Luqman al-Hakim dan Ayah Masa Kini

Luqman alHakim dan Ayah Masa Kini Ilustrasi - pixabay

Covesia.com - Fatherless country atau negeri tanpa ayah adalah istilah sekaligus sindiran bagi negara dengan minimnya keterlibatan ayah dalam pendidikan anak. Indonesia juga termasuk dalam negara yang kurang melibatkan ayah dalam pendidikan anak. Anggapan bahwa ayah hanya bertugas mencari nafkahlah yang menyebabkan rumah kehilangan sosok lelaki berwibawa sang pemimpin keluarga.

Ayah di Indonesia rata-rata menghabiskan seluruh waktunya di tempat kerja dan bersama rekan kerjanya. Atau jikapun ada di rumah, anak-anak menjadi tanggung jawab ibu sepenuhnya. Terlebih lagi, jika Ibu bekerja, banyak ayah yang urung mendidik anaknya bersama-sama sang istri. Sehingga, banyak anak yang kehilangan maskulinitas yang seharusnya didapat dari ayah.

Sejatinya, keluarga butuh peran ayah sebagai pemimpin yang mampu menyusun visi dan misi bersama anggota keluarga untuk menjadi keluarga tangguh di masanya. Ayah juga harus mampu memandu ibu untuk menjalankan fungsi pengajar utama bagi anak-anak, dan menjadi teladan bagi istri dan anak-anaknya.

Ayah tak Terlibat

Anak-anak pelaku penyimpangan sosial berasal dari keluarga dengan latar belakang bermasalah. Bahkan menurut Setiawaty, dkk (2015), disharmonisasi keluarga ialah penyebab utama kenakalan remaja. Disharmonisasi keluarga sendiri disebabkan oleh hilangnya peran orangtua (ayah dan ibu) dalam membersamai anak.

Kebanyakan orangtua memahami keterlibatan dengan memenuhi segala kebutuhan jasmaninya saja dan lupa akan kebutuhan psikologis dan rohaninya. Orangtua memberikan semua yang mereka anggap dibutuhkan anak, namun lupa untuk menanyakan apa yang dibutuhkan oleh si anak. Ayah pun menganggap anak-anak hanya butuh ibunya, maka semua tugas mendidik anak didelegasikan kepada ibu. Ayah lupa, bahwa keberanian, kemandirian, dan ketegasan serta keterampilan hidup tak sepenuhnya dapat diajarkan oleh ibu.

Padahal sifat-sifat di atas merupakan ciri yang melekat pada maskulinitas yang lebih dominan dimiliki ayah. Selain itu, ayah lebih mampu mengajarkan anak untuk kuat dan bertahan karena menurut penelitian neurologis, kaum ayah menggunakan 99% akalnya, sementara ibu hanya 1%. Sehingga ada istilah ”ayah lebih tega dari ibu” yang mencerminkan maskulinitas yang berefek pada kesiapan anak menghadapi kehidupan yang lebih luas dari sekedar rumah dan keluarga.

Namun, paradigma yang berkembang justru keliru. Maskulinitas lebih diidentikkan hanya untuk anak laki-laki, sementara anak perempuan tidak membutuhkannya. Atau menyamakan maskulinitas dengan wibawa yang berlebihan. Ayah adalah dewa yang tak pernah salah, keras,  dan tak berempati. Sehingga banyak sosok ayah yang hadir dalam kehidupan anak bak algojo yang senang menghakimi, hingga memukul jika anak berbuat salah. Ayah tak perlu mendidik karena hal itu merupakan tanggung jawab ibu. Paradigma yang salah menjerumuskan kaum ayah pada pengasuhan yang salah. Ayah menjadi sosok yang sangat berwibawa sehingga harus menjaga jarak dengan anak.

Asumsi agar anak takut pada ayah juga dibentuk ibu tanpa sadar. Ibu sering mengancam jika anak tak bisa dikendalikan dengan sosok ayah yang akan menghukum kesalahan anaknya. Hingga konsep ayah menakutkan bagi anak tertanam dalam memori alam bawah sadarnya. Anak-anakpun akan menjaga jarak dengan ayahnya. Akibatnya, ia akan mencari sosok lelaki hebat di luar rumahnya.

Belajar dari Luqman al-Hakim

Luqman al-Hakim adalah sosok ayah yang diabadikan kisahnya bahkan menjadi salah satu nama surah dalam kitab suci Alquran. Ayah yang mendidik anak-anaknya dengan sebenar-benar cara, hingga kemuliaan ia dapatkan langsung dari Tuhannya. Ia ayah, bukan ibu. Ia mendidik anak-anaknya berdasarkan prinsip tauhidullah dan akhlak-akhlak mulia (Zarman, W., 2018). Ia sosok orangtua yang terus bisa dicontohi dalam pendidikan keluarga. Prinsip pengasuhannya tetap relevan meski kisahnya terjadi ribuan tahun yang lalu.

Luqman al-Hakim dicerminkan sebagai orangtua yang futuristik sehingga nasihat-nasihatnya tak lekang waktu. Ia menanamkan rasa cinta pada Tuhan, hormat pada orang, bersosial dengan masyarakat dengan cara yang indah. Tanpa ancaman, tanpa hardikan, dan tanpa kekerasan. Ia menasihati serta menjadikan dirinya role model bagi anak-anaknya. Ia memberi contoh baru kemudian mengajak.

Apa yang dilakukan Luqman al-Hakim tentulah bisa dilakukan para ayah masa kini. Hal utama yang perlu dilakukan ayah ialah membangun kedekatan emosional dengan anak. Selanjutnya ayah akan lebih mudah mengendalikan anak untuk menjadi seperti harapannya. Menurut Nur Solikhin (2018), seorang anak akan dengan senang hati mendengarkan dan menuruti nasihat dari sang ayah jika di antara keduanya terjalin ikatan emosional yang kuat. Kedekatan emosional antara ayah dan anak dapat diindikasikan melalui beberapa hal; menunujukkan kasih sayang, menemani anak beraktivitas, dan menjadi sahabat bagi anak.

Sudah saatnya ayah kembali pada peran utamanya dalam mendidik keluarga, merancang masa depan untuk setiap personel di dalamnya. Ayah dan ibu tak dapat berjuang sendiri, butuh kerja sama antara keduanya. Ibarat sebuah sekolah, ayah kepala sekolahnya, ibu guru utamanya, dan anak-anak adalah target utama pendidikannya.

Zaman semakin berkembang, teknologi tak semata memberi manfaat, ada banyak efek negatif yang mengintai anak-anak kita. Mereka butuh orangtua yang mampu mengawal tumbuh kembangnya untuk menjadi pemuda hebat di kemudian hari. Ayah dan ibu harus lebih peduli, menyiapkan segala bekal kecakapan hidup untuk mereka, agar tiada penyesalan nantinya.

Selamat hari ayah untuk semua ayah di Indonesia. Semoga peranmu terus memberi warna dalam hidup anak-anakmu. Setiap jerih ayahmu menjadi ladang pahala tiada batas di hadapan Tuhan.

Opini ini sebelumnya telah tayang di situs Sahabat Keluarga Kemdikbud

Muazzah, S.Si, M.A

Muazzah, S.Si, M.A ( Magister of Teacher Education, Tampere University, Finland, Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie )


Berita Terkait

Baca Juga