Corona dan Rentetan Berat Ekonomi ke Depan

Corona dan Rentetan Berat Ekonomi ke Depan Yudhistira Hadinosya

Ekonom / Analis Pasar Modal

Covesia.com - Pukulan bertubi-tubi menghantui perekonomian dunia saat ini. Untuk Indonesia sendiri juga mendapatkan pukulan bertubi – tubi mulai dari virus Corona, pencabutan status negara berkembang Indonesia oleh Trump, dari Negara berkembang menjadi negara maju dan terakhir adalah gagalnya kesepakatan OPEC yang menyebabkan anjloknya harga minyak dunia.

Mengenai virus corona ini sendiri, yang menjadi masalah utamanya bukanlah terkait berapa banyak korban dan berapa orang suspect di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, portofolio ekspor impor kita sangat banyak ke China (Tiongkok), maupun dengan negara lain. 

Hal tersebut akan sangat berpengaruh ke pengusaha - pengusaha kita. Yang akan terkena dampak duluan nantinya adalah pengusaha besar, menjalar ke menengah, kecil dan kemudian mikro. Memang di medio tahun 2002 – 2003 China juga mendapatkan wabah SARS, tetapi saat itu negeri tirai bambu itu belum menjadi kekuatan baru dunia, di mana saat itu  China masih menjadi kekuatan ekonomi ke enam di dunia.

Sementara saat ini, China adalah negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Pelemahan ekonomi sebesar 0,5 hingga 1 persen tentu akan berdampak luar biasa. 

Akibat wabah corona ini, ada aktivitas ekonomi China yang dihentikan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saat wabah SARS melanda, kontribusi China terhadap perekonomian dunia kurang dari dua persen. Saat ekonomi China melemah sekitar satu persen poin akibat wabah SARS, dunia tidak terlalu terguncang.

Pukulan Kedua datang dari pencabutan Indonesia dari Daftar negara berkembang oleh AS. Dengan adanya pengubahan status tersebut, biasanya akan diikuti dengan pencabutan fasilitas yang ada seperti fasilitas pengurangan bea masuk Generalized System of Preferences (GSP).  

GSP adalah kebijakan perdagangan suatu negara yang memberi pemotongan bea masuk impor terhadap produk ekspor negara penerima. Ini merupakan kebijakan perdagangan sepihak (unilateral) yang umumnya dimiliki negara maju untuk membantu perekonomian negara berkembang, tetapi tidak bersifat mengikat bagi negara pemberi maupun penerima.

Pencabutan fasilitas ini tentunya juga akan berdampak negatif terhadap ekspor Indonesia ke AS karena barang asal RI akan sulit bersaing dengan barang asal AS dari segi harga. Seperti yang kita ketahui, ada beberapa komoditas eskpor ke AS antara lain tekstil, polywood, kapas ,dan beberapa hasil perikanan seperti udang dan kepiting. 

Tanpa adanya fasilitas GSP, yang artinya tidak adanya kemudahan tarif, barang-barang kita akan sulit bersaing yang pada akhirnya akan menekan nilai ekspor dan membuat neraca perdagangan Indonesia semakin defisit.

Ketiga adalah berita yang membuat rontoknya harga minyak dunia saat ini, di mana pada Jumat (6/3/2020), Organisasi Pengekspor Minyak (OPEC) gagal membuat kesepakatan untuk mengurangi pasokan untuk antisipasi turunnya permintaan akibat wabah virus corona. Harga minyak dunia turun drastis dan saat tulisan ini ditulis harga Minyak Brent berada di angka $32/barrel atau telah turun sebesar 62% dari harga pada bulan September 2018.

Memang dengan penurunan harga minyak ini Indonesia cukup diuntungkan, karena besaran Subsidi BBM yang dikonsumsi masyarakat juga akan menurun sehingga biaya Import BBM juga ikut turun yang menyebabkan ada sedikit ruang dalam memanage neraca perdagangan melalui turunnya nilai impor, tetapi kita juga harus mengingat juga subsidi BBM sudah sangat tidak terlalu signifikan karena dari beberapa tahun yang lalu subsidi BBM juga sudah mulai banyak dicabut. 

Jadi dengan adanya bantuan ketika impor turun melalui harga minyak, tetapi ancaman ekspor yang akan turun sangat signifikan melalui 2 hal yang dijelaskan di atas, masih sangat menghantui defisitnya neraca perdagangan Indonesia ke depan. 

Seharusnya di balik ancaman - ancaman yang ada juga terdapat peluang yang bisa diambil. Sebagai contoh, saat ekonomi China lagi stuck seperti sekarang, kita bisa mencari komoditi apa yang banyak mereka ekspor selama ini dan ke negara mana saja, kita bisa melakukan ekspor ke negara-negara yang selama ini menjadi tujuan eskpor terbesar dari China, selama pengusaha kita jeli melihat peluang dari segala kemungkinan yang ada dan juga dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan nilai ekspor agar terhindar dari defisit perdagangan yang sangat berpotensi mengintai. 





 Yudhistira Hadinosya

Yudhistira Hadinosya ( Ekonom / Analis Pasar Modal )

Berita Terkait

Baca Juga