Membangun Budaya Literasi dalam Keluarga Tidak Harus Mahal

Membangun Budaya Literasi dalam Keluarga Tidak Harus Mahal Ilustrasi

Covesia.com - Membangun budaya literasi di lingkungan keluarga tidak harus berbiaya mahal. Kita tidak perlu membuat ruangan khusus yang dipenuhi buku dengan rak layaknya pustaka, kemudian terdapat pula kursi dan meja dari bahan kayu jati yang dilapisi busa tebal untuk membuat aktivitas membaca dan menulis anak lebih nyaman.

Jika itu standar membangun budaya literasi, tentu hanya keluarga yang berduit alias kaya saja yang bisa menerapkannya. Lalu bagaimana bagi masyarakat yang hidupnya pas-pasan, sudah pasti mereka tidak akan sanggup.

Namun, konsep dari literasi itu bukanlah seperti itu. Literasi itu tidak harus mahal. Literasi itu bisa berbiaya murah atau tanpa biaya sekalipun. Karena literasi itu bukan soal fasilitas, tapi lebih kepada membangun mindset. 

Bagaimana kita bisa menerapkan kebiasaan membaca, menulis, atau kegiatan-kegiatan literasi lainnya terhadap anak tanpa menghalangi aktivitas anak bergaul bersama teman-temannya.

Setiap keluarga sudah pasti memiliki cara yang berbeda, namun tujuannya tetap sama, yaitu membangun mindset belajar terhadap anak, sehingga bisa meningkatkan nilai kepribadian anak dan juga kualitas penggunaan waktu anak akan lebih bermanfaat.

Sudah sebuah keharusan bagi tiap keluarga untuk menerapkan budaya literasi di lingkungan keluarganya. Karena dengan perkembangan zaman yang begitu deras, anak membutuhkan sentuhan keluarga agar mereka kelak bisa menjadi orang berguna.

Dunia semakin maju dengan beriringan kemajuan teknologi. Kita tidak bisa memungkiri banyak dampak positifnya, namun jika tidak ditempatkan sesuai porsinya, justru akan menjadi mimpi buruk bagi perkembangan anak. 

Kita tidak bisa menampik saat ini banyak anak-anak, bahkan balita sekalipun sudah kecanduan game di gadget. Banyak anak-anak menghabiskan waktu untuk game online. Memang itu bukan dilarang, tetapi jika tidak dibatasi akan berujung kecanduan dan tentu hal demikian dapat merusak pola pikir anak.

Dalam mendidik anak, kita juga tidak bisa seutuhnya menyerahkan ke pihak sekolah. Di sekolah waktu anak terbatas. Paling lama hanya delapan jam sehari. Selebihnya anak sudah kembali ke lingkungan keluarga. Sudah pasti keluarga berperan besar dalam menanamkan nilai-nilai literasi terhadap anak. 

Peran keluarga dalam membentuk kepribadian anak sangat besar. Karena di lingkungan keluarga semua perilaku anak terbentuk. Mulai dari bertutur kata, bergaul, membangun disiplin, dan sebagainya. Jika keluarga abai, ini akan bisa membuat masa depan anak suram.

Kita sangat miris menyaksikan adanya video viral yang memperlihatkan seorang siswa SMP datang ke sekolah sambil membawa senjata tajam, seperti yang diberitakan covesia.com.

Kejadian tersebut terjadi di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Siswa yang diduga kecanduan game online tersebut ketahuan guru, lalu handphone (hp) disita. Dia balik ke rumah, datang lagi ke sekolah sambil bawa senjata tajam untuk mengambil hp miliknya.

Dari kasus tersebut, kita sadari betapa pentingnya peran keluarga dalam mendidik anak dan aktivitas anak yang sampai kecanduan game online sudah jelas adanya. Bahkan menyebabkan anak kehilangan budi pekerti terhadap gurunya. 

Artinya apa, jika masing-masing keluarga bisa menerapakan budaya literasi di tengah keluarganya, kejadian semacam itu bisa diantisipasi. Karena dengan literasi akan membentuk kolerasi dengan prestasi akademik dan anak berkarakter.

Pengamat Pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP) Sumatera Barat Prof Sufyarma Marsidin, sebagaimana yang dilansir dari Antara, mengungkapkan Literasi bukan hanya persoalan membaca saja namun lebih menitikberatkan pada budaya belajar dan pembentukannya harus dilakukan secara berkelanjutan dan Jika semua berjalan dengan baik tentu anak-anak memiliki wawasan yang luas dan memiliki rasa ingin tahu yang besar dan tentunya mereka akan membaca.

