Dimandian Bako, Tradisi Unik Jelang Pernikahan Mempelai Laki-laki di Lubuk Basung Agam

Dimandian Bako Tradisi Unik Jelang Pernikahan Mempelai Lakilaki di Lubuk Basung Agam Tradisi dimandian bako jelang pernikahan mempelai laki-laki di daerah Lubuk Basung, Kabupaten Agam (Foto: Covesia/ Johan)

Covesia.com - Lain lubuk lain ikannya, lain daerah lain jua adat dan tradisinya, seperti tradisi "Dimandian bako" (Dimandikan Saudara Perempuan Ayah - Red) di Siguhung, Nagari Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). 

Di daerah tersebut sebelum melangsungkan Pernikahan calon mempelai laki-laki akan dimandikan oleh saudara perempuan ayahnya. Tradisi dimandian bako ini dilaksanakan satu hari sebelum Ijab-qabul dilangsungkan. 

Salah seorang tokoh masyarakat setempat, Inak (67) menjelaskan, dalam prosesinya, beberapa hari sebelum menikah, ibu dari calon mempelai laki-laki ini akan berkunjung ke rumah iparnya untuk memberitahukan bahwa "Anak Pisang" (Sebutan Saudara perempuan Ayah kepada calon mempelai) akan menikah.

Selain memberitahu dan mengundang untuk ikut menghadiri acara pernikahan, Kedatangan itu sekaligus meminta satu hari sebelum menikah, Bako datang untuk memandikan dan menyiramkan ramuan air yang sudah disediakan ke anak laki-laki yang akan menjalani hidup berumah tangga.

"Ramuan airnya terdiri dari jeruk nipis, bunga mawar, kenanga dan ramuan lainnya, usai mandi, barulah air ramuan yang sudah dibacakan doa, disiramkan ke kepala dan badan calon mempelai," ujarnya saat dikonfirmasi Covesia.com, Sabtu (18/1/2020).

Usai memandikan, calon mempelai akan meminta restu kepada bakonya dan ditutup dengan nasehat bako untuk calon mempelai laki-laki untuk membina rumah tangga yang baik.

Dijelaskan Inak, banyak makna yang terkandung dari tradisi turun temurun ini, diantaranya untuk menjalin silaturahmi kedua belah keluarga, serta sebagai bentuk restu keluarga pihak laki-laki untuk calon mempelai dalam menjalani hidup berumah tangga.

Tidak hanya itu tradisi ini sebagai bentuk syukur Anak-laki mereka sudah mendapatkan jodoh sekaligus bukti bahwa pernikahan yang dilakukan sesuai adat dan agama dan tidak akan menimbulkan fitnah ditengah masyarakat.

"Jika pernikahannya bermasalah, dan akan menjadi fitnah di tengah masyarakat. Bako tidak akan mau memandikan hingga persoalan diselesaikan," tutupnya.

(han/don)



Berita Terkait

Baca Juga