6 Daerah ini Punya Tradisi Unik Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW

6 Daerah ini Punya Tradisi Unik Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW ilustrasi

Covesia.com - Maulid Nabi Muhammada SAW diperingati oleh hampir setiap muslim di Nusantara. Maulid Nabi merupakan peringatan hari lahir Nabi Muhammad, yang jatuh pada tanggal 12 Rabi'ul Awal setiap tahunnya.

Setiap daerah di Indonesia biasanya memiliki cara masing-masing untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dirangkum covesia.com dari berbagai sumber, berikut enam tradisi unik dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad:

1. Tradisi Memasak Lemang, Aceh

Umumnya masyarakat Aceh dalam memperingati Maulid Nabi dengan memasak lemang yang merupakan tradisi warisan suku Alas. Lemang adalah makanan hasil dari campuran ketan dan air santan.

Kedua bahan tersebut nantinya akan dimasukkan ke dalam bambu lalu dimasak dengan cara dibakar menggunakan kayu. Yang unik dari pembuatan lemang adalah proses pembakarannya yang cukup lama, setidaknya kamu harus menunggu hingga empat jam. Masyarakat Aceh dalam memperingati hari besar Maulid Nabi setiap tahunnya selalu membuat lemang.

Grebek Maulud (Yogyakarta)

Grebek Maulud adalah puncak peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan di Yogyakarta. Pada upacara puncak ini, sebanyak tujuh gunungan akan dikeluarkan dari Keraton untuk dibawa ke Masjid Gede, Kepatihan dan Puro Pakualaman.

Tujuh gunungan itu terdiri dari Gunungan Putri, Kakung, Darat, Gepak dan Gunungan Pawuhan. Nantinya, isi gunungan itu akan diperebutkan oleh masyarakat yang telah menanti.

2. Tradisi Kirab Ampyang (Kudus)

Selain itu, perayaan unik juga dilakukan masyarakat Kudus, Jawa Tengah dalam peringatan Maulid Nabi. Masyarakat desa Loram Kulon, Jati, Kudus, Jawa Tengah, memiliki tradisi yang dijuluki Kirab Ampyang.

Warga akan mengarak hasil bumi keliling desa, menuju sebuah masjid. Setelah sampai di masjid dan didoakan tokoh setempat, tandu berisi nasi bungkus dan hasil bumi yang telah diarak, dibagikan pada warga.

3. Karesen (Mojokerto)

Warga Mojokerto, Jawa Timur punya cara tersendiri dalam rangka merayakan Maulid Nabi. Masyarakat akan menggelar tradisi Karesan dengan cara perebutan hasil bumi yang digantung di pohon kersen.

Istilah Keresan sendiri berasal dari kata 'kersen' atau pohon kersen. Pohon kersen merupakan jenis yang pohon yang dikenal mampu tumbuh lebat dalam waktu singkat.

Pohon ini memiliki buah kecil berbentuk bulat dan berwarna merah yang bentuk mirip buah ceri. Di daerah lain, pohon kersen juga dikenal sebagai pohon talok.

Hasil bumi disusun secara rapi di bawah kedua pohon kersen tersebut. Hasil bumi tersebut di antaranya nanas, kelapa muda, terong, jagung, nangka, dan lainnya.

Sebagai pelengkap, di 2 pohon tersebut turut digantung sejumlah kebutuhan pokok yang meliputi pakaian, topi, sandal, sepatu, hingga jas hujan.

4. Baayun Maulid (Banjarmasin)

Warga Banjarmasin akan menggelar tradisi Baayun Maulid untuk merayakan Maulid Nabi. Mulai dari bayi hingga orang dewasa akan ikut serta dalam tradisi ini. Mereka telah menyiapkan ayunan yang dihiasi dengan benda-benda tradisi Banjar.

Hiasan yang dipasang juga memiliki makna. Misalnya janur yang disebut ular lidi yang berada di atas ayunan, memiliki makna kebersihan. Simbol itu melambangkan harapan agar orang yang diayun akan selalu senang dengan kebersihan.

5. Tradisi Hias Perahu (Tangerang)

Warga Kali Pasir Tangerang punya cara unik tersendiri dalam memperingati Maulid Nabi. Mereka akan mengemas tausiyah dan pengajian dengan cara mengarak perahu kertas berukuran besar ke aliran sungai Cisadane.

Kurang lebih ada sepuluh perahu kertas yang diarak warga dan dibuat hanya dalam kurun waktu dua sampai tiga hari.

6. Tradisi Bungo Lado (Padang Pariaman)

Satu perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia yang menarik adalah tradisi Bungo Lado di Kabupaten Padang Pariaman. Tradisi Bungo Lado merupakan satu dari representasi masyarakat terhadap kebudayaan Islam. Bungo Lado secara harfiah berarti 'bunga cabai'.

Wujud Bungo Lado adalah pohon hias yang berdaunkan uang atau yang biasa disebut juga pohon uang. Bungo Lado merupakan perwujudan euforia masyarakat dalam menyambut hari lahirnya Nabi Besar Muhammad SAW.

Dalam pelaksanaan Bungo Lado, masyarakat dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menghias pohon masing-masing. Melalui kegiatan menghias pohon tersebut, masyarakat sama saja berlomba dalam kebaikan, yakni menyumbangkan uang yang biasanya digunakan untuk keperluan pembangunan masjid atau kesejahteraan masjid.

Nominal uang yang dipasang pada ranting-ranting pohon mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 100.000. Uang yang terkumpul bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta rupiah setiap pohonnya.

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga