Penelitian: Dari Dunia Nyata ke Dunia Rekaan Kembali ke Dunia Nyata

Penelitian Dari Dunia Nyata ke Dunia Rekaan Kembali ke Dunia Nyata Foto: Istimewa

Covesia.com - Apa yang sesungguhnya kita ketahui tentang penelitian? Sebuah pencarian terus menerus untuk menemukan segala sesuatu yang (mungkin) belum ada dalam ilmu pengetahuan? Apakah sebuah penelitian akan menyelesaikan masalah kehidupan, atau hanya menyelesaikan masalah penelitian itu sendiri? Mengapa dan bagaimana penelitian dilakukan? 

Dalam SKALA II di hari kedua (31/01/2020), tentang logika, filsafat, dan prinsip penelitian agraria dengan berbagai contoh isu dan kasus, disampaikan oleh Hilma Safitri (Pendiri dan Peneliti Senior ARC Bandung) dan Frans Ari Prasetyo (Peneliti Tamu ARC Bandung). Menurut Hilma (mengutip Dianto Bachriadi) ilmu pengetahuan menciptakan dunia rekaan dari dunia nyata. Apa yang dimaksud dengan dunia nyata dan dunia rekaan?

Dalam dunia nyata ada realita yang disebut fenomena karena ada konsepsi dan teori yang digunakan untuk membacanya. Dari dunia nyata tersebut, dibawa ke dunia rekaan yang memunculkan fakta dengan menggunakan asumsi dan hipotesa. Dari fakta kemudian dicari datanya dengan metode dan teknik tertentu, selanjutnya ada yang disebut sebagai fenomena rekonstruktif  yang dibentuk dari proses rekonstruksi, deskripsi, eksplanasi, dan analisa. Ujungnya adalah realita rekaan yang diciptakan dari hasil interpretasi. Setelah itu, dari dunia rekaan tersebut dibawa kembali ke dunia nyata melalui aksi-aksi untuk menyelesaikan masalah di awal. Inilah yang disebut dengan Sistem Logika Penelitian Sosial atau the logic system of social research.

Dalam diskusi interaktif, muncullah perdebatan tentang aksi-aksi sebagai bagian yang termasuk dalam penelitian atau tidak termasuk di dalamnya. Maka pertanyaan selanjutnya, jika aksi-aksi tersebut menjadi bagian dari penelitian, apakah penelitian itu objektif atau subjektif? Menurut Dianto, semua penelitian Ilmu Sosial itu subjektif dan peneliti adalah bagian dari instrumen penelitian. Dengan demikian maka peneliti tidak terpisah dan dibatasi atau bahkan membatasi diri dari realitas sosial yang ditelitinya.

Dalam penelitian sosial yang subjektif, tetap harus dilakukan dengan prinsip-prinsip, ada tata caranya, dan etika yang mendasari dan mengiringinya. Diantara prinsip-prinsipnya adalah independensi sebagai peneliti, subjektifitas, dan juga tidak bebas nilai dalam arti tidak terlepas dari realitas. Selanjutnya peneliti sosial bertujuan menemukan kebenaran (relatif), logis, sadar akan kesalahan (dan kekurangan), dan tidak boleh berbohong.

Apa yang tersampaikan dalam diskusi di hari kedua SKALA II Sangkakala ini, selain menjadi materi pembelajaran bersama, juga menjadi refleksi bersama atas realitas penelitian sosial dengan realitas sosial yang terjadi selama ini. Dapat dipahami bahwa peneliti sosial pada akhirnya tidak bisa melepaskan diri dari realitas sosial jika hendak menyelesaikan masalah sosial, atau dengan kata lain: mewujudkan perubahan sosial.

(rls/adi)

Berita Terkait

Baca Juga