Cengkeh, Tommy Soeharto dan Gelang Emas Ibu-ibu Kampung Saya

Cengkeh Tommy Soeharto dan Gelang Emas Ibuibu Kampung Saya Komoditi Cengkeh/ Foto: Istimewa

"Bila kau ingat-ingat kenangan indah masa silam, masa kau masih muda belia, apa yang kau ingat berkaitan dengan Tommy Soeharto ?" Tanya seorang kawan, pagi tadi.

"Tentang cengkeh. Itu saja, yang lain, tak ada. Setidaknya tak begitu terasa. Ini mengingatkan saya pada tulisan beberapa tahun yang lalu."

Mengingat Air Bangis, membuat kenangan saya tertumpu pada cengkeh. Komoditi rempah primadona era 1960-an, 1970-an dan awal 1980-an. 

Tak ada yang tidak kenal cengkeh. Kategori rempah yang sejak dulu membuat para Baron dan para "Meneer" mengarahkan pandangan mereka ke Nusantara. Mungkin (hanya) anak-anak muda sekarang yang tidak tahu rempah yang (konon) menjadi bahan baku utama rokok kretek. Generasi muda sekarang mungkin lebih tahu dengan strawbrerry, buah naga, milkshake thai dan seterusnya. 

“Cengkeh itu, apaan sih? sejenis bunga?” Tanya anak saya suatu ketika.

Saya tak ingin menerangkan apa saja kegunaan cengkeh selain sebagai bahan baku utama rokok kretek, apa khasiat cengkeh, nama latin cengkeh dan seterusnya. Saya hanya tahu, seluruh batang tubuh pohon cengkeh bernilai uang. Tak ada yang terbuang. Bunga/buahnya berharga tinggi, gagangnya/tampuknya bisa menghasilkan uang, daun-daunnya (konon) mampu menghasilkan cairan untuk antiseptik dan parfum, sedangkan batangnya dianggap sebagai kayu bakar kualitas “pertamax”. 

Pokoknya, cengkeh ibarat pohon kelapa atau binatang sapi. Santan buah kelapa semua orang tahu apa manfaatnya, tempurung kelapanya bernilai jual pula, daun dan lidinya bermanfaat besar bagi manusia, sabutnya juga demikian pula, sedangkan batangnya jangan ditanya, jadi bahan baku utama papan dan penghubung jalan. Tak ada yang terbuang. 

Cengkeh juga diibaratkan seumpama sapi. Daging sapi bernilai jual tinggi, kulitnya untuk gendang dan kerupuk, tanduknya menjadi assesories kultural lambang stratifikasi sosial pada masyarakat tertentu di Indonesia, ekornya bisa dijadikan sop paling enak di seantero nusantara, kotorannya jadi pupuk berkualitas. Bahkan (belakangan) suara sapi pun menjadi ringtone paling favorit di beberapa handphone. Pokoknya, rahmatan lil ‘alamin-lah. 

Masih segar dalam ingatan saya, cengkeh pernah memberikan kebahagiaan luar biasa, ketika saya masih anak-anak. Kebahagiaan di awal-awal tahun 1980-an. Masa itu, cengkeh membuat saya dan kawan-kawan mampu menghasilkan uang dengan cara yang amat menggembirakan, mudah dan teramat humanis. Kampung saya, Air Bangis, pada era tahun 1960-an, 1970-an dan awal 1980-an tersebut dikenal sebagai sebagai salah satu daerah penghasil cengkeh terbesar di pantai Barat Sumatera Barat. 

Bukit-bukit serta gunung-gunung di seputaran teluk Air Bangis dan daerah sekitarnya, terhampar pohon-pohon cengkeh yang asri, lebat lagi eksotik. Bila pada awal dan pertengahan abad ke-18 dan 19 M, Air Bangis bersama-sama dengan Natal, Kunkun, Batumundam serta Barus dikenal sebagai daerah penghasil kamper dan kapur barus paling utama di pantai barat pulau Andalas, maka era 1960-an, 1970-an dan awal 1980-an itu. Air Bangis dan daerah sekitarnya bersama-sama dengan Sinabang di Aceh, identik dengan penghasil cengkeh. 

Karena cengkeh, pendapatan masyarakat Air Bangis melejit – pada masa itu. Parameternya sederhana: setiap hari pekan/ balai/ pasar, toko emas banyak dikerubuti kaum ibu. Emas berjejeran di tangan mereka, emas dalam bentuk bulat pipih (saya lupa istilahnya), bergelantungan di dada mereka. Seandainya Terios, Rush, Innova, HRV, CRV dan sejenisnya sudah ada pada waktu itu, niscaya jalanan di Air Bangis bisa macet.

Tapi karena Air Bangis masih termasuk daerah terisolir ditambah lagi jalan-jalan penghubung dengan daerah lain di sekitar Air Bangis berkategori memiriskan, praktis glamouritas hanya terlihat pada kemeriahan cincin-gelang-subang emas yang digunakan. 

Semiskin-miskinnya orang Air Bangis pada masa itu, tak ada yang tidak memiliki gelang emas. Mungkin terkesan “gadang ota”, tapi demikianlah perumpamaannya. Bahkan ada anekdot-sarkastik-“ongeh” untuk menggambarkan kesejahteraan masyarakat kampung saya, “mencuci tangan dengan air limun”. 

Masa itu, air limun dianggap sebagai lambang minuman “mewah” berkelas untuk ukuran kampung, maklum belum ada Sprite, Coca Cola, Fanta apatah lagi Capuccino Cincau dan MilkShake. Paling yang ada selain limun, hanyalah Brendy dan TKW. 

Fenomena ini, tidak hanya terjadi di kampung saya. Ketika saya menjabat sebagai Ketua organisasi mahasiswa sekitar tahun 1998, saya pernah berkunjung dalam rangka “dinas-organisasi” ke Universitas Hassanuddin Makassar (Ujung Pandang, masa itu). Anekdot ala kampung saya di atas, juga saya temukan di Sulawesi Selatan berkaitan dengan kesejahteraan yang disebabkan cengkeh. 

Seorang kawan saya yang berasal dari Minahasa menceritakan bahwa di beberapa desa di Sulawesi yang tak terjangkau listrik, karena uangnya berlebih, masyarakatnya banyak yang membeli kulkas. Kulkas sebagai perlambang kesuksesan orang kota. 

“Memangnya orang kota saja yang bisa beli kulkas?”

Faktanya di desa-desa itu belum dialiri listrik. Listrik tak ada, kulkas dibeli. Lalu untuk apa kulkas perlambang kesuksesan orang kota itu bagi masyarakat desa tersebut ? Mereka isi dengan baju dan celana, dan kemudian dipandang-pandang disetiap waktu!

Bagi saya dan kawan-kawan masa kecil saya, cengkeh membuat isi kantong kami bergemerincing terus dengan uang logam. Setiap sore, kami akan berduyun-duyun menuju rumah beberapa petani cengkeh. Tujuan kami cuma satu, mengupil cengkeh (memisahkan bunga/buah cengkeh dari gagangnya). Bergoni-goni cengkeh setiap sore (pada musim puncak cengkeh berbuah), kami “garap”. Kami berkelompok melaksanakan kegiatan ini. 

Pada umunnya, tugas untuk mengupil cengkeh dari gagangnya ini, diberikan kepada anak-anak dan remaja. Sangat humanis. Canda tawa bergelora, suasana selalu larut dengan kegembiraan. Telapak tangan akan selalu “bermain”, memisahkan bunga/ buah cengkeh dari gagang/ tampuknya. Ukuran bayarannya berdasarkan liter. Satu liter dihargai sekian rupiah. Rata-rata, 1 atau 2 jam, saya dan kawan-kawan bisa menhgasilkan 5 – 10 liter, tergantung keahlian masing-masing dalam melakukan pekerjaan ini. 

Praktis, pada masa-masa tersebut, kami tak akan pernah minta uang belanja pada orang tua. Tak jarang, "setengah berharap", setelah mengupil buah/ bunga cengkeh tersebut, kami meminta gagang/ tampuknya. Biasanya ini diberi gratis. Secara percuma istilah Malaysianya. Gagang/ tampuknya ini di jemur di panas yang terik. Setelah coklat kehitam-hitaman, kami melenggang menuju tauke Cina di kampung Cina Air Bangis bernama Liem She KIAT. Uang kemudian di dapat. Bahagia, nian.

Lalu, kebahagiaan masyarakat kampung saya, dicabut oleh anak muda gagah perkasa, bernama Hutomo Mandala Putra. Anak kesayangan bahkan dianggap sebagai “Putra Mahkota” Presiden Soeharto. Melihat peluang bisnis cengkeh ini begitu menggiurkan, ia (pasti) membujuk sang ayah untuk menggunakan kekuasaannya. 

“Ayah, keluarkanlah palu godam kekuasaanmu, berikanlah cara bagaimana cengkeh di seantero kerajaan ayah ini bisa saya kuasai, tanpa modal, tanpa usaha keras, tapi mendapatkan untung banyak”, demikian (mungkin) kira-kira Hutomo yang akrab dipanggil dengan Tommy ini, membujuk ayahnya yang dikenal murah senyum tersebut.

Karena terlampau bersangatan sayang pada anaknya, Soeharto kemudian mengeluarkan Keputusan Presiden tentang Tata Niaga Cengkeh, sekitar tahun 1986/1987. Keppres itu mengatur, petani harus menjual cengkehnya ke koperasi. “Bukankah koperasi harus kita perkuat sebagaimana kata Bung Hatta”, demikian kemungkinan pembenaran yang disampiakan Soeharto pada awal penyusunan Keppresnya ini. Tapi lucunya, koperasi ala Soeharto bukan sebagaimana yang disarankan Bung Hatta. Koperasi hanya bertugas sebagai pengumpul. Ya, pengumpul saja!

Selanjutnya, cengkeh yang terkumpul itu, harus dan wajib bin mutlak, dijual ke Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkih (BPPC) dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Lalu, semua pabrik rokok dalam negeri wajib membeli pasokan cengkeh dari BPPC ini.

Lalu dibungkuslah kongkalingkong politik ekonomi ini agar tampak “legal”. BPPC ini terdiri atas Induk KUD dan satu dari swasta yaitu perusahaan milik Tommy Soeharto. Sang pangeran kemudian didaulat menjadi pemimpin BPPC – lembaga monopoli pengumpul dan pemasaran cengkeh Indonesia.

Sejak itu, petani cengkeh menjerit. Harga cengkeh anjlok karena harga tidak diserahkan kepada mekanisme pasar, tapi dimonopoli oleh satu organisasi yang diketuai oleh sang Pangeran. 

Masyarakat di kampung saya, kemudian meninggalkan cengkeh. Tak jarang, pohon-pohon cengkeh pun ditebang. Lalu, BPPC untung dari selisih harga penjualan ke pabrik rokok diperkirakan trilyunan, hanya bermodalkan “air liur” dengan sedikit Keppres milik sang ayah. 

Ketika Soeharto tumbang tahun 1998, BJ. Habibie membubarkan BPPC dengan meninggalkan hutang di Bank ratusan milyar bahkan trilyunan. Enak nian kau Tommy!

Selanjutnya, sejarah mencatat, Tommy Soharto pernah menjadi tersangka di Kejaksaan Agung. Lalu, kasusnya hilang, menguap tak tampak asap. Maklum, kasusnya ibarat tentakel, menggurita, berkelindan saling menyandera.

Hari ini, banyak orang yang merindukan Soharto, bahkan si Tommy Soeharto. Saya hanya katakan kepada anak saya, “gara-gara mereka itu, tak pernah lagi saya melihat kaum ibu bergelang emas berbaris-baris !”.

“Memangnya cengkeh itu apa, yah?” Tanya anak saya kembali.

"Seumpama senyuman ibumu pada ayah," jawab saya.


Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga