Atasi Stunting Lewat Surau

Atasi Stunting Lewat Surau Ilustrasi (kemenkes.go.id)

Covesia.com - Bocah kecil itu tak seriang kawan mainnya. Adi (3 tahun) nama samaran, hanya duduk bermenung di sudut depan rumah. Menyaksikan kawan sebayanya bermain dan berlari di depan matanya. 

Adi bukannya enggan untuk bermain. Akan tetapi sejak lahir Adi memang tak lincah. Lesu, tidak bergairah. Sejak kecil mengalami masalah kembangtumbuh. Tubuhnya terlihat kecil dibanding kawan sepantaran. Berat badannya hanya 9,5 kilogram dengan tinggi 86 sentimeter. 

Adi hidup di lingkungan keluarga tidak berkecukupan. Orangtuanya sulit berkomunikasi dengan siapapun. Hanya dengan ibu (nenek Adi) dapat berkomunikasi. Sayangnya, nenek Adi jarang di rumah karena harus membanting tulang di luar sana. 

Jadilah Adi yang kurang begitu mendapat perhatian, terutama masalah asupan makanan dan gizi. Dalam sehari, Adi makan tidak tiga kali sehari. Lelaki kecil ini hanya makan ketika orangtuanya menyuapkan nasi. Akibatnya, Adi sering sakit-sakitan.

Indonesia merupakan negara yang masih terjerat stunting (gangguan pertumbuhan). Seperti dilansir www.republika.co.id pada 24 Januari 2018 menyebut, sebesar 35 persen lebih atau 7,8 juta balita di Indonesia mengalami masalah pertumbuhan. World Health Organization (WHO) bahkan telah menetapkan Indonesia sebagai negara yang tertinggi gizi buruk. Organisasi kesehatan dunia ini bahkan telah memberi batas toleransi stunting kepada setiap negara, yakni 20 persen dari jumlah total balita. 

Pemberitaan www.majalahkartini.co.id pada 26 Januari 2018 juga mengungkapkan bahwa Indonesia menempati posisi ke-17 dari 117 negara di dunia dengan angka stunting tertinggi. Angka ini membuat pemerintah gusar. Presiden RI Joko Widodo kemudian bertekad memerangi stunting dengan meluncurkan sejumlah program. Terutama program yang menyentuh masalah gizi serta kesehatan. 

Program yang terus digalakkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mengatasi gizi buruk diantaranya yakni Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK), Pemberian Makanan Tambahan (PMT), dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Program ini mengharuskan setiap petugas kesehatan dan petugas di Puskesmas hingga ke level terendah, Posyandu, untuk lebih aktif memberi penyuluhan kepada ibu hamil dan menyusui. Termasuk memantau pola gizi kesehatan masyarakat secara intensif. 

Kota Padang termasuk daerah terpantau stunting. Meski berstatus ibukota provinsi Sumatera Barat, sekitar 22,6 persen balita di Padang mengalami stunting pada 2017. Daerah yang memiliki jumlah anak dengan berat badan Bawah Garis Merah (BGM) terbanyak yakni di Kelurahan Anak Aia, Kecamatan Koto Tangah. 

Kepala Puskesmas Anak Aia melalui Petugas Pelaksana Gizi, Sri Farmala SusiRD, menyebut bahwa pada tahun ini di daerahnya sebanyak tujuh anak memiliki berat badan Bawah Garis Merah (BGM). Cukup banyak penyebab terjadinya berat badan BGM di Anak Aia. Diantaranya seperti rendahnya kesadaran dan perhatian ibu hamil dan ibu menyusui terhadap gizi dan tumbuh kembang anak. 

Sri Farmala Susi menuturkan bahwa sebenarnya anak stunting bisa terjadi di umur kapan saja. Dikatakannya, penyebab awal terjadinya stunting pada waktu kehamilan. Saat hamil, ibu kurang begitu memiliki pengetahuan yang cukup dalam mengonsumsi makanan yang baik untuk janin yang dikandung. Akhirnya, ibu hamil mengalami masalah terhadap asupan gizi. Hal ini diperparah dengan cukup banyaknya ibu hamil yang enggan datang ke posyandu untuk timbang badan dan mendapatkan pengetahuan saat hamil.  

Karena kurangnya asupan gizi saat hamil, anak lahir dengan berat badan di bawah 2000 gram. Apalagi jika anak tidak mendapatkan ASI secara rutin, akan memperparah tumbuh kembang anak. 

Selain itu, timbang berat badan anak merupakan langkah penting untuk mengetahui tumbuh kembang anak. Kegiatan timbang badan yang selalu dilaksanakan pada Februari dan Agustus kurang begitu terperhatikan oleh ibu. Sehingga perkembangan anak yang dipantau melalui Kartu Menuju Sehat (KMS) tidak terisi paripurna.

