Lima Belas Tahun Smong Aceh: Pengetahuan Lokal dan Upaya Mitigasi Mandiri

Lima Belas Tahun Smong Aceh Pengetahuan Lokal dan Upaya Mitigasi Mandiri Ilustrasi Dampak Tsunami/ Sumber Foto: wikipedia.org

Covesia.com - Dengarlah sebuah cerita/ Pada zaman dahulu/ Tenggelam sebuah desa/ Begitulah mereka ceritakan/ Diawali oleh gempa/ Disusul ombak yang besar sekali

Demikian kisah smong atau yang lebih dikenal secara luas sebagai tsunami yang dituturkan para orang tua di Simeulue melalui nafi-nafi. Budaya tutur atau lisan ini umumnya dikisahkan para orang tua pada anak-anak mereka ketika tengah memanen cengkeh, atau pada saat anak-anak berkumpul usai mengaji atau salat. Kisah dalam nafi-nafi sangat banyak, dan salah satunya tentang smong (tsunami) yang terjadi pada 1907 silam.

Kisah ini melahirkan banyak cerita pada kejadian tsunami Samudera Hindia 2004 silam yang nyaris meluluhlantakkan sebagian pesisir Aceh, termasuk Simeulue. Umumnya, mereka selamat karena bersandar pada pengetahuan tentang smong dalam nafi-nafi ini. Di mana dikatakan, jika ada gempa besar, dan kemudian air laut surut, akan datang ombak besar, maka larilah ke atas bukit. Pengetahuan tentang kata smong ini kembali menguat setelah peristiwa dahsyat itu.

Smong berasal dari bahasa Devayan yang dituturkan masyarakat Simeulue yang berada di wilayah selatan. Sementara masyarakat yang berada di Aceh Singkil menyebut tsunami dengan gloro. Banda Aceh dan Aceh Besar juga punya penamaan tsunami dengan ie beuna. Tapi seiring waktu, pengetahuan lokal yang menggunakan kata-kata lokal ini hilang ditelan zaman- karena umumnya tidak dituturkan apalagi dicatat untuk generasi berikutnya.

Pengetahuan lokal lainnya tentang bencana yang juga tidak tersampaikan pada generasi-generasi berikutnya sehingga banyak menimbulkan korban jiwa, adalah pengetahuan lokal di Sulawesi Tengah. Gempa, tsunami dan likuefaksi yang terjadi tahun lalu di Sulawesi tengah, membuat banyak orang terperangah- utamanya kejadian likuefaksi. Padahal, sesungguhnya, bencana-bencana tersebut dengan skala ringan sampai besar telah terjadi di masa lalu- bahkan tercatat dengan penamaan tempat juga syair-syair (kayori) yang dituturkan.

Suku Kaili yang mendiami lembah Palu punya tutura (tradisi lisan) yang mengisahkan tentang gempa hebat yang memicu tsunami pada 1938. Kisah itu tercatat dalam syair tua milik masyarakat adat Kayumalue di Kota Palu. Salah satu tempat yang mengalami likuefaksi mereka tabalkan dengan nama Tana Runtuh. Orang-orang di Palu juga punya bahasa lokal untuk tsunami, yang mereka sebut dengan bomba talu (tiga gelombang laut) atau 'air badiri'.

Naskah-naskah kuno Jawa seperti serat srinata, serat pararaton, juga banyak mencatat peristiwa-peristiwa bencana seperti gempa dan tsunami. Sayangnya, kisah-kisah ini lebih banyak dipercayai sebagai sebuah mitos dan semakin jauh dari sudut pandang bencana alam karena pendekatannya dari sudut pandang pergantian kekuasaan yang umumnya melahirkan pertikaian dan diselipi kisah mistik.

Dalam ekspedisi yang dilakukan para ahli menyusuri pantai selatan Jawa pertengah tahun ini, juga banyak ditemukan istilah lokal untuk penyebutan gempabumi dan tsunami. Seperti di Serang, mereka punya istilah ‘kabur laut’ untuk tsunami. Di Pangandaran, Tasikmalaya, Garut, Cianjur dan Sukabumi juga ditemukan cerita mengenai tsunami melalui berbagai siloka- yang diceritakan secara turun temurun. Beberapa siloka yang ditemukan tim ekspedisi adalah kisah-kisah yang didapat dari masyarakat dan tetua adat tentang “akan datang 7 ratu ke Pelabuhan Ratu, membuka jalan untuk Ibu Ratu”, “Ibu Ratu suatu saat akan sindang (singgah/berlabuh) di Pelabuhan Ratu”. Tujuh Ratu dalam pengertian mereka adalah tujuh gelombang (laut).

Sudah saatnya kita menggali pengetahuan lokal tentang bencana untuk melakukan upaya-upaya mitigasi bencana secara mandiri. Pengetahuan ini sudah diturunkan oleh para nenek moyang kita, tinggal bagaimana kita kemudian mencernanya, menggalinya untuk diwujudkan dalam sebuah upaya mitigasi mandiri yang kekinian.

Gempabumi dan smong adalah peristiwa alam yang akan selalu berulang- utamanya- di lokasi yang sama. Fakta dan data-data secara science telah membuktikannya. Pengetahuan lokal terkait bencana adalah salah satu langkah awal yang dapat digunakan dalam mitigasi mandiri di sebuah wilayah- para nenek moyang kita sudah membuktikannya.

Raihan Lubis

Raihan Lubis ( Penulis/ Jurnalis Aktivis )

Berita Terkait

Baca Juga