Energi Baru Terbarukan di Sumbar akan Dikupas Tuntas

Energi Baru Terbarukan di Sumbar akan Dikupas Tuntas Bibit bambu, salahsatu alternatig energi terbarukan (Ist)

Covesia.com - Masalah energi baru terbarukan (EBT) sudah menjadi issu dunia, di saat kekhawatiran terhadap energi yang berasal dari fosil semakin habis. EBT merupakan pilihan energi masa depan, dimana energi yang ketersediaan sumbernya bisa dipulihkan secara alami, berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Pascaperesmian Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) berbahan baku bambu di Kabupaten Kepulauan Mentawai oleh Menteri Bappenas/PPN Bambang Brojonegoro tempo hari, telah membuka mata semua pihak akan EBT. Ternyata dari bambu bisa menghasilkan listrik untuk dimanfaatkan masyarakat banyak.

Karena itu, Ikatan Wartawan Online (IWO) Sumbar bekerjasama dengan Komunitas Pemerhati Sumbar (Kapas) mencoba mengagas sebuah diskusi dengan tema "Sumbar dan Energi Baru Terbarukan", agar EBT bisa menjadi alternatif energi di Sumbar. Sebenarnya bukan saja bambu, limbah sawit, sekam padi pun bisa dijadikan bahan baku.

Menurut koordinator acara Almudazir, diskusi tersebut mengundang narasumber yang berkompeten, mewakili birokrat, akademisi, praktisi dan PLN yang akan menampung listrik yang telah dihasilkan dan membuat jaringan ke rumah-rumah masyarakat.

Diantara narasumber itu, lanjutnya, Kepala Bappeda Mentawai Naslindo Sirait yang akan mengungkapkan kisahnya yang menginisiasi PLTBm berbahan baku bambu di Mentawai, Dekan Fakultas Teknik Unand Insannul Kamil, Ketua Kadin Sumbar Ramal Saleh, dan GM PLN Unit Wilayah Sumbar Bambang Dwiyanto.

"Walaupun temanya agak berat, tetapi diskusi kita buat ala cafe, serius tapi santai," ujar Almudazir.

Pelaksanaan diskusi dijadwalkan pada hari Rabu tanggal 9 Oktober 2019, mulai pukul 13.0O WIB, bertempat di Cafe Kupi Batigo Jl. KH Ahmad Dahlan No. 9 Padang Baru Padang, di depan Masjid Raya Sumbar.

Di samping puluhan wartawan, baik cetak, elektronik dan online, peserta diskusi juga diundang para mahasiswa yang berlatar belakang kelistrikan, atau elektro.

"Undangan untuk para mahasiswa sudah diberikan ke kampus mereka, diantaranya Unand, UNP, UBH, Unes, ITP dan Politeknik Negeri Padang," terang Almudazir.

Sementara Ketua Kapas, Isa Kurniawan berharap diskusi ini merupakan konstribusi wartawan dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat Sumbar itu, bisa berjalan dengan sukses, dan EBT bisa dibuat lebih banyak di Sumbar dengan investasi pihak swasta yang peduli dengan pembangunan kelistrikan di daerah-daerah yang belum teraliri. 

"Dimulai dari Mentawai, semoga diskusi ini menjadi inspirasi bagi para pengusaha untuk berinvestasi di bidang ini. Begitu juga dengan Kabupaten/Kota di Sumbar bahkan Indonesia. Karena, energi ini selain ramah lingkungan, juga bahan bakunya sangat banyak sehingga bisa berkesinambungan," kata Isa.

(*/dnq)

Berita Terkait

Baca Juga