Upaya Penanganan Anak dengan Gangguan Autis Menuju Kemandirian

Upaya Penanganan Anak dengan Gangguan Autis Menuju Kemandirian Ilustrasi

Covesia.com - Dalam kehidupan sehari-hari manusia membutuhkan komunikasi yang baik antar orang-orang yang ada disekitar atau sekelingnya. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna dibandingkan dengan yang lainnya.

Manusia hidup bermasyarakat dan saling berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri, pasti saling membutuhkan satu sama lain.

Oleh karena itu manusia tersebut membutuhkan pergaulan yang baik, dan dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, dengan tujuan agar dapat terciptanya hubungan yang baik diantara mereka.

Adaptasi dan proses berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari sangat diperlukan.Karena apabila seseorang tidak dapat berinteraksi dengan baik, dan tidak dapat beradaptasi dengan yang lainnya maka ia tidak dapat menjalani kehidupannya dengan baik juga.

Keluarga memiliki posisi sentral dalam hal konvensi hak pada anak. Maka anak-anak yang hidup dan berkembang di luar keluarganya sendiri berhak mendapatkan keluarga baru atau lembaga asuh pengganti agar mereka tetap bisa berkembang sebagaimana layaknya anak-anak yang hidup dalam keluarganya yang asli.

Bagaimanapun juga anak-anak sangat bergantung pada orang dewasa karena pola asuhnya dapat membentuk kepribadian individu bagi mereka (Candra Gautama,2000). 

Keadaan anak-anak yang mengalami gangguan autis saat ini di masyarakat kelompok menengah kebawah sangat memprihatinkan. Selain itu fenomena saat ini banyak orang tua yang memiliki anak yang mengalami gangguan autis namun tidak menyadari bahwa anaknya mengalami gangguan autis.

Menurut leo kanner (1943), istilah autisme berasal dari kata “autos” yang berarti diri sendiri dan “isme” yang berarti suatu aliran, autis berarti suatu paham yang tertarik hanya pada dunianya sendiri.

Autis juga berarti suatu keadaan dimana seseorang anak berbuat semaunya sendiri baik cara berfikir maupun berperilaku, kedaan ini biasanya terjadi sejak usia masih balita dan biasanya terjadi sekitar usia 2-3 tahun.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Sumatera Barat (Sumbar) yang disampaikan oleh Bapak Mahyeldi Ansharullah, S.P.(2017), jumlah anak berkebutuhan khusus mencapai 6.133 orang.

Rinciannya, 124 tunanetra, 897 tunarunggu, 3.437 tunagrahita dan 195 tunadaksa. Selain itu, 128 tunalaras, 798 autis, 159 Attention Deficit Hyperactivity Disorder dan 395 orang kesulitan belajar.

Kementerian Kesehatan menyebutkan, jumlah anak autis cukup tinggi di Indonesia. Penderita autis di Indonesia sampai tahun 2004 telah mencapai angka 700 orang (Deskes,2004 dalam fasya, 2005).

Setiap tahunnya, jumlah tersebut diyakini mengalami pertumbuhan 5%. Jika mengikuti hitungan tersebut, maka pada tahun 2007, jumlah penderita autis mencapai 8.500 orang (Fasya,2005). Instalasi kesehatan sekitar 15% anak mengalami autisme dari 6.600 anak dalam tiga bulan pada tahun 2013.

Data dari RS Jiwa Heerdjan menunjukkan dari 15% anak autis yang ditemukan, paling banyak dialami anak laki-laki (86,9%) daan perempuan (13,1%). Jumlah ini paling banyak pada kelompok usia 5-9 tahun di usia 10-14 tahun (Syarifah,2014).

Di Indosesia meski belum ada penelitian resmi, menurut Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan. Diperkirakan ada sekitar 112.000 anak dengan gangguan spektrum autisme dengan rentang usia antara 5-19 tahun.

Dengan perkiraan jumlah tersebut, tentu saat ini cukup banyak keluarga di Indonesia yang hidup dengan anak gangguan spektrum autisme. Di Sumatera Barat, jumlah penderita autis berdasarkan data dari Badan Penelitian Statistik (BPS) sejak 2010 hingga 2015, terdapat sekitar 140.000 anak usia dibawah 17 tahun menyandang autisme.

Di Kota Padang telah tersebar 5 sekolah khusus autis dengan jumlah siswa 283 siswa (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat,2016). 

Kemandirian menjadi kata kunci bagi anak-anak autis. Demikian dikatakan oleh Tri Budi Santoso, seorang terapis okupasi pemilik Budi Center yang menyelenggarakan Pelatihan Aquatik Sensory Integration Pada Anak Berkebutuhan Khusus  di Hotel Kusuma Sahid, Jumat (10/4/2015). Di hadapan 28 peserta yang berasal dari Makasar, Balikpapan, Berau (Kalimantan Timur), DKI Jakarta dan Surakarta. 

