Akhir dari Segala Kebebasan

Akhir dari Segala Kebebasan Ilustrasi (pixabay)

Covesia.com - Manusia dengan segala kemauan, keilmuan, kemajuan dan keangkuhan membangun kultur kebebasan untuk dan atas nama hak azasi manusia, atas nama kebebasan ilmiah, atas nama kebebasan kekuasaan dan atas nama diri sendiri 

Lalu, dengan kebebasan itu melintasi batas negara, batas budaya, batas agama, moral dan etika mengaburkan dan bahkan menguburkan batas salah dan benar, batas halal dan haram, batas pakaian antara penutup malu dan kemaluan, batas jenis kelamin, batas siang dan malam, batas ulama dan umara, batas ibu, ayah dan anak, batas guru dan murid, batas antar manusia sehingga bersalaman tak cukup dengan tangan tapi juga dengan pipi dan ciuman. Keakraban tak cukup hanya dengan keramahan, tapi juga sampai serumahan. Manusia bahkan telah melintasi batas-batas fitrahnya sendiri.

Kebenaran agama dikaburkan dengan kemauan pikiran, batas aturan dan etik dikaburkan dengan kemauan politik, batas kemanusiaan berbaur dengan batas kehewanan.

Alam, gunung, bukit, laut, sungai, hutan dengan segala isinya, atas nama kebebasan dieksploitasi secara angkuh dan berlebihan. Manusia memakan apa saja yang tidak biasa, hanya atas nama nafsu dan kemauan.

Kini, di atas segala kebebasan itu, hanya dengan satu makhluk super kecil, direkayasa atau apa adanya, memaksa semua manusia untuk berhenti dan menghentikan semua kebebasannya. Kebebasan untuk melintasi negara, wilayah, agama, dan budaya, bahkan kebebasan untuk saling berjumpa.

Tak hanya dengan lain jenis atau sesama jenis, kebebasan untuk bertemu dengan anak dan keluarga sendiri pun dihentikan. Jangankan bersalaman sesama, berdekatan pun harus dihentikan. Jangankan untuk mengambil, menguasai dan merampas sesuatu, untuk menyentuh apapun harus dipertimbangkan.

Kini, hanya atas satu kesempatan berdiam diri di rumah, duduk dan merenung, siapa manusia kita selama ini, dan apa makna musibah yang sedang menimpa. Kenapa rumah kita harus dibersihkan, disemprot, dan diri kita harus bersih baik dari kotoran tangan dan badan sendiri maupun keluarga dan tetangga sendiri. 

Mudah-mudahan ada satu kesadaran, "manusia kembalilah kepada fitrah sebagai makhluk yang diciptakan dengan aturan dan batasan-batasan."

Fachrul Rasyid

Fachrul Rasyid ( Wartawan Senior )

Berita Terkait

Baca Juga