Tradisi Barantam, Cara Bergotong Royong Membeli Daging Sambut Idul Fitri di Agam

Tradisi Barantam Cara Bergotong Royong Membeli Daging Sambut Idul Fitri di Agam Tradisi Barantam di Kabupaten Agam ( Foto: Johan/ Covesia)

Covesia.com - Kuliner berbahan dasar daging kerap ditemukan di setiap rumah saat Hari Raya Idul Fitri, bahkan jika ada rumah yang tidak menyuguhkan randang saat ada yang bertamu akan menjadi buah bibir tetangga, begitu tidak punya uangkah sampai tidak sanggup membeli daging?

Kebiasan itulah yang membuat masyarakat  selalu berupaya untuk mendapatkan potongan daging saat hari raya idul fitri, yang Penting ada  walau hanya untuk sekali makan. Berbagai cara pun dilakukan, ada yang membeli ke pasar, bagi keluarga besar dengan taraf ekonomi menengah ke atas mereka akan membeli hewan ternak dan memotongnya sendiri.

Di Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) ada cara unik masyarakat untuk mendapatkan daging hewan ternak yaitunya dengan tradisi "barantam" yakni menyembelih sapi secara berkelompok kemudian dagingnya dibagi rata.

Di sebagian besar daerah Agam, tradisi itu masih hidup hingga saat ini salah satunya di Nagari Garagahan, Kecamatan Lubuk Basung.

Salah seorang tokoh masyarakat setempat B St Zahar mengatakan, tradisi barantam itu sudah turun temurun dari nenek moyang dahulunya, pada 15 hari menjelang lebaran, kelompok barantam sudah mulai dibentuk, dalam satu regu beranggotakan 50 sampai 70 orang.

"Saat pembentukan kelompok disepakati berapa harga sapi yang akan dibeli sekaligus harga daging per onggok, biasanya setiap anggota berpatungan antara Rp 300ribu hingga Rp 400ribu untuk mendapatkan satu onggok daging,"  ujarnya saat di konfirmasi Covesia.com, Selasa ((4/6/2019).

Saat uang sudah terkumpul, panitia barantam akan pergi ke pasar ternak untuk mendapatkan hewan yang akan disembelih, kemudian  proses penyembelihan dilakukan satu hari menjelang lebaran.

"Penyembelihan dilakukan pada pagi hari, bisanya ibu-ibu dirumah sudah mempersiapkan bumbu, karna menjelang siang daging sudah dibawa pulang, pada sore harinya aroma masakan rendang akan tercium di setiap sudut rumah," lanjutnya.

Menurut B St Zahar, banyak keunggulan yang didapat dari membeli daging melalui sistem barantam, jumlah daging yang diperoleh akan lebih banyak, ditambahan dengan tulang belulang isi perut dan kulit, karena seluruh bagian sapi yang dipotong dibagi rata. 

"Yang tidak dibagi adalah bagian kepala dan tunjang (tulang kaki bagian lutut ke bawah) karena itu upah lelah panitia dan anggota yang melakukan pemotongan," jelasnya.

Menurut B St Zahar, laki-laki dewasa Minangkabau tidak akan puas dengan hanya membeli satu onggok daging, satu kebiasaan di Agam para menantu sangat kebahagia jika bisa menenteng daging kerumah mertua. 

"Saat mengantarkan daging menantu akan berkata, ibu, uda juga ikut berantam, ini ada daging sedikit buat dimasak. nantinya saat berkunjung lebaran kerumah mertua, rendang daging itulah yang akan dihidangkan untuk cucu dan menantunya," tutupnya.

(han/don)



Berita Terkait

Baca Juga