Mengarak Kitab Puisi Rohmantik di Sumbar

Mengarak Kitab Puisi Rohmantik di Sumbar Ilustrasi Kitab Roumantik karya Irman Syah (Foto: FB)

Coveia.com - Rohmantik adalah kitab puisi tunggal pertama Irman Syah, penyair nasional kelahiran Magek, 12 Oktober 1965. Kitab puisi tersebut akan diarak selama 3 hari sejak 22-24 Februari 2020 di tiga titik, yaitu Payakumbuh, Kayutanam, dan Padang. Pada masing-masing titik akan dilakukan diskusi terhadap kitab puisi Rohmantik yang kemudian diikuti pembacaan puisi dan pertunjukan seni.

Irman Syah mengatakan ketiga tempat tersebut termasuk titik penting dalam perjalanan kreatifnya. Kitab puisinya tersebut diterbitkan oleh Jual Buku Sastra (Jbs) yang berbasis di Yogyakarta pada April 2019 yang memuat 50 judul puisi yang ditulis lebih kurang 33 tahun ia berproses. 

Arak-arakan tersebut mengusung slogan “Poelang Kampus, Poelang ke Ragi”. Di mulai di Kota Payakumbuh pada Sabtu siang, 22 Februari 2020, Komunitas Seni Intro menjadi tempat perdana yang dilaksanakannya diskusi kitab puisi Rohmantik, dengan pembicara, yaitu Romi Zarman seorang penulis dan peneliti dan Yeni Purnama Sari alumni IAIN Imam Bonjol Padang. Diskusi akan dimoderatori oleh seorang penyair, Ilham Yusardi. 

Romi Zarman dalam makalahnya menjelaskan bahwa kelisanan kuat mempengaruhi Irman Syah. Puisi-puisi dalam buku Rohmantik juga tidak terlepas dari simbol-simbol itu.   

Tidak sampai di sana, Sabtu malam (22/02/2020) pembacaan puisi dan pertunjukan seni digelar di di Lawang Kafe, Limapuluh Kota, yang dibawakan oleh bberapa penyair dan seniman yaitu, Sulaiman Juned, Indra Muhidin, Refdinal Muzan, Iyut Fitra, Muhammad Subhan, Okta Piliang, Adri Sandra, Ikhawanul Arif, Gus tf, S Metron M, dan penampilan Kelompok Legusa untuk musik puisi.

Esok harinya, pada Minggu siang (23/02/2020) diskusi Rohmantik bergerak ke Kayu Tanam, Padang Pariaman. Kegiatan dilaksanakan di INS Kayu Tanam dengan siswa-siswi. Di sekolah yang didirikan Muhammad Sjafei pada 31 Oktober 1926 lalu, Irman Syah pernah mengabdi sebagai guru sastra selama lima tahun (1993-1998).

“Diskusi bersama dengan siswa-siswa INS Kayu Tanam tentu punya makna khusus bagi diri saya. Saya pernah memberikan ilmu yang saya punya di sekolah ini selama lima tahun. Kegiatan di Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam barangkali penuh emosional karena mereka, siswa-siswa yang bersama saya waktu itu sekarang sudah eksis dengan pilihan hidupnya,” terang Irman Syah.

Pada Minggu malamnya, giliran Kedai Buku Teroka di Padang yang menyambut kitab puisi Rohmantik. Sebuah kedai buku sekaligus ruang diskusi publik, yang didirikan para anak muda yang menaruh perhatian pada sastra, terletak di jalur utama menuju Kampus Limau Manih Unand. Hadir penyair yang baru menerbitkan buku puisi keempatnya, Esha Tegar Putra sebagai pembicara dan Nazrul Azwar seorang jurnalis sekaligus sekjen AKSI sebagai moderator.

“Irman Syah adalah penyair jalanan yang satu jalur dengan Saut Sitompul. Indonesia tak banyak punya penyair seperti itu. Irman Syah adalah penyair yang membangun terminal bus di dalam Bahasa Indonesia” ungkap Heru Joni Putra sebagai salah satu pendiri Kedai Teroka. 

Terakhir, pada hari Senin (24/2/2020), arak-arakan kitab puisi Rohmantik ditutup dengan pulang kampus ke Fakultas Ilmu Budaya Univeristas Andalas. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Labor Penulisan Kreatif dan Teater Langkah bekerjasama sebagai penyelenggara. Di Ruang Seminar  Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand diskusi akan dihelat pada jam 13.00-15.00wib. Ada tiga pembicara yaitu, Dr. Fadlillah, M.Si, Ria Febrina, M. Hum, dan Yudilvan Habib Dt. Monti dengan moderator Sudarmoko, MA. 

Pada malam harinya, pembacaan puisi dan pertunjukan seni dilaksanakan di Medan Nan Balinduang Fakultas Ilmu Budaya. Teater Langkah yang pernah didirikan oleh Irman Syah ini, akan unjuk gigi membawakan puisi-puisi dalam kitab puisi Rohmantik, serta pembacaan puisi dari seniman dan penyair di Kota Padang. 

(rilis)


Berita Terkait

Baca Juga