Efek Covid-19 dan Pentingnya Keberanian Pemerintah Tentukan Kebijakan Moneter

Efek Covid19 dan Pentingnya Keberanian Pemerintah Tentukan Kebijakan Moneter Ilustrasi - Sumber: pixabay

Covid-19 cukup membuat tertekan ekonomi seluruh dunia, termasuk Indonesia. Semua sektor terpukul, IHSG berada di kisaran 3.937 dan Rupiah pun terpukul ke harga Rp16.500 per dollar AS (beberapa hari sebelumnya/red).

Sektor rill saat ini sudah mulai merasakan dampaknya, denyut perkenomian seakan berhenti, perdagangan terhenti karena tidak ada transaksi, sektor hotel, transportasi juga seakan berhenti karena masyarakat menjaga diri untuk tidak keluar rumah menghindari penyebaran virus Covid-19.

Untuk skenario terburuk, sektor rill bisa saja berhenti dalam waktu yang cukup lama, bisa 1 hingga 3 bulan ke depan. Saving masyarakat yang tidak berpenghasilan tetap, akan kuat bertahan untuk berapa lama? Bagaimana dengan daya konsumsi masyarakat nantinya apabila kondisi itu terus berlangsung. Bisa menjurus ke tingginya tingkat kriminalitas apabila hal seperti ini tidak segera diminimalisir.

Memang, presiden menginstruksikan untuk penundaan pembayaran kredit cicilan motor maupun mobil untuk pengendara ojek online ataupun untuk kegiatan produktif lainnya. Hal tersebut cukup meringankan di saat pemasukan masyarakat yang jauh berkurang sedangkan pengeluaran untuk pembayaran kredit yang tetap.

Selain itu, pemerintah juga harus menyiapkan strategi-strategi lain dari kebijakan moneter dalam protokol untuk menghadapi Covid-19 saat ini. Dengan kondisi global yang memang menghadapi situasi yang sama, dan dolar yang melemah ke harga Rp.16.500/ USD sebaiknya pemerintah tidak melakukan intervensi pasar terlebih dahulu.

Kesampingkan dulu ancaman defisit devisa yang mengintai, karena semua negara yang terkena. Ini bisa dikatakan bisa masuk ke kondisi force majeur. Banjiri di bawah dengan aliran dana, perkuat kemampuan konsumtif masyarakat dalam hal pemenuhan kebutuhan sandang. 

Kemudian perkuat di bawah dengan komoditas pokok, perkuat kemampuan bertahan dalam kondisi force majeur seperti saat ini baik itu seperti beras, protein dan kebutuhan sandang lainnya.

Alirkan dana ke petani, nelayan, peternak untuk pemenuhan kebutuhan protein agar hal tersebut bisa terjadi. 

Hal lainnya, sesuaikan lagi harga BBM mengingat harga minyak dunia yang sudah turun cukup signifikan dari US$ 60/ barrel menjadi US$27/barrel agar dana masyarakat tidak banyak tersedot ke BBM dan bisa menggunakan untuk hal lainnya, salah satunya untuk kemampuan bertahan dalam kondisi ekonomi seperti saat ini.

(*)

 Yudhistira Hadinosya

Yudhistira Hadinosya ( Ekonom / Analis Pasar Modal )

Berita Terkait

Baca Juga