Jalan ke Gedung Putih

Jalan ke Gedung Putih Uncle Sam

Covesia.com - Beberapa tahun terakhir, China/ Tiongkok begitu masif menanamkan pengaruhnya di berbagai kawasan, bahkan hampir di seluruh penjuru bumi.

Dalam konteks politik ekonomi, poros yang terbangun sekarang ini (hanya) dua: Amerika Serikat cs versus China. Rusia mulai tak masuk hitungan.

Ekonomi global praktis sekarang diutak atik oleh dua negara ini. Mereka “berperang”, sebagaimana diumpamakan presiden Jokowi dengan “Game of Thrones” dalam pidato pembukaan Annual Meeting Plenary IMF dan World Bank di Nusa Dua Bali, beberapa waktu lalu.

Terlepas dari implikasi negatif perang dagang dua negara tersebut, faktanya negara China sedang melejit. Negara-negara di Timur Tengah bahkan banyak melakukan kerjasama antar negara. Investor China menanamkan investasi dalam skala besar di kawasan ini, dan sebaliknya.

Silahkan saja di baca laporan ekonomi di berbagai media massa mainstream dalam negeri maupun luar negeri, berkaitan dengan ini. Bahkan seorang Presiden Erdogan yang dicitradirikan sebagai “figur mandiri” pada awalnya, justru begitu fleksibel dalam menempatkan “siapa kawan terbaiknya ?”. Awalnya Amerika Serikat, berpindah arah ke Rusia, kini tergantung kepada politik ekonomi China.

Salahkah? Sama sekali tidak. Bak kata Deng Xiao Ping, “jangan perdebatkan warna kucing, bila pandai menangkap tikus .... pakai, pelihara!”.

 China sedang melejit. Tentunya sangat logis untuk bekerjasama dengan negara tersebut.

Saya yakin, nanti, akan banyak film produksi Hollywood yang berkisah tentang keunggulan politik Amerika Serikat.

"Unggul dari negara mana ?"
Dari negara China/Tiongkok. Negara Tirai Bambu.

Sama halnya  beberapa tahun lalu, banyak film Hollywood yang mengisahkan keunggulan Amerika Serikat dari Uni Sovyet. Segala yang "berhubungan" dengan negara berjuluk beruang merah ini, akan dianggap sebagai kelompok tak berperikemanusiaan.

Haluan politik sedang berputar. Dari Beruang Merah ke Tirai Bambu. Lawan tanding telah berubah.

Opini dibentuk. Kita membacanya dengan seluruh dan sepenuh keyakinan. Padahal itu hanyalah petunjuk menuju ke gedung putih. Sejarah menukilkan fakta, sejak dulu, mereka adalah pembentuk opini terlihai.

Anda sebaiknya paham bahwa, Amerika Serikat itu bukan negara, tetapi perusahaan swasta terbesar. Sahamnya hanya dimiliki beberapa kelompok orang saja. Karena itu, apapun yang mereka lakukan murni bisnis! 

Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga