Merekonstruksi Paradigma Sebagai Langkah Awal Membudayakan Literasi dalam Keluarga

Merekonstruksi Paradigma Sebagai Langkah Awal Membudayakan Literasi dalam Keluarga Ilustrasi - pixabay

Problematik pada anak-anak, menjadi salah satu pekerjaan rumah orang tua saat ini. Ada saja yang mesti diperhatikan, mengingat dinamika anak berpengaruh kepada tumbuh kembang mereka di masa depan. Jika dihadapkan dengan pertanyaan, “bagaimana budaya literasi dalam keluarga Anda?” akan muncul jawaban berbeda-beda atau mungkin juga banyak yang tidak paham, apa itu literasi? 

Literasi ternyata tak sekadar berurusan dengan minat baca saja. Mengambil definisi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), literasi adalah kemampuan mengakses, memahami dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis dan berbicara.

Sementara, dalam diskusi kelompok terpumpun (DKT) Gerakan Literasi Nasional (GLN) Tahun 2019, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa ruh dari semua gerakan pendidikan adalah literasi. 

“Padahal literasi itu tidak hanya membaca buku saja. Melalui membaca itu kemudian seseorang memiliki perspektif baru. Kemudian dia juga membuat karya. Proses itu terjadi terus menerus sepanjang hayat,” diungkapkan Menteri Muhadjir Effendy di depan para peserta Diskusi Kelompok Terpumpun GLN Tahun 2019 pada, Rabu (21/8/2019) seperti dikutip dari laman gln.kemdikbud.go.id.

Dari definisi dan penjelasan Mendikbud tersebut, jelas saja literasi memiliki makna lebih luas bagi seseorang dalam perwujudan intelektualitas diri. Tetapi hal itu tidak bisa dilepaskan dari kemampuan dasar membaca dan menulis. 

Prinsipnya, ini berkaitan dengan paradigma. Buku dan dunia literasi dianggap belum penting masuk dalam agenda rumah tangga. Jika literasi ingin hadir di setiap rumah-rumah keluarga Indonesia, maka paradigma ini harus diubah lebih dulu. Seharusnya agenda literasi bisa sejajar dengan pentingnya memenuhi aspek ekonomi rumah tangga.

Literasi bagi sebagian orang tua kerap dikaitkan dengan uang. Literasi dianggap program berbiaya mahal apalagi jika disandingkan dengan orientasi ekonomi keluarga. Maka seolah-olah literasi itu, suatu program yang akan menambah bajet rumah tangga, selain desakan kebutuhan sandang, pangan, papan, biaya sekolah anak dan lainnya.  

Mengaktifkan kebiasaan berliterasi dalam keluarga tak pula melulu soal menyediakan sarana dan prasarana. Idealnya literasi bisa hidup dalam keluarga dengan syarat orang tua mau menyisihkan waktu dan terlibat aktif membangun sausana literasi itu sendiri.

Agar tidak merasa berat dan kesulitan, orang tua perlu memahami bahwa literasi merupakan bagian dari budaya dalam makna yang lebih khusus, sama halnya seperti terapan budaya disiplin, budaya keuangan, sopan santun dan lain sebagainya yang sudah menjadi prinsip dalam aktivitas keluarga masing-masing. 

Jika setiap anggota keluarga diharuskan disiplin mengelola waktu atau hemat dan cermat menggunakan uang, bersikap dan bertutur kata sesuai norma agama dan lingkungan sekitar, maka literasi bagian dari kebiasaan-kebiasan baik tersebut. “Dianya” hanya perlu mendapat tempat sama tinggi dengan hal-hal tersebut.

Akan jadi masalah jika tidak ada kedisiplinan, tak cermat memanajemen keuangan atau justru bersikap jauh dari kultur baik yang terwariskan. Pun demikian, pada anak-anak dalam lingkungan keluarga maupun dalam konteks lebih luas. 

Pertanyaannya, seberapa risihkah orang tua saat tidak mendapati diri dan anak-anaknya tak mampu mengakses, memahami dan menggunakan sesuatu secara cerdas? Bagaimana dampak negatif yang ditimbulkan dari ketidakmampuan itu? 

Keluarga dan anggota di dalamnya bisa menjadi korban “efek samping” kemajuan perangkat teknologi digital, siaran dunia hiburan, maupun semrawutnya linimasa media sosial.  Moral orang tua dan anak-anak terdegradasi oleh aktivitas dan hiburan tidak mendidik, terombang-ambing oleh hoax, bahkan lebih “menyeramkan” terjerumus dalam pemikiran sempit atas satu paham atau ideologi tertentu. 

Ketidakmampuan itu muncul akibat tidak hadirnya aktivitas membaca, berkomunikasi dan berdiskusi serta bertukar pikiran dalam rutinitas keluarga. Setiap anggotanya, orang tua dan anak-anak memilih sibuk dengan prioritas masing-masing yang tidak saling terhubung. 

Keadaan itu harus dilenyapkan dari rumah dan keseharian keluarga. Aktivitas membaca, berkomunikasi dan berdiskusi serta bertukar pikiran mesti ada, sesibuk dan serumit apapun urusan yang sedang dialami orang tua dan anak-anak.  

Merekonstruksi cara berpikir yang salah terhadap literasi perlu dimulai sejak dini dan mulai saat ini. Tidak ada kata terlambat, meski usia mulai senja dan anak-anak mulai beranjak dewasa. 

Sementara, kembali harus disadari membuatnya menjadi budaya dalam keluarga, dimulai dari meletakkan agenda literasi sejajar dengan pentingnya kebutuhan ekonomi keluarga, pendidikan anak dan kebutuhan pokok lainnya. Ini mutlak. 

Langkah-langkah yang bisa diterapkan tergantung dari kondisi di masing-masing keluarga. Beruntunglah bagi orang tua dengan latar belakang pendidikan tinggi. Apalagi yang berprofesi sebagai akademisi. Koleksi buku adalah landscape memesona yang menghiasi rumah. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga ini relatif akrab dengan buku. 

Jika kemampuan ekonomi keluarga memadai, banyak tips yang bisa dilakukan dengan cara membuat perpustakaan mini di rumah, mengajak anak berbelanja dan memberi hadiah buku dan lainnya.  

Di sisi lain kita tidak bisa menampik keterbatasan ekonomi bahkan kemiskinan menjadi alasan utama lemahnya semangat membangun budaya literasi dalam keluarga. Jika sarana dan prasarana jadi alasan, maka orang tua harus mencari alternatif solusi lainnya agar memula literasi lewat aktivitas membaca, berdiskusi dan bertukar pikiran bisa terwujud. 

Luangkan waktu untuk mengajak anak ke fasilitas perpustakaan daerah, mengikutsertakan mereka dalam aktivitas taman bacaan di lingkungan sekitar atau mendorong mereka jika perpustakaan keliling mampir di sekitar lingkungan rumah.

Selain itu, langkah sejak dini yang perlu diterapkan adalah “sugesti membaca.” Ini bisa diterapkan kepada anak-anak yang baru bisa membaca. Mensugesti anak membaca dilakukan dengan cara membantu mereka menemukan huruf atau kata apa saja yang ada pada benda yang dilihat. 

Tindakan yang tak kalah penting adalah perihal sosok dan teladan di keluarga. Sebagai warga negara yang menganut keyakinan agama tertentu, maka nilai dan pengajaran di dalamnya merupakan bentuk nyata keteladanan. Baca dan ajarkanlah kitab suci kepada anak-anak.Ceritakan kepada mereka kisah teladan dari orang-orang sukses. Ini menjadi pijakan penting setiap orang tua dalam menerapkan nilai moral dan kebudayaan, baik yang berkaitan dengan budi pekerti hingga ilmu pengetahuan serta wawasan kebangsaan sekalipun. 

Berapa banyak anak-anak yang sukses dalam dunia pendidikan yang berasal dari keluarga pra sejahtera sekali pun? Meski pun dalam keterbatasan ekonomi, mereka mendapat teladan dari orang tua, diajarkan kedisiplinan dan semangat bekerja keras mewujudkan cita-cita. 

Misi orang tua adalah mewujudkan konstruksi budaya literasi di dalam rumah yang dengannya seluruh anggota keluarga memiliki pola pikir yang terus berkembang maju. Tentu saja itu dapat diwujudkan jika urgensi dari literasi sebagai ruh pendidikan, diletakkan sejajar dengan pentingnya memenuhi kebutuhan pokok lainnya di rumah tangga. 

Tahapan selanjutnya terus dijalankan bersama anak-anak, hingga apa yang diharapkan—melalui membaca itu kemudian seseorang memiliki perspektif baru. Kemudian dia juga membuat karya. Proses itu terjadi terus menerus sepanjang hayat—bisa terwujud hingga generasi mendatang. 

Rudrik Syaputra

Rudrik Syaputra ( Jurnalis )

Berita Terkait

Baca Juga