Kurban dan Cinta

Kurban dan Cinta Ilustrasi

Covesia.com - Tuhan adalah zat pemilik cinta sejati. Hanya Dia yang berhak untuk menerima cinta dari setiap manusia. Demikian kira-kira kata Rabiah Al Adawiyah, seorang sufi besar yang hidup pada zaman Bani Umayyah dahulu. 

Menurutnya cinta itu tak boleh dibagi. Hingga, ketika dia menyatakan cintanya kepada Allah, cintanya kepada yang lain terlepas. Dia tidak lagi mempersoalkan surga dan neraka, pasangan hidupnya, dan harta benda.

Ibadah kurban sebenarnya adalah simbol betapa cinta sejati itu tak boleh terbagi. Penyembelihan hewan kurban adalah simbol pelenyapan terhadap sesuatu yang berpotensi membuat cinta seorang hamba menjadi terbagi. 

Ketika Ibrahim mendapat perintah menyembelih puteranya Ismail as, dia betul-betul sedang berada dalam cintanya yang teramat dalam kepada putranya itu. Hingga, wajar dia perlu menunggu sekian hari kepastian bahwa perintah yang datang melalui mimpinya itu benar berasal dari Sang Pemilik Cinta Sejati.

Meski tak mudah, Ibrahim sang khalilullah ternyata berhasil membuktikan bahwa cintanya kepada Sang Pemilik Cinta Sejati memang tak berbagi.

Kita adalah Ibrahim-Ibrahim baru, kita punya cinta kepada sesuatu, mungkin anak, harta benda, juga pangkat atau jabatan, yang berpotensi mengalahkan cinta kita kepadaNya. Karena itu, kita pun diuji, adakah cinta kita kepada Allah sejati. Sesuai dengan kesiapan kita menerima ujian, Tuhan tak meminta anak kita, malainkan hanya seekor kambing atau domba. 

Mungkin menurutNya, orang sekelas kita cukuplah seekor domba untuk membuktikan bahwa cinta kita memang tak berbagi.

(lif)

Dr. H. Ismail, M.Ag

Dr. H. Ismail, M.Ag ( Dekan Fakultas Syariah IAIN Bukittinggi )

Berita Terkait

Baca Juga