Menakar Pilgub Sumbar 2020

Menakar Pilgub Sumbar 2020 Ilustrasi (Ist)

Covesia.com - Pertarungan bakal calon gubernur dan wakil gubernur sudah dimulai. Banyak yang sudah bekerja: lewat baliho, media sosial dan pertemuan tatap muka.

Dari nama-nama yang sudah muncul. Saya membaca beberapa nama yang berkeinginan menjadi Calon Gubernur seperti Nasrul Abit, Mulyadi, Mahyeldi, Irjend (Pol) Fakhrizal dan Reydonnyzar Moenek. 

Dari lima bakal calon gubernur, Nasrul Abit lebih optimis dibandingkan calon lain. Selain posisinya sebagai petahana—wakil gubernur saat ini—ia adalah Ketua DPW Gerindra Sumbar. Partainya selain diuntungkan, karena berhasil mendapatkan 14 kursi Provinsi Sumbar. Ia bisa dapatkan efek jarak pemilu serentak 2019 dengan 2020 dekat. 

Efek Prabowo-Sandi pada pemilu serentak 2019 adalah keuntungan bagi calon dari Gerindra. Dari barisan 02 di Sumbar, kemungkinan juga berkeinginan maju: PKS, Demokrat dan PAN. Apakah Gerindra akan membagi efek ini dengan koalisi adil makmur yang lainnya? 

Selain Nasrul Abit, Gerindra punya figur potensial lainnya yang bisa diduetkan secara internal: Andre Rosiade dan Edriana. Tampaknya, Andre lebih mengikhlaskan kursi calon wakil Gubernur kepada Edriana. Karena, Andre memilih jalan penganti suara lantang Fahri Hamzah di DPR. 

Itu bisa jadi keuntungan bagi Andre. Merawat populeritasnya secara nasional atau Andre punya rencana sendiri terkait karirnya di eksekutif. Menurut saya, Pilgub sumbar 2020 adalah peluang besar bagi Andre. Karena, lima atau sepeluh tahun lagi Andre akan punya lawan calon-calon potensial yang saat ini sedang membangun basis lewat kepala daerah kabupaten/kota. Kesempatan hanya datang sekali. 

Duet Nasrul-Edriana ideal bagi Gerindra. Sebagai aktivis perempuan Edriana bisa mewarnai dan perwakilan kaum perempuan di eksekutif. Sehingga, isu-isu dan gagasan kaum perempuan lewat jalur eksekutif lebih berdampak dari pada legislatif. Besarnya suara yang didapatkan Edriana pada pileg 2019—ada harapan yang dititipkan elektoral kepadanya. 

Sedangkan, Mahyeldi dan Mulyadi menurut saya lebih berminat menjadi calon gubernur dari pada wakil gubernur. Apakah PKS merestui Mahyeldi meninggalkan Kota Padang?. Narasi PKS dengan memperkenalkan Walikota Payakumbuh, Reza Pahlevi ke publik. Strategi alternatif PKS berkoalisi dengan Gerindra apabila PKS tidak mencalonkan gubernur dari kadernya sendiri. 

Dengan tetap mengusung Nasrul Abit sebagai calon gubernur. PKS ingin mengasosiasikan basis daerah pemilihan sumbar 1 dan 2. Nasrul Abit dari Pesisir Selatan dan Reza Pahlevi dari Payakumbuh. Sikap PKS untuk tiket Mahyeldi munju Rumah Bagonjong akan mengubah narasi politik nantinya. Apakah PKS mengusung calon gubernur dari kadernya sendiri atau memilih menjadi wakil gubernur saja?. 

Mulyadi, Ketua DPW Demokrat Sumbar yang sudah beberapa kali lolos ke Senayan. Dianggab sebagai calon kuat yang berpotensi jadi lawan berat Nasrul Abit. Namun untuk menghadapi Wakil Gubernur petahana. Mulyadi harus mencari partai koalisi dan figur yang kuat. Nama-nama Mulyadi pun diasosisikan dengan Emma Yohana, Nofi Candra dan Shadiq Pasadiqoe. Pertimbangan wilayah, suara hasil pemilu dan basis daerah. Tokoh yang harus dipilih Mulyadi demi terciptanya duet ideal. 

Shadiq dan Emma Yohana adalah senator perempuan yang mendapatkan suara fantasis pada pemilu serentak 2019. Sedangkan Nofi Candra menang basis wilayah: asosiasi Sumbar 1 dan 2 apabila berduet dengan Mulyadi. Shadiq bisa saja berpasangan dengan Mulyadi, tapi ia terkendala dengan majunya Ali Mukini sebagai wakil gubernur. Wakil dari Nasrul Abit atau wakilnya Brigjend Pol Fakhrizal. Tiket PAN pun ada ditangannya atau DPP PAN. Kita tinggal menunggu, jawaban PAN, siapa calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung. 

Figur lain, yang berkemungkinan maju lewat calon independen Irjend (Pol) Fakhrizal dan Reydonnyzar Moenek pantas diperhitungkan. Irjend (Pol) Fakhrizal, Kapolda Sumbar ini bergerak memperkenalkan dirinya ke publik. Bisa jadi, apabila mendapatkan dukungan ia akan menikmati masa pensiun di kepolisian dengan mengabdi di kampung halaman dengan mencalonkan diri sebagai calon gubernur sumbar. 

Sama halnya dengan Donny Moenek, Plt Gubernur Sumbar pada pilgub 2015. Saat ini menjabat sebagai Sekjend DPD RI. Dorongan beberapa pihak agar ia ikut bertarung pada pilgub Sumbar 2020 pun berdatangan. Pengalamannya di pemerintahan salah satu alasan beberapa tokoh mendukungnya maju. 

Selain itu, ada tokoh-tokoh lain yang punya peluang sebagai calon wakil gubernur seperti Taslim dan Marzul Veri yang bisa dipertimbangkan oleh calon gubernur diatas. Dua orang ini menurut saya dan informasi yang saya dapatkan dari beberapa pihak. Tokoh yang membangun organisasi ketohohannya dari bawah dan bertahap. 

Taslim, mantan Ketua Pemuda Muhamdiyah Sumbar—yang juga pernah menjadi anggota DPRD Provinsi dan DPR RI. Punya modal sosial yang berlebih dari jaringannya yang ia bangun sejak mahasiswa. Modal sosial ini, nilai lebih Taslim sebagai bakal calon wakil gubernur. 

Sedangkan Marzul Veri, mantan Ketua KNPI Sumbar, Ketua KPU Sumatera Barat dan Ketua DPW Hanura Sumbar saat ini. Organisasi ketokohan yang dibentuknya sejak mahasiswa, pertimbangan kalau ia punya basis sosial di Kab/Kota di Sumatera Barat. Efek itu yang menyebabkan posisi calon wakil gubernur patut dipertimbangkan untuknya. 

Dalam tulisan ini, saya memilih beberapa tokoh bakal calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Barat pada pilgub 2020 nanti. Mempertimbangkan efek partai, ketokohan dan modal sosial yang telah dibangunnya sejak lama. 

Jadi, pilgub sumbar 2020 memberikan kita banyak pilihan calon gubernur dan wakil gubernur. Pasangan ideal punya peluang besar dibandingkan calon yang tidak saling melengkapi: baik secara elektalibitas, basis wilayah, ketokohan, modal sosial dan kapital. 

Arifki Chaniago

Arifki Chaniago ( Pengamat Politik Millenial )

Berita Terkait

Baca Juga