'Rasis' Terhadap Tuhan

Rasis Terhadap Tuhan Ilustrasi

Covesia.com - Manusia adalah ciptaan Allah yang paripurna. Tak ada ciptaan Allah lain yang melebihinya. Allah menyebut dalam firmannya (Alquran) dengan 'ahsanu at-taqwim', yaitu sebaik-baik kejadian. 

Hamka dalam tafsirnya mengatakan bahwa manusia itu sempurna dalam bentuknya, baik lahir maupun bathin, bentuk tubuh dan bentuk nyawa. Bentuk tubuhnya melebihi bentuk hewan lainnya, tentang ukuran dirinya, tentang manis air mukanya, sehingga dinamai 'basyar', yakni wajah yang mengandung kegembiraan. 

Manusia diberi Allah pula akal. Bukan semata-mata nafasnya yang turun naik. Maka dengan perseimbangan sebaik-baik tubuh dan pedoman pada akalnya itu dapatlah dia hidup di permukaan bumi ini sebagai pengatur.

Di "mata" Allah SWT, semua manusia adalah mulia. Hingga, bila ada yang merendahkannya, sama saja dia merendahkan Allah SWT, sang penciptanya. Keragaman paras wajah, ada yang mancung dan ada yang pesek, ada yang sipit dan ada yang bermata bulat, serta keragaman warna kulit, ada yang putih dan ada yang hitam, merah dan sawo matang, adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. 

Sebagaimana firmanNya; "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui".(QS. al-Rum:22).

Selain itu, Allah menciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, tak lain adalah agar mereka saling mengenal satu sama lain, bukan untuk tujuan yang lain. Sebagaimana firmanNya, "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. 

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (Q.S. al-Hujurat:13). 

Hingga, merendahkan suatu golongan atau suku bangsa tertentu, karena perbedaan paras wajah, warna kulit, karena suku bangsa, jelas merupakan tindakan pengingkaran terhadap kehendak dan tujuan Allah membuat mereka seperti ini. 

Bila kemudian ada orang yang menilainya sebagai rasis terhadap sesama manusia, pada hakikatnya adalah rasis terhadap Tuhan yang menciptakannya. Dan tindakan tersebut tentu saja jauh dari nilai-nilai kemuliaan. Wallahu a'lam.

(lif)

Dr. H. Ismail, M.Ag

Dr. H. Ismail, M.Ag ( Dekan Fakultas Syariah IAIN Bukittinggi )

Berita Terkait

Baca Juga