“Kita mengacu kepada WHO, Life Participation. Ada life skill, ada komunikasi dua arah, dan interaksi sosial. Indonesia tidak ada Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)  untuk anak-anak autis, Parkinson, Cerebral Palsy. Orang awam akan bilang kalau anak-anak berkebutuhan khusus tersebut hanya akan tinggal di rumah. Kita para terapis akan arahkan kemandirian,”tutur Tri Budi Santoso.

Pelatihan mengambil contoh dan testimoni dari orangtua autis yang diwakili oleh Agnes Widha, pegiat komunitas MPATI Solo. Agnes menyatakan bahwa banyak orangtua menuntut prestasi akademik tapi mengabaikan kemandirian. Dalam mendidik putranya, Elfram Gryffindor, Agnes membentuk  kemandirian dulu baru beralih ke prestasi akademik.

Tri Budi Santoso mengatakan hal-hal yang dilakukan dalam mendidik anak autis adalah drilling, fundamental aspek dan kontekstual. Fundamental aspek meliputi bagian mana yang sangat perlu ditambahi perilakunya misalnya hiperaktifnya. Sedangkan kontekstual adalah mencari keserasian dan kecocokan pada anak autis, misalnya dia berbakat di mana.

Disinggung tentang pelatihan aquatic sensory integration, Tri Budi Santoso mengatakan bahwa fungsinya untuk mengintegrasikan sistem sensori.  Program ini efektif untuk anak dengan kondisi trauma, kondisi ortopedi, gangguan jaringan tulang dan otot, gangguan neuorologis, dan perkembangan  serta  gangguan pengolahan sensori.

Bagi anak autis sistem sensori  akan bisa maksimal sesuai perkembangan anak dan  intinya untuk meningkatkan konsentrasi bermain, komunikasi dua arah dan perilaku adaptif. “Sehingga  jika tingkat konsentrasi anak meningkat nanti akan berpengaruh kepada interaksi sosial dan komunikasinya,”pungkasnya.

Hakikat Anak Autis

Istilah anak berkebutuhan khusus merupakan istilah terbaru yang digunakan dan merupakan terjemahan dari child with specials needs yang telah digunakan secara luas di dunia internasional.

Ada beberapa istilah lain yang pernah digunakan diantaranya anak cacat, anak tuna, anak berkelainan, anak menyimpang dan anak luar biasa.

Ada satu istilah yang berkembang secara luas telah digunakan yaitu difabel, sebenarnya merupakan pendekatan dari difference ability. Penggunaan istilah anak berkebutuhan khusus membawa kosekuensi cara pandang yang berbeda dengan istilah anak luar biasa yang pernah digunakan dan mungkin masih digunakan.

Jika pada istilah luar biasa lebih menitik beratkan pada kondisi (fisik, mental, emosi-sosial) anak, maka pada berkebutuhan khusus lebih pada kebutuhan anak untuk mencapai prestasi sesuai dengan prestasinya.

Autis merupakan suatu kelainan neurologis yang sering kali mengakibatkan ketidakmampuan interaksi komunikasi dan sosial (Smith, 1998:150). Pada umumnya kelainan neurologis ini terjadi pada tiga bulan pertama masa kehamilan, hal tersebut terjadi apabila sel-sel didalam otak janin tidak dapat tumbuh secara sempurna.

Sedangkan menurut Hardiono mengatakan bahwa gejala pada gangguan autistik sangat bervariasi dari anak ke anak. Tidak semua anak menunjukkan gejala yang sama jenisnya, dan tidak semua anak menunjukkan gejala sama berat.

Anak berkebutuhan khusus ini memiliki apa yang disebut dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan (barier to learning and development). Oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang dialami oleh masing-masing anak.

Secara umum rentangan anak berkebutuhan khusus meliputi dua kategori yaitu:

  • anak yang memiliki kebutuhan khusus yang bersifat permanen, akibat dari kecacatan tertentu (anak penyandang cacat), seperti anak yang tidak bisa (tunanetra), tidak bisa mendengar ( tunarungu), anak yang mengalami cerebral palsy.
  • anak berkebutuhan khusus bersifat temporer.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa anak berkebutuhan khusus termasuk anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan perilakunya dalam interaksi komunikasi dan sosial.

Penanganan Anak Autis

Gejala dan tingkat keparahan autisme dapat berbeda pada tiap penderitanya. Pada penderita autisme dengan gejala yang ringan, aktivitas sehari-hari masih dapat dilakukan dengan normal. Tetapi bila gejala tergolong parah, penderita akan sangat membutuhkan bantuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Gejala yang muncul adalah terkait dengan cara penderita berkomunikasi dan berinteraksi. Sekitar 80-90% penderita, mulai menampakkan gejala pada usia 2 tahun. Pada kasus yang jarang, gejala autisme nampak pada usia di bawah 1 tahun atau baru muncul setelah penderita beranjak dewasa.

