkan saja. Tapi fokus saya hanya pada satu titik. Saya yang masih beruntung bisa kuliah ini hanya ingin berbagi ilmu nantinya pada saudara-saudara saya yang tuna netra," ujar Riyan.

Berdiskusi dengannya membuat mata saya terkadang sabak. Menjalani hidup tanpa dendam. Saya selalu memberikan tepuk tangan padanya. Sehat selalu, Asen.

(lif)

Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga