Belajar dari Sate Babi

Belajar dari Sate Babi Penggerebekan pedagang Sate Babi di kawasan Simpang Haru, Kota Padang oleh Tim gabungan, Senin (28/1/2019)(Foto: Istimewa)

Covesia.com - Masyarakat Kota Padang kaget, heran dan tidak habis pikir mengapa ada pedagang sate yang rela mencurangi pelanggan, dan menodai kuliner khas ranah Minang dengan menjual sate daging sapi. Sate KMS B di simpang haru digerebek oleh Dinas perdagangan dan Satpol PP Kota Padang atas tindakan pemalsuan, pembohongan dan pencurangan pelanggan sate yang sudah sangat mashur berasal dari daging sapi, lalu di buatnya dari daging babi. astagfirullahal'adzhim. 

Media sosial dan media mainstrem memuat berita kekesalan, dan kemarahan masyarakat yang dialamatkan kepada pedagang sate KMS B yang curang, jahat dan tidak bermoral itu. Tentu kasus ini merusak tatanan dan nasib pedagang sate yang halal dan baik. Tidak sedikit pula yang memberikan apresiasi dan penghargaan kepada Pemko Padang, c.q Dinas Perdagangan dan Satpol PP Kota Padang yang berani mengungkap kejahatan kemanusiaan pedagang sate daging babi. MUI Kota Padang menyatakan sikap dan himbauan pada umat berkaitan dengan sate daging babi ini. 

SIKAP MUI KOTA PADANG TERHADAP TEMUAN SATE BABI DI PADANG

1. MUI memberikan apresiasi dan penghargaan kepada Dinas Perdagangan Kota Padang dan Satpol atas kinerja menyelamatkan iman umat mencegah penjualan sate babi di Simpang Haru Padang, senen 28 Januari 2019.

2.MUI meminta masyarakat lebih waspada dan meneliti setiap jenis makan, minuman dan kuliner lainnya dari pengunaan menu dari unsur babi, anjing dan material haram lainnya. Jika ditemukan agar dilaporkan pada pihak yang berwajib.

3. Produk makanan dan minuman di Kota Padang dan daerah lainnya di Sumatera Barat pada umumnya halal, kecuali yang memang nyata-nyata haram. 

4. Berkenaan penjaminan kuliner halal untuk umat Islam, BP POM, Dinas Perindag dan pihak terkait lainnya diminta lebih pro aktif melakukan pengawasan dan sidak lapangan.

5. Pihak pedagang dan produsen makanan halal diminta untuk menegakkan akhlak Islam, bersikap jujur, jangan menipu konsumen yang dapat akibat hukum positif pasal penipuan dan dalam Islam penjual (pedagang) yang curang dilaknat Allah (QS. al-Nisa' (4):29) dan Al Baqarah (2): 172 dan 168). 

KULINER HALAL DI PADANG

Sentakkan kasus sate babi di Simpang Haru ini adalah tamparan keras dan sekaligus bahan ajar bagi sikap masyarakat yang mudah percaya, serta lemahnya pengawasan pihak berwajib. Realitas kehidupan di tengah perubahan yang meniscayakan semua orang dapat saja membuka warung, dan outlet makanan, tanpa harus berasal dari kulturnya. 

Rumah makan Padang, pemilik nya bukan orang Padang atau orang Minang itu bukan satu dua lagi. Sate asli kuliner Minang dibuat dan dijual oleh etnis non Minang, yang notabenenya non muslim, langsung atau tidak, itu semua artinya proses "pengicuhan" kultural tengah berlangsung. 

Bahan ajar dari kasus Sate Babi yang harus disadari oleh umat Islam Kota Padang adalah sikap mudah percaya pada kuliner tradisional yang dicurangi oleh pihak yang tak bertanggung jawab dan hanya ingin mendapatkan keuntungan semata. Tidak pula dapat dipungkiri bahwa daya tahan budaya umat Islam Kota Padang dalam pemilihan kuliner adalah wujud dari masih kuatnya kepercayaan pada pedagang, artinya sistim sosial masih kuat dan solid. Sayangnya ada "pihak tertentu" yang menciderai kepercayaan publik dan bisa jadi ini resiko yang harus ditanggung oleh masyarakat yang mudah percaya. 

Materi ajar dari kasus Sate Babi di Kota Padang hendaknya memicu "imam publik" (Pejabat pemilik kewenangan, aparatur pemerintah dan pemimpin masyarakat) dan sekaligus menjadikan kadus ini sebagai momentum untuk meningkat kan komitmen halal ditengah masyarakat.

Ketua MUI Propinsi Sumatera Barat dalam menyikapi temuan sate babi di Padangmenyatakan " Kita akan angkat acara utk ini. Menunggu pelaksanaan UU JPH akan memakan waktu lama karena PPnya sampai hari ini belum juga keluar. Kami harapkan para KETUM MUI Kab/Kota bersiap-siap utk hadir dan membawa data akurat tentang riilnya jaminan halal untuk umat di masing-masing daerah"

Masyarakat meminta pada MUI untuk mengencarkan pelatihan dan pemberian sertifikat halal untuk kuliner tradisional, dan lebih lagi kuliner asing dan atau yang sudah dikemas. Sejatinya, striker halal yang dikeluarkan MUI untuk kuliner tradisional Minang tidak diperlukan, karena semua jenis makanan dan minuman khas Minang diyakini halal, sebab dibuat oleh umat Islam. Sedangkan kuliner impor dan atau olah wajib hukumnya memiliki sertifikat halal. 

Sangat patut menjadi kesadarn dan perhatian masyarakat, lebih lagi aparat pemerintah untuk memastikan kehalalan kuliner yang dijual bebas di pasar tradisional dan pasar moderen. Potensi pencampuran menu haram dari unsur babi, dan anjing, pengunaan material haram, proses pembuatan yang tidak bersih adalah sangat mungkin terjadi, dikarenakan faktor moral dan mentalitas di antara pedagang yang sudah rusak dan bobrok. 

Kuliner yang rentan dan mudah disusupi material haram tidak satu, kini sate babi, pernah ada informasi bakso dari tikus. Kuliner mie, yang namanya tidak mencerminkan etika, seperti mie setan, mie neraka, mie caruik, adalah contoh adanya prilaku aneh dari pedagangnya yang patut di awasi kehalalannya. 

Jaminan halal yang serius sekaĺi untuk dipantau dan dipastikan halalnya adalah penyembelihan sapi, kerbau, kambing, dan ayam, baik yang di rumah potong, di tempat peternakan, di pasar tradisional dan tempat umum yang produk nya dikonsumsi masyarakat. 

Akhirnya publik, dan umat diminta lebih waspada dan hati-hati dalam mengkosumsi makanan dan minuman dengan memastikan kehalalan dan kebaikanya (halalan thayyiban). Pemerintah berkewajiban melindungi umat dari kuliner haram dan merusak diri. Kontrol kuat, dan sanksi tegas aparatur negara terhadap pihak yang memproduk kuliner haram adalah cara efektif melindungi masyarakat dari produk haram. Pedagang diminta jujur, benar dan itiqamah menguatkan iman ketuhanan, jangan kalah oleh godaan uang, untung semata, yang berakibat merusak diri, teman sesama pedagang, lebih lagi membohongi pelanggan yang tak berdosa. Ingat di akhirat kelak pedagang curang akan menanggung dosa kecurangannya dan pelanggan yang dicuranginya.

Duski Samad

Duski Samad ( Ketua MUI Kota Padang )

Berita Terkait

Baca Juga