Perdana, Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai Luncurkan Kamus Rereiket-Indonesia

Perdana Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai Luncurkan Kamus RereiketIndonesia Ilustrasi kamus Rereiket - Indonesia ( Ist)

Covesia.com - Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai (YPBM) meluncurkan kamus Mattaoi Rereiket - Indonesia yang berisi dialek khusus Sarereiket, di sanggar Uma Jaraik Sikerei desa Muntei Kecamatan Siberut selatan, Sabtu (30/11/2019).

Media publikasi dan Co komunikator YPBM, Martisan Siritoitet mengatakan bahwa kamus bahasa Sarereiket Siberut selatan- Indonesia ini berisi 181 halaman, sementara inisiatif pembuatannya dibantu oleh organisasi nirlaba Indigenous Education Foundation (IEF).

"Peluncuran kamus ini sesuai konteks tujuan global yang dideklarasikan PBB, bahwa tahun 2019 ini  merupakan International Year of Indigeneous Language," imbuhnya.

Selanjutnya, Martisan menjelaskan bahwa YPBM berkontribusi pada salah satu dari 17 sustainable development goals (tujuan pembangunan berkelanjutan) internasional yang dideklarasikan UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) / organisasi pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa).

Ia menyatakan bahwa YPBM berkontribusi pada pengurangan kesenjangan budaya.

Sementara itu terkait pembuatan kamus ini sudah direncanakan sejak 2017 melalui beberapa tahap dan baru dieksekusi tahun 2019 pada awal bulan februari hingga oktober lalu. Diawali dari proses  penelitian / survey bahasa di lapangan hingga percetakan kamus.

"Bagi warga  lokal / Mentawai saat launching kamus Mattaoi Rereiket - Indonesia kita bagikan gratis. Sementara bagi wisatawan nusantara dan luar negeri membeli dengan harga Rp200 ribu/ paket," kata Martisan.

Bagi warga yang ingin membelinya dapat datang langsung ke Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai di Siberut selatan.

Selanjutnya, Martisan mengatakan bahwa 100% dari profit yang dihasilkan kembali kepada Program Pendidikan Budaya dan Ekologi (PPBE) untuk membangun sanggar budaya dimana saat ini sudah berdiri 5 sanggar di Siberut selatan.

"Semakin banyak profit, semakin banyak sanggar kita bentuk. Pada sanggar ini masyarakat bisa belajar budaya, seni tari, musik, lagu, obat-obatan, dan cerita rakyat," ujarnya.

Ia berharap hal tersebut menjadi contoh bagi generasi milenial Bumi Sikerei untuk menjaga identitas agar bahasa daerah tidak dilupakan dan menjadi fondasi budaya.

"80% resort di Mentawai dikuasai dan mengikuti lifestyle orang asing. YPBM bermimpi bisa berkolaborasi dengan Pemerintah membuat kebijakan bagaimana pada setiap resort, semua aktivitas dan stakeholder di sana memiliki ciri khas bahasa Mentawai, dan berkontribusi pada penjualan kamus Mentawai di lokasi strategis," harapnya.

Ke depan YPBM berharap pengembangan pariwisata di Mentawai tidak menghilangkan kearifan lokal seperti penggunaan bahasa Mentawai di area resort, seperti toilet, kamar mandi, speedboat, dan kegiatan lainnya.

Kontributor: Kornelia Septin Rahayu



Berita Terkait

Baca Juga