Berbicara soal literasi itu tidak harus mahal, kita cukup terenyuh dengan prestasi yang diukir Muhammad Idris. Ia menjadi lulusan terbaik di Akademi Kepolisian (Akpol) 2019. Idris yang merupakan putra daerah Solok Selatan, Sumatera Barat itu berhasil menjadi lulusan terbaik dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3.54 dari 4. 

Ia juga mendapat empat penghargaan yaitu Adhi Makayasa, Ati Tanggon Emas, Ati Trengginas Perak, dan Ati Tangkas Perak.

Pada pertengahan Februari 2019, hampir semua media, baik media lokal di Sumbar atau media nasional ikut memberitakan Idris. Salah satu alasannya bukan sekadar lulusan terbaik, tetapi Idris merupakan seorang anak guru mengaji yang hidupnya pas-pasan, ibunya sudah meninggal dunia sejak dia kecil, namun bisa menjadi lulusan terbaik.

Tentu, prestasi Idris patut kita kagumi. Berawal dari diterima menjadi taruna Akpol dan akhirnya bisa menjadi lulusan terbaik. 

Kesuksesan Idris itu sudah pasti bukan datang secara tiba-tiba. Akan tetapi budaya literasi sudah diterapkan dalam keluarga pria kelahiran 8 Juli 1996 sejak ia masih kecil. 

"Saya lihat tekad Idris sangat kuat. Latihan keras dan tidak lupa berdoa usai salat dilakukannya," kata Dasrial, ayah Idris, sebagaimana yang dikutip dari kompas.com.

Berkat penerapan budaya literasi di keluarganya, dari saat menjadi siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), Madrasah Tsanawiyah Negeri ( MTsN) hingga Madrasah Aliyah Negeri (MAN), Idris selalu menjadi juara dan mendapatkan beasiswa.

Berkaca dari kisah Idris, tentunya sangat naïf jika ada orang tua yang abai terhadap penerapan budaya literasi terhadap anak. Tidak ada alasan orang tua untuk membiarkan masa kecil anak tanpa membudayakan literasi. 

Membangun Mindset Literasi

Semua orang bisa membangun budaya literasi dalam keluarganya, asal ia mau melakukannya. Pada dasarnya hanya soal mau atau tidak. Sebab kalau ada tekad, orang tua pasti tidak akan sulit untuk membudayakan literasi.

Membangun budaya literasi itu harus dimulai sejak dini, ketika anak masih bayi, budaya literasi sudah mesti diterapkan. 

Orang tua bisa menanamkan literasi melalui mainan edukasi. Seperti mainan bayi yang berbentuk buku dan jika tidak mampu membelinya, bisa memanfaatkan barang bekas yang kemudian dibikin seperti layaknya mainan bayi. 

Jika dari bayi anak sudah terbiasa dengan mainan yang berbentuk buku, maka budaya literasi akan mudah tertanam.

Kemudian, di salah satu ruang rumah, kita bisa saja membiarkan kertas, koran, majalah, bahkan seleberan pemasaran produk sekalipun berserakan. Dengan hal itu secara perlahan minat baca anak akan tertanam.

Membacakan kisah-kisah sukses tokoh kepada anak sebelum tidur juga bisa dilakukan sebagai salah satu upaya menanamkan budaya literasi. Anak diajarkan mendengar cerita-cerita menarik, sehingga bisa menanamkan mindset literasi terhadapnya.

Tak hanya itu, orang tua juga harus meluangkan waktunya terhadap anak untuk bisa menciptakan suasana bermain edukatif, sepeti membuat klipping, memo, scrabbook, dan majalah dinding. Selain itu, diskusi dalam keluarga juga mesti diterapkan, karena bisa membangun kedekatan emosional dan anak akan merasa diperhatikan oleh orang tua.

Kita berharap, semua keluarga di Indonesia bisa menerapkan budaya literasi terhadap anak sejak dini, sehingga kedepannya akan lahirlah generasi emas yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa.

Jika semua keluarga memiliki komitmen untuk membudayakan literasi, maka tidak akan mustahil akan bisa mewujudkan Indonesia emas pada 2045, karena implikasi dari literasi tersebut akan melahirkan anak-anak yang cerdas dan produktif. 



Alif Ahmad

Alif Ahmad ( Jurnalis )

Berita Terkait

Baca Juga