Sumbar Dalam Bahaya!

Sumbar Dalam Bahaya

Banyak "cimeeh" saya lihat dua bulan yang lalu di group-group WA. Kebiasaan kita di Sumbar sepertinya memang seperti itu, dalam menanggapi sesuatu yang baru.

Ada yang bilang, "Corona tidak akan sampai Sumbar karena tidak bisa menyeberangi selat Sunda". Ada juga yang berkelakar, "Corona takut sama orang Sumbar karena kita banyak makan lado". Bahkan, ada tokoh-tokoh Sumbar berkata seperti itu.

Virus yang sudah melumpuhkan dua negara super power, China hampir semua, Amerika Serikat setidaknya ada lima negara bagian, adalah ujian pada kesiapan kita. Cimeeh tidak akan pernah menghentikannya, tanpa persiapan yang terukur.

Ketika itu, saya sudah mulai membatasi gerak, di rumah saja, atau paling tidak cuma bertandang ke kecamatan tetangga. Saya mulai membatasi bertemu secara fisik dengan orang-orang. Mencuci tangan lebih banyak dan istirahat yang cukup.

Saya menonton terus perkembangan virus ini melalui media-media asing. Saya yakin paling lama dalam tiga bulan sejak saat itu, Indonesia akan lumpuh juga.

Saat ini, Si tukang cimeeh itu bisa jadi sedang bersembunyi di rumah, takut pada virus yang ternyata sudah masuk Sumbar tersebut. Atau, dia bersembunyi karena malu, ternyata situasinya hari ini lebih menakutkan dari apa yang pernah dikatakannya. Tetapi paling tidak, bersembunyi di rumah adalah respon yang tepat terhadap musibah yang kita hadapi hari ini.

Yang saya takut, si tukang cimeeh tadi malah petantang-petenteng di pinnggir jalan. Berkeliling-keliling untuk membuktikan seberapa berbahaya virus yang sudah menyebar ke lebih dari 140 negara ini.

Virus Corona sangat demokratis. Tidak peduli kelas bawah, menengah, atau atas. Orang biasa atau tokoh publik disapu bersihnya semua. Tentu jauh lebih demokratis daripada iklim politik di negara kita hari ini.

Ahli paru-paru paling penting dalam penanganan virus ini. Kita cuma punya 1000-an di seluruh Indonesia, yang seperempatnya ada di DKI Jakarta. Di Sumbar, malah saya tidak tahu ada berapa orang.

Datanya tidak pernah dipublikasi pemerintah daerah, sebarapa banyak tenaga medis dengan masing-masing keahlian. Kita terlalu sering meminta bantuan uang, padahal kita butuh yang lain, yang tidak dapat dibeli dengan uang dalam waktu dekat, seperti tenaga medis.

Belum lagi fasilitas rumah sakit kita. Jelas kita tidak punya fasilitas yang memadai. Yang membuat virus ini berbahaya adalah masifnya penyebarannya. Rumah sakit kita tidak akan cukup tangani ribuan orang secara bersamaan. Apalagi, Sumbar setahu saya hanya punya tiga RS rujukan, baru rencana akan buka delapan pusat karantina. Itu tentu sangat kurang sekali melayani lebih dari dua juta orang yang berpotensi terinfrksi.

Kita butuh sikap pemerintah yang benar-benar tegas dan jelas arahnya. Orang yang baru kembali dari daerah terjangkit ke Sumatera Barat, isolasi dulu saja selama 14 hari, sebelum diperbolehkan pulang. Paling tidak, isolasi sendiri, itu pub setelah disetujui oleh pemerintah tempat isolasi yang akan digunakan.

Kami berharap kita semua tetap di rumah. Yang bisa menyalamatkan kita, sikap kita sendiri. Kalau ingin selamat, menjauhlah dari virus tersebut, menjauhlah dari keramaian. Belum ada obatnya dan entah kapan obatnya ditemukan, mungkin sebulan lagi, tiga bulan, setahun, sepuluh tahun, atau lima puluh tahun lagi. Tetaplah di rumah.


Faldo Maldini

Faldo Maldini ( Tokoh Muda Sumbar )

Berita Terkait

Baca Juga