Pesona 'Hoyak Tabui Piaman' Diperpanjang Selama 15 Hari

Pesona Hoyak Tabui Piaman Diperpanjang Selama 15 Hari Ilustrasi: 'Tabuik Naik Pangkek'

Covesia.com -  Dalam pesona "hoyak tabuik" di Kota Pariaman tahun 2019 ini, rangkaian pelaksanaannya masih seperti tahun dulu, yaitu 10 rangkain. Hanya saja waktunya diperpanjang dalam kurun waktu 15 hari.

"Rangkaian kegiatannya masih sama, tapi hanya saja waktunya diperpanjang. Kalau tahun dulu dilakukan selama 10 hari, tapi sekarang menjadi 15 hari," sebut Kabid Seni dan Budaya Kota Pariaman, Salmi Tanjung, di Pariaman, Sumatera Barat, Jumat (30/8/2019).

Lanjut Salmi, pelaksanaan pesona hoyak tabuik ini dilaksanakan mulai 1 hingga 15 Muharam mendatang di Kota Pariaman. Pesona hoyak tabuik ini juga terbagi dua yaitu tabuik Pasa dan Tabui Subarang.

Salmi menyebutkan, 10 tahapan yang dilaksanakan itu, pertama yaitu proses Mambiak Tanah. Proses ini dilakukan tepat pada 1 Muharram, yang dilakukan oleh tuo tabuik. Mulai setelah shalat ashar dan selesai sebelum magrib.

"Lokasi pengambilan tanahnya, untuk tabuik pasa mengambil tanah di Sungai Galombang, kemudian untuk Tabuik Subarang di Sungai batang Piaman di Pauh," kata Salmi.

Kemudian proses kedua yaitu Maambiak Batang Pisang. Dimana proses ini dimaksudkan mencari jenazah Husein yang dilakukan oleh seseorang dengan berpakaian adat dan menggunakan pedang. Ketiga adalah proses Turun Panja, hal itu dilakukan pada 6 Muharram. Sedangkan dilakukan pada malam hari setelah isya," ucapnya.

Selanjutnya dikatakan Salmi, proses keempatnya 'Maatam', dimana proses ini dilakukan mengitari makam Husein dengan menggunakan gandang tasa. Setelah itu, dikanjutkan dengan makan nasi kebuli.

"Proses kelima yaitu Marandai yang dilakukan pada 7 muharram. Proses ini guna mengambil perhatian dari masyarakat untuk menggumpulkan dan untuk membuat tabuik itu sendiri," katanya.

Untuk proses, keenam yaitu Maarak Jari - Jari. Proses itu dilakukan pada 7 Muharram, guna mengundang simpati kedukaan kepada orang banyak. Karena terpisahnya jari - jari dari Husein.

"Ketujuh prosenya adalah Mengarak Saroban, hal itu merupakan representasi tindakan pengikut Husein setelah menemukan sorban Husein," sebutnya.

Kemudian kata Salmi, proses kedelapan, yaitu Tabuik Naik Pangkek. Kegiatan itu dengan cara penggabungan pangkek bawah dan pangkek atas yang dilaksanakan pada pukul 05.00 WIb hingga pukul 09.00 WIB pada hari terahir.

Proses kesembilan, Mahoyak Tabuik yang merupakan acara puncak dari pelaksanaan tabuik itu sendri. "Setelah tabuik itu dihoyak, sore harinya sebagai penutup tabuik itu dibuang ke laut," katanya. 

Sementara itu Salmi menjelaskan, pesona hoyak tabuik ini adalah warisan budaya yang berkembang di Pariaman semenjak sekitar dua abad yang lalu. Pada awalnya tabuik merupakan upacara atau perayaan mengenang kematian Husein. Tapi saat ini berkembang menjadi pertunjukan khas budaya Pariaman setelah masuknya unsur-unsur budaya Minangkabau.

"Proses tabuik terinspirasi dari peristiwa kematian Husein Ali bin Abu Thalib cucu dari Nabi Muhammad SAW, yang meninggal saat perperangan dengan Yazid bin Muawiyah di Karbala Irak tahun 680 M," ungkapnya.

Ia mengatakan, bagi masyarakat Pariaman, pesona hoyak tabuik ini hanya sebagai perayaan semata peringatan kematian Husein, dan kegiatan itu hanya sebatas pesta budaya anak nagari Pariaman.

Kontributor Pariaman: Peri Musliadi

Berita Terkait

Baca Juga