Beruntung, petugas kesehatan di Anak Aia lekas bertindak dengan berbagai upaya. Petugas melakukan jemput bola dengan mendatangi ibu hamil yang jarang memeriksakan kehamilan ke Kelas Ibu Hamil Balita dan Puskesmas. Ibu hamil kemudian diberi penyuluhan dan pengetahuan pentingnya mengonsumsi makanan bergizi saat hamil. 

Anak yang mengalami stunting dan gizi buruk juga dikunjungi petugas kesehatan. Balita dengan berat badan BGM, diberi biskuit sebanyak satu dus. Satu dus biskuit harus dihabiskan dalam kurun waktu 90 hari. Anak mengonsumsi sebungkus biskuit setiap hari. Jika berat badan anak belum juga naik, biskuit kembali dikonsumsi selama 90 hari ke depan. 

Apabila ditemukan bayi dengan BGM cukup parah, Puskesmas Anak Aia merujuk ke Therapeutic Feeding Centre (TFC) atau pusat pemulihan gizi di Kecamatan Nanggalo. Di sana, anak gizi buruk diberikan formula gizi dalam bentuk cairan. 

Sebenarnya, Puskesmas Anak Aia sudah mengantisipasi gizi buruk dan melakukan pencegahan stunting sejak lama. Bahkan pada 2017 lalu, Puskesmas Anak Aia melakukan Posyandu Remaja dengan mendatangi sekolah-sekolah yang berada di kelurahan tersebut. Setiap remaja diberi pengetahun tentang pentingnya kesehatan. Edukasi pola makan menjadi bahan pengetahuan bagi remaja. Dimana remaja dibiasakan makan sebanyak tiga kali sehari dengan menu gizi seimbang. Apabila pengetahuan tentang pentingnya pola makan sudah ditanamkan sejak remaja, kondisi kesehatan alat reproduksi akan sehat dan menghasilkan keturunan yang sehat pula nantinya. 

Pernyataan ini diperkuat Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Dr Feri Mulyani Hamid. Menurutnya, pengetahuan pentingnya mengonsumsi makanan bergizi sudah diberikan kepada remaja putri. Remaja putri sebagai calon ibu nantinya, diberi tablet zat besi (suplemen penambah darah). Terutama mereka yang mengalami anemis akibat pola makan yang salah. Serta bagi ibu hamil yang mengalami anemis atau disebut dengan ibu hamil Kekurangan Energi Kronik (KEK), juga diberi tablet zat besi atau FE. 

Selain upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam menangani stunting, komunitas masyarakat juga dapat berperan serta. Sebab, orang-orang terdekat akan sangat membantu permasalahan stunting, sehingga masalah gizi buruk dapat teratasi. Apabila di sebuah Rukun Tetangga (RT) terdapat anak stunting berstatus yatim piatu, diperlukan dukungan dari keluarga terdekat atau tetangga. Bisa saja dengan memberikan atau menyumbangkan makanan sehat dan bergizi agar asupan serta pemenuhan gizi seimbang terpenuhi. 

Apalagi, Sumatera Barat yang dikenal kental dengan filosofi hidup Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Masyarakat Minang cukup dekat dengan surau (tempat ibadah), masjid dan mushalla. Selain sebagai tempat beribadah, masyarakat Minang menjadikan surau, masjid atau mushalla sebagai tempat bermusyawarah. Tempat berunding mencari solusi setiap permasalahan yang ada. 

Karena itu, jemaah tempat ibadah diharapkan ikut peduli dan mencari solusi mengatasi permasalahan stunting. Bisa saja dengan berinisiatif menyisihkan infak dari kotak amal untuk anak yang mengalami stunting. Memberikan santunan kepada anak stunting. Jemaah di sekitar tempat ibadah secara bergiliran memberikan susu segar dan makanan sehat setiap pagi yang diambilkan dari uang infak. Termasuk membantu biaya pendidikan anak stunting. 

Selain itu, melalui surau, masjid atau mushalla, para ibu-ibu majelis taklim juga gencar memberikan edukasi kepada para ibu hamil yang berdomisili di lingkungan sekitar, agar memberikan ASI ekslusif, yakni saat anak usia 0 sampai 6 bulan.  

Masalah stunting bukanlah persoalan yang harus menunggu kebijakan pemerintah saja, akan tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Karena, masa depan anak bangsa adalah masa depan Indonesia dan masa depan kita semua. Apalagi sebentar lagi, Indonesia akan meraih bonus demografi. Dimana lebih separuh jumlah penduduk Indonesia berusia produktif dan diisi usia muda yang tentunya harus sehat, cerdas, gesit, dan pintar. Jauh dari masalah kesehatan, pastinya.

Charlie Ch. Legi

Charlie Ch. Legi ( Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas )

Berita Terkait

Baca Juga