Islamophobia dan Aksi Teror di Selandia Baru

Islamophobia dan Aksi Teror di Selandia Baru Foto: Istimewa

Covesia.com - Dunia baru saja disentakkan oleh aksi brutal beberapa orang pemuda di masjid Al Nur, Crist hurch, Selandia Baru. 

Dengan sangat biadab, dia tembakkan senjata semi otomatisnya ke arah jamaah salat Jumat di masjid tersebut. Tak kurang dari 49 nyawa melayang dan 48  lainnya luka-luka. 

Tindakan tersebut tentu saja mengundang kecaman dari berbagai  kalangan di seluruh penjuru dunia, mulai dari kepala negara sampai ke kalangan agama dan rakyat biasa.

Menurut Dien Syamsuddin, Presiden of Asian Conference on Relegions for Peace (ACRP), aksi teror tersebut adalah tindak kekerasan ekstrem (violence exstremism dan bentuk islamophobia (sikap kebencian dan ketakutan terhadap semua hal yang berbau Islam) yang tidak beralasan, serta hanya dilakukan oleh orang yang tidak berpriketuhanan dan berperikemanusiaan. 

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Raja Salman, bahwa pembantaian keji yang menargetkan jamaah masjid adalah tindakan terorisme. 

Begitu juga pandangan para pemimpin dunia dan lembaga HAM bahwa serangan teror yang mengerikan di Masjid kembar di Christchurch Selandia Baru, dimana teroris telah menewaskan puluhan orang dan melukai puluhan orang lainnya adalah dampak dari pembiaran sikap kebencian terhadap Islam (islamophobia) di Barat. 

Kecendrungan mengideologikannya, telah memicu lahirnya tindakan teroris terhadap kaum muslim di berbagai negara. 

Apa yang dilakukan oleh Brenton Tarrant, yang ditangkap dan ditenggarai sebagai pelaku dalam pembunuhan biadab tersebut, menunjukkan bahwa phobia Islam itu tetap hidup di kalangan pemuda Barat. 

Bahkan dalam manivestonya, Brenton Tarrant memuji Donald Trump sebagai simbol identitas kulit putih. Pujian ini diperkirakan muncul karena Trump menjadikan sentimen agama dalam kampanyenya ketika memenangkan pemilihan presiden beberapa waktu lalu.

Agar tak muncul tindakan-tindakan biadab sebagaimana yang terjadi di masjid Al Nur di atas, Barat harus secara jentel merubah sikap dan pandangannya terhadap Islam. 

Sebagaimana pernyataan resmi badan PBB yang menangani Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan/UNESCO bahwa Islam adalah agama yang paling damai di dunia (Islam is the most peaceful relegion of the world). 

Pernyataan tersebut, kata Robert McGee, kepala studi Banding Peace Foundation Internasional, kami sampaikan di hadapan UNESCO, setelah melakukan analisis dan studi ketat selama enam bulan. 

Bila Barat tak merubah pandangannya terhadap Islam, apalagi menjadikan islamophobia sebagai ideologi, saya yakin teror-teror biadab semacam ini akan kembali terjadi di waktu dan tempat yang berbeda.

(lif)

Dr. H. Ismail, M.Ag

Dr. H. Ismail, M.Ag ( Dekan Fakultas Syariah IAIN Bukittinggi )

Berita Terkait

Baca Juga