Prosesi Adat Pernikahan Suku di Mentawai yang Perlu Anda Ketahui

Prosesi Adat Pernikahan Suku di Mentawai yang Perlu Anda Ketahui Foto: Istimewa

Covesia. com - Suku di Mentawai menganut sistem kekerabatan patrilineal dimana garis keturunan diwariskan dari pihak ayah. Dalam prosesnya, keturunan yang hendak menikah perlu melewati beberapa tahap prosesi pernikahan. 

Berikut sejarah / tradisi tahapan menuju pernikahan secara adat yang terjadi di Pulau Siberut khususnya. 

1.Panounou (bertanya).

Pihak laki-laki jika menyukai seorang perempuan dari suku atau uma (rumah adat) lain, langsung memberitahu pada paman-pamannya (kalabai/saudara ibu) atau kepada bibi saudara ayah, dan pantang diketahui oleh orangtuanya. 

Kalau prianya pemalu,  maka akan dijodohkan oleh paman / bibinya kepada seorang wanita. Mereka yang memiliki peran dalam hal mendudukkan pilihan keponakannya. 

Kalau sudah disepakati kerabatnya, mereka akan menjumpai wanita itu di tempat terbuka, ketika sendiri / bersama teman-temannya tanpa diketahui orangtua perempuan dan diberikan pegangan sebagai pengikat seperti kain panjang, kalung (ngalou),gelang (inu), rok perempuan, dan benda lainnya yang dianggap penting. Jika si wanita  menerima simbol pengikat itu, maka kedua belah pihak tidak  boleh menerima atau meminang orang lain. Jika melanggar, akan dikenakan denda (ditulou). 

2.Tahap edukasi

Ketika orangtua sudah mengetahui maka si anak perempuan itu diberikan edukasi / dikader oleh orangtuanya tentang cara memasak, mencari ikan, membuat rajutan (musubba), dan kewajiban lainnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga sampai ia siap secara psikologis bahkan bisa menghabiskan waktu hingga tiga bulan.

3.Panounou

Pihak pria menanyakan kesiapan pihak wanita untuk tahap selanjutnya. 

4.Alak Toga (Membawa calon pengantin wanita) 

Calon mempelai wanita dibawa oleh pihak laki-laki tengah malam dan

sudah disampaikan sebelumnya kepada pihak perempuan. Ia akan membawa tikar, parang,  pendayung, alat-alat pendukung lainnya dalam mencari nafkah ke rumah pihak laki-laki. 

5.Pemberian Mas kawin

Keesokan harinya mereka langsung membicarakan mas kawin. Misalnya 5 ekor babi, durian 5/7 batang, sagu 1 rumpun, kelapa 1 batang, ladang keladi 1 petak dan lainnya yang diminta oleh pihak perempuan. Mas kawin di sini sebagai penghargaan kepada sosok wanita dan ucapan syukur sudah membesarkan wanita itu. Selain itu, melambangkan hasrat keinginan hukum adat sebagai pengganti wanita di dalam clannya agar tidak merusak keseimbangan konsep kehidupan. 

6.Pangureijat (Pernikahan) 

Selanjutnya, pihak perempuan memanggil pihak laki-laki dan calon pengantin perempuan kembali ke tempat orangtuanya.Kemudian mereka dipasangkan pakaian adat Mentawai, aksesori, daun-daunan  kepada kedua mempelai pengantin,  dan diantar secara formal ke lokasi pernikahan dan pihak kerabat perempuan membawa mas kawin balasan kepada pihak laki-laki seperti, babi, ayam, kelapa. 

Uniknya, jika melewati anak sungai, mereka datang melalui sampan dan jika dekat, mereka cukup berjalan kaki diiringi kerabatnya.

7.Punen (Pesta)

Sesampainya di satu uma yang dikepalai kepala suku (sikebbukat uma) tempat pihak pengantin laki-laki tinggal, mereka makan bersama  sebagai ungkapan syukur atas bergabungnya perempuan itu sebagai anggota mereka. Kemudian,  pihak laki-laki  dipanggil ke rumah pihak perempuan dan si perempuan kembali  dilengkapi bekal berumahtangga dari pamannya.Sekira 1 minggu barulah mereka menjalankan hubungan suami istri dan mencari nafkah. 

Demikian sejarah prosesi pernikahan adat Mentawai  di pulau Siberut yang sudah mulai tergerus oleh zaman. Saat ini tidak banyak lagi yang mengikuti tradisi adat pernikahan Mentawai. Biasanya langsung diberkati di gereja. 

Sementara itu Laurensius Saruruk Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Budaya Mentawai menginginkan tradisi adat pernikahan di Mentawai tetap dilestarikan dengan mengombinasikan kondisi sekarang. 

"Sebagai masyarakat adat Mentawai kita perlu melestarikan budaya sebagai identitas kita. Dalam pernikahan sebaiknya kita tetap melakukan tradisi secara adat,  baru kemudian di gereja, dan pengurusan akta di Disdukcapil, " harap Lauren. Kontributor Mentawai: Kornelia Septin Rahayu

Berita Terkait

Baca Juga