Dinamika Komunikasi Menjelang Pemilu

Dinamika Komunikasi Menjelang Pemilu Ilustrasi (Ist)

Covesia.com - Dinamika komunikasi menjelang pemilu cendrung meningkat, tidak saja di media sosial, media mainstream terutama televisi, di warung-warung kopi pun juga tak kalah, bahkan perbincangannya sampai juga merambah ke surau-surau. Mereka saling adu argumen, berbagai macam respon mereka tunjukkan, diantara mereka bersikap emosional, kasar dan tempramen, tidak mau kalah, apapun alasannya akan selalu mereka cari demi terpilihnya kandidat yang mereka dukung. Tak jarang alasan yang mereka kemukakan saat mempertahankan argumen, mengangkangi akal sehat, tak peduli yang penting sang kandidat mesti menang. Berbagai macam propaganda dilakukan oleh aktor-aktor politik. Mulai dari White Propaganda sampai pada black propaganda, counter attack untuk propaganda tersebut dilakukan oleh masing masing pihak yang berseberangan. Mereka tampil di talkshow-talkshow televisi, saling serang dan menjatuhkan. Dan diantara perdebatan mereka, ada yang dimeja hijaukan. 

Di media sosial, dinamika komunikasi cukup panas, diantara mereka saling menghinakan, hal ini terlihat dari istilah yang mereka pakai untuk para pendukung peserta pilpres. “Cebong” dan “kampret” adalah istilah yang dipakai oleh mereka yang berseberangan. Istlah-istilah ini adalah istilah kasar. Istilah ini dikemukakan adalah untuk meluapkan kekesalan. Barang kali bagi mereka yang terlibat diskusi, menganggap dialektika yang terjadi adalah sesuatu yang bisa-biasa saja, karena bahasa adalah soal rasa. Bila seseorang terbiasa dengan ucapan-ucapan kasar, maka ucapan-ucapan kasar itu tidak lah lagi terkesan kasar bagi mereka. Disini terjadi pergeseran makna oleh mereka terhadap kata-kata itu. Beda halnya bagi mereka yang hidup dalam lingkungan yang dipenuhi oleh tata krama, sopan santun, dan tenggang rasa yang tinggi, terkadang ucapan sindiran sudah cukup menyayat qalbunya. Apakah lagi ungkapan kasar. Tentu akan dibilang tidak beradat dan bersopan. 

Di sisi lain, bila ditilik dari pesepsi dunia pendidikan, dinamika komunikasi seperti ini sangat tidak mendidik. Berdasarkan Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013, sasaran pembelajaran mencakup kepada tiga aspek pengembangan yaitu ranah sikap (attitude), pengetahuan (Knowledge), dan keterampilan (skill). Aspek yang dilabrak oleh dinamika komunikasi yang terjadi saat ini adalah aspek ranah sikap (attitude). Kita tidak bisa memungkiri bahwa pelajar-pelajar kita, remaja dan masyarakat, banyak yang aktif di media sosial. sebuah penelitian yang dilakukan oleh We Are Social dan Hootsuite, terungkap bahwa masyarakat Indonesia sangat gemar mengunjungi media sosial. Tercatat, setidaknya ada sekira 130 juta masyarakat Indonesia yang aktif di berbagai media sosial, mulai dari Facebook, Instagram, Twitter dan lainnya (sumber : https://techno.okezone.com/read/2018/03/13/207/1872093 ). Mereka akan selalu memantau apa yang terjadi dan berkembang di dunia maya tersebut. Bila yang mereka baca adalah ungkapan-ungkapan kasar dan kotor yang selalu tampil tiap hari di beranda akun-akun media sosial mereka. Bisa kita bayangkan betapa masifnya virus-virus tersebut merusak sikap (attitude) generasi muda bangsa kita ini. Usia remaja adalah usia yang masih labil, mereka akan dengan sangat mudah meniru dan mencobakan sesuatu termasuk kata-kata kasar. 

Tidak cukup sampai disitu, ulama-ulama panutan umat juga banyak yang terseret mengikuti arus gelombang perpolitikan ini. Diantara mereka saling sindir, bila ada perkataan mereka yang terpeleset maka perkataan itu akan menjadi gorengan di media sosial. Umpatan terhadap mereka tak bisa terbendung. Wibawa dan marwah mereka tergadaikan, kharisma mereka dihancurkan oleh mereka yang berseberangan. 

Demikianlah kurang lebih suasana dinamika komunikasi yang ada di tengah masyarakat saat ini menjelang pemilu. Perlu kiranya kehadiran sesosok tokoh panutan untuk mereda dinamika komunikasi ini. Supaya persoalannya tidak membengkak, kemudian membengkak dan akhirnya pecah. Yang rugi tentu kita semua. Bangsa kita, yaitu Indonesia. Kita semua tentunya cinta Indonesia, tumpah darah kita. Tidakkah terbayang oleh kita, betapa pahitnya perjuangan pahlawan kita mengusir penjajah tempo dulu, mungkin kita tidak hadir bersama mereka saat perjuangan itu, setidak nya kita tahu lewat buku-buku sejarah perjuangan mereka. Cerita-cerita kakek nenek kita, yang kala itu untuk makan nasi saja sangat sulit.

Negara kita sedang menanti kehadiran negarawan sejati seperti halnya Bung Hatta, yang tak silau pangkat dan jabatan. Negara kita sedang menanti sosok pengganti Buya Hamka, yang rela dipenjara demi mempertahankan prinsip kebenarannya, meski setelah itu dia memaafkan setiap orang-orang yang menzaliminya, kita juga kagum dengan kenegarawanan haji Agus Salim yang tak terpukau harta, meski menjabat menteri. Bahkan beliau rela tinggal di rumah kontrakan, itu semua mereka lakukan demi bangsa. Demi kita anak cucunya. Sungguh kita tidak rela terpecah belah, sungguh kita tidak rela kehilangan ukhuwah, hanya demi merebut kekuasaan, pangkat dan jabatan.


Ade Dasrial

Ade Dasrial ( Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Unand )

Berita Terkait

Baca Juga