"The Ma’ruf Amin Way', Spirit Membangun Ekonomi Berkeadilan

The Ma’ruf Amin Way Spirit Membangun Ekonomi Berkeadilan Ilustrasi

Covesia.com - Buku The Ma’ruf Amin Way: Ekonomi Keadilan, Keumatan, dan Kedaulatan Menuju Kesejahteraan terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2019, ini berisi tentang gagasan besar KH. Ma’ruf Amin tentang pentingnya penegakan ekonomi keadilan, keumatan, kedaulatan, kemitraan, dan redistribusi aset di Indonesia. 

Gagasan besar tersebut kemudian diperkokoh dan dipertajam oleh dua sahabat beliau sekaligus penulis buku ini yakni Sahala Pangabean dan Anwar Abbas. Keduanya adalah pelaku koperasi dan penggerak organisasi kemasyarakatan yang memiliki perhatian besar terhadap ekonomi keumatan.

Buku ini ditulis berangkat dari kegelisahan intelektual KH. Makruf Amin terhadap tingginya ketimpangan kepemilikan asset, dan merajalelanya praktik ekonomi yang tidak berlandaskan nilai-nilai moral. 

Hal ini selain dapat dipahami dari bukunya, juga sering termuat dalam ceramah-ceramah dan forum-forum ilmiah yang diikutinya. Buku beliau yang lain yang telah launching 2008 yang lalu adalah "Fatwa dalam Sistem Hukum Islam", "Melawan Terorisme dengan Iman" dan "Prospek Cerah Perbankan Islam".

Berbicara tentang kesenjangan kepemilikan aset (kekayaan) ini, menarik ilustrasi yang dikemukakan oleh Anwar Abbas yang juga merupakan salah seoran penulis buku ini, bahwa struktur masyarakat Indonesia secara ekonomi cenderung seperti piramida, yang terdiri dari bagian atas yang sangat kecil, tengah yang juga kecil, dan bawah yang sangat besar. Kesenjangan antara yang kaya dengan yang miskin sangat terjal. Idealnya  struktur tersebut menurut Abbas, tidak seperti piramid itu, melainkan seperti belah ketupat, bagian atas 2%, bagian , tengah 95%, dan bagian bawah 3%.  

Untuk mencapai ini menurut KH. Makruf Amin hendaklah dengan mengembangkan konsep ekonomi keumatan. Artinya, perekonomian mulai dibangun dari masyarakat menengah ke bawah, tidak dari atas lalu diteteskan ke bawah. Menurutnya perekonomian Indonesia yang masih tertahan merupakan turunan dari sistem ekonomi era lama yang menggunakan tricle-down effect atau sebagaimana yang disebutkan di atas “efek menetes ke bawah”.

Buku ini hemat penulis memiliki sistematika yang sangat baik, terdiri dari tiga bagian ditambah dengan prolog dan epilog. Pada bagian pertama berisi tentang Indonesia menuju tahun 2030, yang terdiri dari sub bahasan the miracle of Indonesia Ekonomy, The Big Shift, dan The Syaria Trend. 

Bagian Kedua, berisi tentang The Ma’ruf Amin Way: Sebuah terobosan, yang terdiri dari sub bahasan ekonomi berkeadilan, ekonomi keumatan, ekonomi berkemandirian. Sedangkan bagian ketiga berisi tentang The Ma’ruf Amin Way In Action yang terdiri dari Cooperative Movement, Pondok Pesantren as Center of Exellen, dan UMKM Goes Digital. Sedangkan prolog buku ini berjudul The Ma’ruf Amin Way sebagai jalan kesejahteraan. Sementara epilognya berjudul Menuju Kemakmuran Bersama.  

