Aman Tautalatta dan Tato ''Sikerei Muslim'' Representasi dalam Ragam Budaya Mentawai

Aman Tautalatta dan Tato Sikerei Muslim Representasi dalam Ragam Budaya Mentawai Foto: Dok. Pribadi

Covesia.com - Namanya Tautalatta. Karena ia seorang Sikerei, maka namanya menjadi Aman Tautalatta. Umurnya, sekitar 60 tahun. Seorang elit adat di Mentawai. "Kami, para Sikerei ini adalah penjaga bumi Mentawai," kata Tautalatta.

Badannya dipenuhi tato. Baginya, tato merupakan “pakaian abadi” karena dikenakan hingga akhir hayat. Tato bukan semata-mata aspek kultural-estetika semata, tapi lebih dari itu, tato juga dipandang sebagai manifestasi kultural-ideologik-lokal. 

Tato sebagai wahana komunikasi yang memuat hal-hal tentang : (1) eksistensi masyarakat adat sebagai penanda asal usul seseorang berasal, (b) status sosial seseorang sebagai dukun, (c) tanda kenal batas-batas wilayah, (d) feminim dan maskulin, dan (d) kepiawaian seseorang. 

Keberagaman pada gambar tato setiap pengguna tato, disebabkan karena tato itu sendiri memiliki pesan tersendiri. Dalam konteks simbolisme, gambar-gambar tato yang beragam tersebut, merupakan simbol dengan pesan yang berbeda antara satu dengan yang lain. 

Simbol menjadi penjelas respresentatasi. Menjadi penjelas identitas dalam struktur sosial. Tato menjadi bahan pengingat dirinya atau pun orang lain. Tapi dalam perkembangannya, tato dalam konteks kultural-ideologik-lokal sudah mulai tereduksi. 

Kita mungkin hanya menjumpai tato pada orang-orang tua suku Mentawai, khususnya di Siberut, salah satunya, bapak AmanTautalatta ini.

Saya memandang takzim tatonya. Ia menerangkan makna masing-masing bagian (gambar) tato tersebut. Tentang asalnya, tentang profesinya sebagai (dukun) dan tentang pengakuan terhadap otoritasnya.

Hari itu, saya bincang-bincang hangat dengannya. Sambil merokok. Sambil minum kopi. Gelak tawa, membuncah.

Dalam kesehariannya, ia lebih sering tampil seperti ini. Dengan pakaian khas seorang Sikerei. Badannya "mengkilat". Rupanya, ia mengoleskan tubuhnya dengan minyak. Untuk antibodi. Sebuha kelaziman yang dilakukannya sejak kecil.

"Saya muslim. Beberapa tahun yang lalu, saya muallaf, mengikut agama anak saya," katanya pada saya.

Saya tak bertanya lebih lanjut tentang praktik (ritual agama) kesehariannya. Menurut saya, itu sangat sensitif baginya. Kami lebih banyak diskusi tentang nilai-nilai kultural. Bincang empati. Karena itu, tak jarang saya memegang tangannya. Bahkan menempelkan badan saya padanya. Tanda hormat.

Setelah diskusi selesai, Aman Tautalatta pulang, diantarkan oleh anaknya. Seorang informan saya berkata, "tidakkah Bapak tahu, bahwa badannya yang berkilat tadi karena olesan minyak babi?

"Ya, saya tahu. Tapi saya menghormatinya sebagai orang tua, sebagai saudara, sebagai manusia, sebagai informan. Saya memeluknya itu jauh lebih berharga dari pada sekadar khawatir dengan olesan minyak tersebut. Toh, jalan keluarnya secara syariat juga ada.

Beberapa saat kemudian, anak Aman Tautallata datang. Anaknya tamatan Perguruan Tinggi Islam swasta di Kota Padang. Ia seorang da'i. Kesan yang saya dapatkan, ia sangat menyayangi ayahnya. Menghormatinya.


Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga