Faldo Maldini, Milenial dan Pilkada Sumbar

Faldo Maldini Milenial dan Pilkada Sumbar Faldo Maldini

COvesia.com - Seorang teman menghubungi saya mengabarkan bahwa sebentar lagi akan ada kejutan lanjutan, sehubungan dengan sosok politisi milenial Faldo Maldini di jagad politik lokal Sumbar. Ya, Wakil Sekjen DPP PAN Faldo Maldini memang beberapa hari ke belakang menjadi perbincangan banyak orang, khususnya di Sumbar.

Perbincangan hangat itu pascaviralnya iklan bergambar Faldo dengan logo partai PSI (Partai Solidaritas Indonesia), ber-tagline "Sumangaik Baru" di halaman depan Harian Singgalang terbitan Kamis tanggal 19 September 2019. Sum di sumangaik diberi warna merah, begitu juga dengan Bar di kata baru. Memberi pesan, Sumbar. Orang-orang banyak bertanya-tanya, apakah Faldo pindah dari PAN ke PSI? Apakah Faldo maju di Pilkada Sumbar 2020? Apakah, apakah? Sampai saat ini belum ada keterangan resmi dari Faldo. 

Bukan masyarakat Sumbar saja yang bertanya-tanya, kemunculan iklan tersebut menjadi pemberitaan di media-media nasional, khususnya portal berita top di Tanah Air. Harus diakui bahwa magnet Faldo sebagai sumber berita (media darling) tidak bisa dianggap enteng. Buktinya, hanya dengan iklan "kecil" di media lokal, Faldo mampu menjadi pembicaraan di pentas politik lokal, maupun nasional.

Langkah politik anak muda kelahiran Padang, 29 tahun lalu yang berkampung di Kabupaten Pesisir Selatan itu, mulai menasional saat Pilpres 2019 baru lalu, dimana Faldo menjadi juru bicara pasangan Prabowo - Sandy. Ia mampu menyita perhatian banyak pihak ketika sering tampil di televisi nasional. Kemudian beberapa pemberitaan mengenai Faldo sempat viral saat "bertengkar" dengan pemusik senior Addie MS di media sosial. Dari situlah popularitas Faldo di pentas politik nasional semakin mengkilat.

Sebenarnya Faldo, selain aktiv di Pilpres, saat itu juga maju menjadi caleg DPR RI dari PAN untuk daerah pemilihan di Bogor Jawa Barat, tapi nasib baik belum berpihak kepadanya. Bagi Faldo, kampanye selama Pileg tersebut tentunya telah menambah pengalamannya di dalam berpolitik (praktis) di samping pengalaman berorganisasi yang ia dapatkan selama kuliah, dimana ia sempat menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI.

Kalaulah memang Faldo pindah dari PAN ke PSI, tidak ada yang salah. Dalam dunia politik, itu hal yang lumrah. Begitu juga sekiranya Faldo mau masuk dalam pusaran Pilkada Sumbar 2020, tidak ada pula yang bisa melarangnya. Sebagai pengamat, saya cukup gembira juga, akhirnya ada milenial yang berniat maju. Sebab selama ini "partai-partai tua" saja baru yang muncul. Tapi di samping Faldo, ada pula Suherman namanya, balihonya sudah pula terpampang besar-besar, yang menyatakan dirinya sebagai Calon Gubernur Sumbar.

Kalau iya, apakah langkah politik Faldo sia-sia? Saya katakan tidak, karena tentunya hal ini sudah diperhitungkannya dengan matang. PSI walaupun tidak masuk ke Senayan, tapi dengan raihan 3 juga suara secara nasional, merupakan partai yang bisa menjadi kuda hitam di Pileg 2024 yang akan datang. Apalagi kalau konsisten dengan sikap dan fatsun politik yang mereka usung selama ini, sebagai "perwakilan" milenial yang penuh dengan idealisme.

Kalaupun Faldo berniat maju di Pilkada Sumbar 2020, dengan masuk PSI, tentunya kita sudah bisa menebak siapa yang menjadi mentor, dan kemana porosnya. Partai politik yang akan mengusung bisa-bisa dari partai-partai yang ditenggarai "dijauhi" oleh para calon, dikarenakan alasan-alasan tertentu berkaitan dengan dinamika politik beberapa waktu ke belakang. Dan itu cukup untuk mengusung Faldo dan pasangannya. Katakanlah PDIP (3), NasDem (3), PKB (3) dan PPP (4), 13 kursi. Sudah cukup untuk berangkat.

Perkara menang kalah itu urusan belakangan, terpenting masuk gelanggang dan bertarung. Irwan Prayitno pun jadi Gubernur Sumbar tidak sekali pancung. Ia kalah melawan Gamawan di Pilkada Sumbar 2005, sebelum akhirnya bisa menang di tahun 2010. Bagaimana strategi bertarung itu yang perlu diolah dan diatur sedemikian rupa. Bagi sosok Faldo, masalah popularitas sudah kaji menurun, dan itu sudah dibuktikannya dengan iklan "kecil" di Harian Singgalang yang kita bicarakan di atas. Ini adalah sebuah modal besar, tinggal lagi masalah eleklabilitas. 


Isa Kurniawan

Isa Kurniawan ( Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar )

Berita Terkait

Baca Juga