Pemuda dan Politik

Pemuda dan Politik Ilustrasi (Ist)

Covesia.com - Menurut Taufik Abdulah (1974:6) pemuda adalah individu dengan karakter yang dinamis, bahkan bergejolak dan optimis namun belum memiliki pengendalian emosi yang stabil. Dengan semangat yang bergejolak dan optimis menjadi modal tersendiri bagi pemuda dalam menghadapi arus globalisasi yang berkembang pesat dan sudah tidak terbendung, juga perkembangan teknologi yang semakin canggih, dunia kini memasuki era revolusi industri 4.0, yakni menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation, era ini kita dituntut serba cepat dan tepat dalam melakukan segala lini kehidupan, dalam tantangan situasi seperti ini pemuda adalah jawaban yang tepat untuk menghadapinya.

Bung Karno dalam pidatonya pernah mengatakan “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia” bukan tanpa alasan bung Karno berkata, peran pemuda sangat dibutuhkan dalam segi apapun, pemuda yang seperti apa? Tentunya adalah pemuda yang potensional. Dipuluhan tahun yang lampau di Indonesia kiprah pemuda sudah banyak  terlihat, contohnya saja dalam kemerdakan, pahlawan muda seperti Bung Tomo dengan gelora semangat sumpah pemuda 28 oktober tahun 1928 telah berhasil mengantarkan Indonesia kepada puncak kemerdekaannya ditahun 1945. Pemuda hari ini memikul beban besar dari pemuda masa lampaunya yaitunya memelihara kemerdekaan yang telah direbut dengan semangat yang tinggi, tumpah darah, korban harta, dan nyawa.

Hari ini pemuda harus berperan besar dalam memelihara kemerdekaan, persatuan, dan merawat NKRI dari oknum-oknum atau sekelompok orang yang ingin membenturkan sesama anak bangsa yang beraneka ragam suku, budaya, dan agama. Perbedaan pandang politik mengapa harus berujung dengan konflik? Perbedaan pendapat mengapa harus berujung debat yang saling hujat? Perbedaan cara pandang mengapa rasa persaudaraan harus menjadi hilang?, benturan-benturan seperti ini sering ditemui di laman-laman dunia maya yang banyak digandrungi anak muda hari ini, menurut data dari websindo.com pengguna media sosial paling banyak dari usia 18—34 tahun pria maupun wanita per januari 2019.

Dalam menghadapi krisis politik hari ini, pemuda harus ambil bagian dalam mengentaskannya, karena politik bukan untuk  kebutuhan satu golongan, bukan untuk kebutuhan pribadi seseorang, kembali kepada pendapat ahli politik Rod Hague politik ialah kegiatan yang menyangkut cara bagaimana kelompok-kelompok mencapai keputusan-keputusan yang bersifat kolektif dan mengikat melalui usaha untuk mendamaikan perbedaan-perbedaan di antara anggota-anggotanya, dapat dilihat tujuan dari politik adalah untuk mendamaikan, tetapi mengapa hari ini politik justru memecah belah antar sesama? Mungkin kita telah mengaburkan tujuan politik itu sendiri. 

Situasi pertarungan politik Indonesia di dunia maya akhir-akhir ini berdasarkan data dari Menkominfo menjelang sidang Mahkamah Konstitusi (MK) tentang gugatan hasil pemilihan presiden, 11 Juni 2019 yang lalu ditemukan 400 hingga 600 URL baru setiap harinya yang menyebarkan konten-konten negatif, bukan hanya konten hoaks tetapi juga konten yang bersifat adu domba (Rudiantara). Kembali kepada data di atas yang mengatakan anak mudalah yang paling banyak dalam mengakses dunia maya, tentunya disini anak muda yang ikut andil di dalam pertarungan politik di dunia maya. Ujar kebencian, saling tuding dan saling fitnah bermotif politik akan mudah saja ditemui di laman media sosial hari ini, walaupun masa pertarungan pilpres telah usai tetapi situasi politik dunia maya belum juga mereda.

Pemuda yang akan mengguncangkan dunia seperti yang diharapkan Bung Karno tentu bukan pemuda yang asal share dan asal memberi tanggapan ataupun komentar di dunia maya tentang suatu permasalahan politik, tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Pemuda seharusnya menyikapi dengan bijak dan teliti setiap informasi atau suatu permasalahan bermotif politik yang muncul di dunia maya. Pemuda seharusnya menjadi peredam setiap amarah dan mencari solusi setiap problem, pemuda memang harus melek akan setiap perkembangan politik hari ini, pemuda harus ikut andil dalam mengkritik dan menyuarakan kebenaran, namun kritikan yang membangun bukan hanya sekedar ngelantur, kritikan yang memberi solusi bukan caci maki, kritikan yang lugas dan tegas bukan hanya pedas dan asal nge-gas. Pemuda memang harus kritis dalam melihat suatu problem bangsa namun harus dalam konteks bermoralitas dan bermartabat dalam kritikannya.

Hari ini pemuda jangan hanya sibuk urus politik di dunia maya, pemuda juga harus turun menjadi pelaku politik, pemuda harus ambil bagian dalam perpolitikan di Indonesia. Harapannya supaya ada semangat-semangat baru, pemikiran-pemikiran terbaru dalam perpolitikan, supaya jangan ada politik dinasti, berpolitik karena keturunan, berpolitik karena mempunyai mahar dan metri yang banyak. Tetapi pemuda berpolitik karena panggilan jiwa, ingin melihat kemajuan yang berdaulat dan bermoralitas tinggi, karena Bangsa Indonesia bangsa yang berdasarkan ketuhanan yang berinduk kepada agama, setiap agama mengajarkan tentang arti moral.

 


Eka Ona Sutra

Eka Ona Sutra ( Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Fisip, Unand )

Berita Terkait

Baca Juga