Menurut buku setebal 313 halaman ini, untuk menghilangkan ketimpangan ekonomi dan untuk kemajuan ekonomi Indonesia ke depan dapat dicapai dengan mengedepankan asas keadilan, keumatan (demokrasi ekonomi), dan kedaulatan. Asas keadilan itu menurut Ma’ruf Amin, didasari oleh ekonomi moral (moral economi), yang memiliki spirit nilai-nilai keagamaan, kemanusiaan, dan keadilan sosial (social justice). Selain itu, ekonomi harus dikelola untuk kemaslahatan bersama. 

Sedangkan ekonomi keumatan berarti ekonomi yang dibangun dengan semangat ekonomi kerakyatan (demokrasi ekonomi) sehingga berpihak kepada rakyat. Menurut KH Ma’ruf Amin tata kelola ekonomi harus berlandaskan semangat kebersamaan (mutualism), kekeluargaan (gotong royong), semangat persaudaraan (brotherhood/ukhuwah), dan kerjasama (corporation/ta’awun), bukan perekonomian yang saling menyingkirkan (free fight liberalism) dan kompetisi yang tidak saling menguntungkan (zero-sumgame). 

Sedangkan pola pebangunan yang diharapkan adalah pola pembangunan dari bawah (bottom up economies development), bukan sebaliknya  yakni tricle-down effect atau efek menetes ke bawah. Dengan demikian, ekonomi arus bawah akan menghasilkan pemerataan untuk pertumbuhan (equity for growth).

Adapun kedaulatan ekonomi, menurutnya berisikan semangat nasionalisme ekonomi yang memegang prinsip kemadirian dan memberdayakan yang lemah agar memiliki daya saing. Dalam redestribusi asset yang merupakan salah satu prinsip kedaulatan ekonomi, KH. Ma’ruf Amin mengatakan pentingnya “Mari Bung rebut kembali”.  Ini adalah spirit bagaimana asset yang hanya hanya dikuasai oleh segelintir orang perlu direstrebusikan  agar rakyat memiliki kedaulatan untuk memperjuangkan nasibnya.

Kemudian yang menarik dari buku ini adalah secara substansial tidak hanya berisi tentang teori dan konsep pengembangan ekonomi di Indoenesia, juga berisikan tentang wujud praktik dari gagasan penulisnya yang dalam buku ini disebut sebagai The Ma’ruf Amin Way in Action. 

Berkenaan dengan ini ia memaparkan pentingnya menggerakkan koperasi untuk mendorong keuangan inklusif atau kemajuan bisnis UMKM. Ia juga menjelaskan bagaimana pesantren dapat menjadi center of excellence atau inkubasi bisnis bagi santri dan bagi masyarakat. Sedangkan berkenaan dengan unit usaha desa, Ma’ruf Amin Way in Action mendorong untuk memanfaatkan platform on line. Pemanfaatan teknologi digital ini diharapkan akan dapat memperluas akses pasar,  dari pasar lokal menjadi pasar internasional. 

Meski penulisnya tidak secara eksplisit menyebut bahwa konsepkonsep ekonomi yang dikembangkannya berangkat dari prinsip-prinsip syari’ah, keulamaan KH Makruf Amin menjadikan karyanya ini sangat syarat dengan prinsip-prinsip syariah. Apa yang disebutnya sebagai  asas keadilan, keumatan (demokrasi ekonomi), dan kemandirian (daya saing), merupakan prinsip-prinsip ekonomi yang diajarkan oleh alquran dan hadis-hadis rasul.

Secara keseluruhan buku ini sangat menarik untuk dibaca, tidak hanya oleh praktisi juga oleh akademisi. Lebih dari itu buku ini berisi spirit yang sangat kuat untuk membangun ekonomi yang berkeadilan, keumatan, dan kedaulatan menuju kesejahteraan, sebagaimana yang ditulis dalam anak judulnya. Makruf Amin sendiri menyebutnya sebagai arus baru ekonomi Indonesia.

(lif)

Dr. H. Ismail, M.Ag

Dr. H. Ismail, M.Ag ( Direktur Pascasarjana IAIN Bukittinggi )

Berita Terkait

Baca Juga