Penyebab Anak Autis

Pertama genetik. Ada bukti kuat yang menyatakan perubahan dalam gen berkontribusi pada terjadinya autisme. Menurut National Institute of Health, keluarga yang memiliki satu anak autisme memiliki peluang 1-20 kali lebih besar untuk melahirkan anak yang juga autisme.

Penelitian pada anak kembar menemukan, jika salah satu anak autis, kembarannya kemungkinan besar memiliki gangguan yang sama. Secara umum para ahli mengidentifikasi 20 gen yang menyebabkan gangguan spektrum autisme. Gen tersebut berperan penting dalam perkembangan otak, pertumbuhan otak, dan cara sel-sel otak berkomunikasi. 

Kedua pestisida. Paparan pestisida yang tinggi juga dihubungkan dengan terjadinya autisme. Beberapa riset menemukan, pestisida akan mengganggu fungsi gen di sistem saraf pusat. Menurut Dr Alice Mao, profesor psikiatri, zat kimia dalam pestisida berdampak pada mereka yang punya bakat autisme. 

Ketiga obat-obatan. Bayi yang terpapar obat-obatan tertentu ketika dalam kandungan memiliki risiko lebih besar mengalami autisme. Obat-obatan tersebut termasuk valproic dan thalidomide.

Thalidomide adalah obat generasi lama yang dipakai untuk mengatasi gejala mual dan muntah selama kehamilan, kecemasan, serta insomnia. Obat thalidomide sendiri di Amerika sudah dilarang beredar karena banyaknya laporan bayi yang lahir cacat.

Namun, obat ini kini diresepkan untuk mengatasi gangguan kulit dan terapi kanker. Sementara itu, valproic acid adalah obat yang dipakai untuk penderita gangguan mood dan bipolar disorder. 

Keempat usia orangtua makin tua. Usia orangtua saat memiliki anak, makin tinggi risiko si anak menderita autisme. Penelitian yang dipublikasikan tahun 2010 menemukan, perempuan usia 40 tahun memiliki risiko 50 persen memiliki anak autisme dibandingkan dengan perempuan berusia 20-29 tahun.

"Memang belum diketahui dengan pasti hubungan usia orangtua dengan autisme. Namun, hal ini diduga karena terjadinya faktor mutasi gen," kata Alycia Halladay, Direktur Riset Studi Lingkungan Autism Speaks. 

Kelima perkembangan otak. Area tertentu di otak, termasuk serba korteks dan cerebellum yang bertanggung jawab pada konsentrasi, pergerakan dan pengaturan mood, berkaitan dengan autisme. Ketidakseimbangan neurotransmiter, seperti dopamin dan serotonin di otak juga dihubungkan dengan autisme.

Penanganan Anak Autis

Bagi pemerintah diharapkan dapat memberikan sosialisasi yang lebih luas mengenai autis ke semua kalangan masyarakat, sehingga tidak lagi ada kesalahpahaman apa itu autis dan bagaimana menangani penderita autis serta dapat mengurangi jumlah penderita autis yang semakin meningkat.

Selain itu diharapkan agar pemerintah lebih memperhatikan anak-anak berkebutuhan khusus dengan cara mendirikan fasilitas-fasilitas penunjang perkembangan sehingga dapat dijangkau oleh kalangan manapun.

Meningkatnya jumlah anak autis di Indonesia, seharusnya semakin membuka mata bagi masyarakat agar tidak memandang sebelah mata anak-anak mengalami gangguan autis. 

Sementara, bagi keluarga yang memiliki anak autis lebih baik untuk melakukan penanganan intensif dan tidak tertutup atau menutup diri. Hal ini berguna agar anak dapat bersosialisasi dan mengenal lingkungan luar selain keluarganya.

Anak autis bukanlah anak yang harus dijauhi atau disembunyikan melainkan sama halnya seperti anak-anak lain. Anak autis memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan disekolah regular pada umumnya setelah melalui berbagai proses terapi dan edukasi.

Dan bagi yayasan yang memiliki program khusus dalam menangani anak berkebutuhan khusus, perlunya peningkatan pelayanan baik dalam terapis maupun edukasi yang diberikan kepada penderita autis.

Oleh karena itu hendaknya yayasan lebih meningkatkan program terapi yang lebih baik dan layanan edukasi yang lebih baik agar penderita autis lebih cepat mengalami perkembangan dalam proses penyembuhan.

(lif)

Mutiara Syafni

Mutiara Syafni ( Mahasiswi Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Negeri Padang )

Berita Terkait

Baca Juga