Lempar Batu ke Laut, Tradisi Cari Jodoh Etnis Tionghoa yang Sudah Hilang

Lempar Batu ke Laut Tradisi Cari Jodoh Etnis Tionghoa yang Sudah Hilang Ketua panitia Cap Go Meh kota Padang, Hendri Alizar

Covesia.com - Lempar batu ke laut atau ke sungai, merupakan tradisi mencari jodoh bagi etnis Tionghoa yang sudah mulai hilang. Menurut keyakinan, tradisi tersebut diperuntukkan bagi pemuda dan pemudi untuk mencari pasangan hidup.

Hendri Alizar, salah seorang sesepuh etnis Tionghoa di Kota Padang mengungkapkan, perayaan Imlek berlangsung selama 15 hari, Cap Go itu artinya lima belas, dan penghujung perayaan bisanya dijadikan sebagai ajang mencari jodoh. 

"Bagi yang mencari jodoh untuk menikah, menyampaikan harapan dengan cara melempar batu ke laut. Tradisi lempar batu ke laut, makin lama, makin tidak terlihat," ujar Hendri Alizar, Selasa, (5/2/2019). 

Hal yang sama juga diungkapkan oleh  Sekretaris Perhimpunan Keluarga Tjoa Kwa, Petrus Hendra. Menurutnya, etnis Tionghoa belajar kepada alam, hampir sama dengan kebiasaan orang Minangkabau yang belajar kepada alam. 

Tradisi lempar batu ke laut juga mencerminkan hal demikian, sifat laut itu menelan semua yang baik dan yang buruk. Sebelumnya orang melempar batu untuk mencari jodoh ke sungai, kemudian ada juga yang di laut. 

"Jadi, lempar batu itu melempar semua harapan ke laut. Siapa tau, batu yang dilemparkan (muda-mudi) bertemu di laut dan mereka berjodoh," katanya.

Di era 70 hingga 80-an, tradisi tersebut masih dijumpai di pantai Padang, namun belakangan ini sudah mulai ditinggalkan. "Sepuluh tahun terakhir sudah mulai jarang sekali," sebutnya.

(dil/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga