Menakar Calon Bupati di Pilkada Kabupaten 50 Kota

Menakar Calon Bupati di Pilkada Kabupaten 50 Kota ilustrasi (Ist)

Bursa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak Tahun 2020 mulai ramai peminat. Nama-nama bakal calon Bupati/Walikota dan Gubernur sudah banyak muncul ke ruang publik. Dibalik ramainya ulasan pengamat politik tentang pertarungan bursa pilgub sumbar. Perlu kita melihat juga pertarungan di tingkat Kabupaten/Kota.

Dari 13 Kabupaten/Kota yang mengadakan perhelatan politik pada 2020. Penulis ingin mengulas kompetisi yang terjadi di Luhak Nan Bungsu (Kabupaten Limapuluh Kota). Apabila tulisan ini kita mulai dengan hasil pileg 2019. Partai Gerindra memimpin DPRD Kab. Limapuluh Kota kedepannya dengan memiliki 6 kursi. Artinya, Partai Golkar harus mengalah dengan Gerindra dengan melepas jabatan ketua DPRD yang didapatkannya pada pileg 2014. 

Untuk bisa mengusung calon bupati dan wakil bupati sendiri, maka partai harus mempunyai 7 kursi di DPRD. Gerindra saat ini punya 6 kursi, artinya Gerindra mencari 1 kursi lagi. Golkar dan Demokrat  masing-masing 5 kursi, PKS dan Hanura masing-masing 4 kursi, PPP dan PAN masing-masing 3 kursi, PKB dan PDI-P masing-masing 2 kursi, serta Nasdem 1 kursi. 

Dari internal partai, nama-nama yang diperhitungkan sebagai bakal calon Bupati Kab. Limapuluh Kota. Pertama, Deni Asra, Ketua DPC Gerindra, Kabupaten Limapuluh Kota sekaligus Calon Ketua DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, kandidat kuat dari Gerindra yang akan maju sebagai calon bupati. Pillihannya Deni memilih kursi Ketua DPRD yang sudah pasti atau mencoba peruntungan sebagai calon bupati.

Kedua, Partai Golkar, Ketua DPD Partai Golkar Limapuluh Kota, Safaruddin Dt Bandaro Rajo, merupakan anggota DPRD Limapuluh Kota empat periode dan terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat pada pemilu serentak 2019. Sebagai politisi senior Datuak Safar punya potensi dan peluang untuk masuk dalam bursa pilkada kab. Limapuluh Kota. 

Ketiga, Ketua DPC Partai Demokrat Limapuluh Kota, Darman Sahladi yang juga sekarang duduk sebagai anggota DPRD Sumbar dan pernah menjadi Ketua DPRD Limapuluh Kota periode 2009-2014 lalu. Dan kedepan kembali terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Sumbar. 

Keempat, Ketua DPC Partai Hanura Limapuluh Kota, Asyirwan Yunus, yang juga mantan Wakil Bupati 2010-2015. Asyirwan bukan orang baru lagi. Pada Pilkada 2015, Asyirwan kembali maju sebagai calon Bupati dan kalah tipis dengan pasangan Irfendi Arbi-Ferizal Ridwan.

Selanjutnya, keempat, Ilson Cong yang merupakan ketua DPC Partai Nasdem Limapuluh Kota. Pada periode 2009-2014, Ilson Cong pernah jadi anggota DPRD Sumbar. Serta saat Pilkada Limapuluh Kota 2015 lalu, Ilson Cong ikut maju sebagai calon Wakil Bupati. Modal ini yang akan dikelolanya untuk daya tawarnya. 

Kelima, Irfendi Arbi, Ketua DPC PDI Perjuangan Kab. Lima Puluh Kota, Bupati (petahana) yang kembali ikut bertarung pada pilkada 2020. PDI-P punya 2 kursi di DPRD kedepannya—modal itu belum cukup bagi Irfendi untuk maju. Ia harus mencari partai koalisi agar bisa kembali maju. 

Terakhir, keenam, Ferizal Ridwan atau Buya Feri, Ketua DPC PKB Kab. Limapuluh Kota. Wakil Bupati (petahana) juga punya 2 kursi di DPRD. Buya Feri pun mengalami nasib yang sama dengan Irfendi. Bupati dan Wakil Bupati sama-sama tidak punya kendaraan yang kokoh untuk maju pada pilkada 2020. Kecuali, koalisi 50 sepakat yang muncul pada pilkada 2015. Atau koalisi 50 adil yang kembali berhembus lebih berpihak kepada petahana untuk mendapatkan tiket pilkada. 

Duet Irfendi-Ferizal seperti pilkada 2015 tipis terulang kembali pada pilkada 2020. Tidak harmonisnya hubungan dua tokoh ini sejak dilantik sebagai bupati dan wakil bupati. Prediksi saya, sulit mendudukkan hati kedua tokoh ini untuk berkoalisi. Pilihan untuk saling berhadapan tidak hanya soal ketidakcocokan. 

Namun, PDI-P dan PKB berkoalisi juga terhalang jumlah kursi di DPRD tidak cukup untuk mengusung calon bupati dan wakil bupati. Maka dari itu, pilihannya hanya ada partai dengan jumlah kursi lebih. Taruhannya, memiliki partai (mahar) atau memilih wakil tersebut. Pola-pola ini biasa saja terjadi, berkaca dengan pilkada Kab. Limapuluh Kota, berkumpulnya calon pada satu partai pun terjadi pada pilkada 2015. Apakah pada 2020 narasi partai-partai lain berbeda atau sama? 

Selain dari ketua partai politik dan petahana. Calon yang tidak berlatar belakang partai politik juga perlu dipertimbangkan. Misalnya, calon anggota DPD RI Periode 2019-2024, Nurkhalis—yang berada di peringkat 6 dengan 161.714 suara secara Provinsi pada pemilu serentak 2019. Sebagai calon satu-satunya asal Lima Puluh Kota—ia mendapatkan dukungan 67.000 suara dari masyarakat Luhak Nan Bungsu ini.

Dari nama-nama yang sudah muncul, apakah semuanya akan maju sebagai calon bupati Kab. Limapuluh Kota? Atau tata letak wilayah dan jumlah penduduk akan membuat mereka berkoalisi jadi calon bupati dan wakil bupati? Sehingga berkurangnya jumlah pasangan calon.

Konstelasi seperti itu lebih menarik. Ramainya bakal calon yang muncul adalah simbol semangat tokoh-tokoh terbaik Kab. Limapuluh Kota banyak yang berkeinginan membangun daerah ini lewat kebijakan. Namun, gagasan dan tawaran bakal calon bupati atau wakil bupati untuk Limapuluh Kota kedepannya poin penting yang perlu kita kuliti, kupas dan bedah dari bakal calon bupati dan wakil bupati.

Arifki Chaniago

Arifki Chaniago ( Pengamat Politik Millenial )

Berita Terkait

Baca Juga