Tulou, Hukum Adat Mentawai yang Masih Eksis di Zaman Millenial

Tulou Hukum Adat Mentawai yang Masih Eksis di Zaman Millenial Ilustrasi Masyarakat adat Mentawai (youtube)

Covesia. com - Kabupaten Kepulauan Mentawai bak surga tersembunyi di belahan barat Sumatera, memiliki adat istiadat yang unik dan berbeda dari daerah lainnya, begitupun dalam hal hukum adat. 

Di Pulau Siberut Mentawai dikenal dengan adanya adat Tulou atau kesepakatan yang diturunkan dari para leluhur hingga saat ini.

Tulou merupakan hukum yang mengikat manusia karena telah melakukan tindakan yang melanggar hukum adat dengan memberi denda kepada si pelaku. 

Pemberian Tulou atau berat denda yang diberikan kepada si pelaku berbeda-beda tergantung kasus yang menjeratnya. Denda tersebut berupa harta benda yang harus diberikan kepada pihak yang merugi, seperti menyerahkan lahan cengkeh, tanah sekian hektar, ternak babi, kuali, periuk, dan harta benda lainnya.

Adapun pelanggaran yang dimaksud seperti kasus pencurian, asusila, kekerasan, pembunuhan, dan lainnya. Dalam hal ini, aparat penegak hukum seperti Kepolisian memberikan kelonggaran bagi pelanggaran hukum yang masih bisa ditolerir untuk diselesaikan secara kekeluargaan atau secara hukum adat. Namun, bila menyangkut tindakan kriminal yang berat maka aparat kepolisian berwenang menyeretnya ke hukum negara. 

Sementara di wilayah pulau Sipora dan Pagai Mentawai, adat tulou jarang ditemukan dan sudah mengalami transisi ke arah modernisasi. Akibat adanya Tulou yang melekat di pulau Siberut, terutama pada masyarakat pedalaman, 

muncul paradigma dari warga pulau lainnya takut berjodoh dengan keturunan dari pulau Siberut. Padahal, tulou

Menurut Matheus Samalinggai, Kepala Bidang Pemasaran dan Promosi Disparpora Mentawai, tujuannya untuk mengatur hidup masyarakat agar berjalan aman dan tidak terjadi pelanggaran hukum. Kendati demikian, Ia  menilai Tulou tersebut ada sisi baik dan buruknya. 

"Sisi positifnya, tulou dapat mengatur hajat hidup orang banyak, terutama agar orang tidak berbuat semena-mena yang melanggar hukum adat di Mentawai. Sisi negatifnya, terlalu banyak jumlah denda yang dipatokkan sehingga perekonomian orang yang ditulou melemah drastis, " tutur Matheus kepada covesia, minggu (03/03/2019). Kontributor Mentawai: Kornelia Septin Rahayu 

Berita Terkait

Baca Juga