Penjelasan BPCB Sumbar Terkait Temuan Artefak Diduga Peninggalan Zaman Hindu-Budha di Pasaman

Penjelasan BPCB Sumbar Terkait Temuan Artefak Diduga Peninggalan Zaman HinduBudha di Pasaman Sumber: facebook.com/minang.official via Rada Putri, Indra Asia Abdi bonjol dll

Covesia.com - Masyarakat Kabupaten Pasaman dihebohkan penemuan sebuah artefak terbuat dari batu berukuran sekitar 80 cm dari dasar Sungai Batang Sibanail Kampung Padang Nunang, Nagari Lubuk Layang, Kecamatan Rao Selatan sekitar pukul 16.00 WIB pada Jumat (27/9/2019).

Warga setempat, Isap (27) yang menemukan patung tersebut mengatakan diduga benda sisa purbakala. 

"Saat ini patung tersebut sudah kami angkat bersama warga ke pinggir Sungai Batang Sibinail tersebut. Patung itu diketahui memiliki berbagai corak wajah tertentu dibagian dinding patung. Diperkirakan beratnya mencapai 100 Kilogram," terang Isap ketika dikonfirmasi oleh Covesia.com, Jumat malam.

Baca: Warga Padang Nunang Temukan Artefak Diduga Peninggalan Zaman Hindu-Budha di Pasaman

Menurut Kepala Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar, Nurmatias mengatakan dari bentuknya, artefak itu berupa makara. Tapi untuk keaslian dan zaman pengerjaan masih dikaji. Dia menyebutkan, tim BPCB, Sabtu (28/9/2019) pagi sudah menuju ke lapangan. 

"Melihat dari bentuk artefak ini terbuat dari batu tupa dan biasanya makara ini dari zaman Hindu-Budha. Tapi kami belum melihat langsung. Mudah-mudahan nanti tim mendapat informasi yang lebih utuh," sebutnya, kapada Covesia, Sabtu.

Sementara, itu dia menjelaskan, Daerah Rao, Kabupaten Pasaman pada abad ke 13, terdapat peninggalan Prasasti Kubu Sutan dan Candi Koto Rao. Sedangkan Arca Duarapala berada dekat dengan anak sungai Rokan (Sumpu), Batang Sibinail yang merupakan pusat perdagangan emas dan perdagangan rempah-rempah.

Dia menerangkan, jika dilihat berdasarkan foto kiriman warga, dari makara itu, pada bagian kaki atau pintu masuk, seperti sebuah bangunan suci agama Hindu-Budha.

"Kami perlu melihat secara langsung untuk mengetahui keaslian dari  temuan ini. Kita perlu kajian," ujarnya. 

Dia menambahkan, dalam sejarahnya, daerah Pasaman memang sudah terbuka dari abad ke 13 dan penguasa di sana bernama Bijeyendrawarman sebagai Yuaraja (raja muda) dan saudara Adityawarman.

"Ini berdasarkan isi prasasti Kubu Sutan Lansek Kodok Rao," imbuhnya.

Dalam prasasti juga disebutkan candi. Sampai saat ini dari Tim BPCB Sumbar, baru menemukan Candi Koto Rao yang letaknya di 3 km sebelah timur Prasasti Kubu Sutan.

"Di bagian selatan Rao, kami juga menemukan Candi Tanjung Medan di Petok Panti dan Prasasti Ganggo Hilia Bonjol," pungkasnya. 

(rdk)

Berita Terkait

Baca Juga