Berjanji dengan Takdir

Berjanji dengan Takdir Dok. Pribadi

Covesia.com - Semalam di salah satu grup WhatsApp ada yang menantang untuk berdiskusi terbuka tentang Sebutan “Buya Panduto” yang disematkan beberapa gelintir orang dan video yang mengutip ucapannya diviralkan dengan maksud tertentu.

Saya termasuk orang yang ikut tergelitik untuk mencoba melihat lebih dalam tentang hal tersebut dan mengupasnya dalam perfektif saya sendiri sesuai dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki

Agar lebih fair tidak ada salahnya kita kutip kembali ucapan lengkap pernyataan tersebut dalam tulisan ini

"Kami sampaikan, karena memang banyak pertanyaan tentang saya, bahwasanya saya akan meninggalkan Kota Padang ini ditengah jalan perjalanan, yakinlah itu adalah ,  bahwasanya berita ini tidak benar. Saya sebagai Walikota Padang akan menjabat Walikota Padang kedepan sampai 2024. Insya Allah. Tak usah ragu dan bimbang"

Saya mencoba membacanya berulang-ulang dan menyimpulkan bahwa ini dapat diistilahkan “berjanji dengan takdir” . Dalam hidup kita sering mendengar orang berjanji tentang sesuatu yang dia sendiri tidak tahu apa betul-betul bisa dipenuhi atau tidak karena tentang hidup ke depan tak seorang pun bisa memastikan karena terkait dengan takdir yang ditentukan oleh Allah SWT. Dalam Islam kita diajarkan bahwa ketika kita mengucapkan janji yang terkait dengan sesuatu di masa depan, untuk selalu menyematkan kalimat Insya Allah dalam setiap ucapan tersebut.

Ucapan Insya Allah menunjukkan bahwa kita tidak bisa memastikan dan mendahului kehendak Allah atas suatu hal. Karenanya Islam menganjurkan kita untuk selalu mengucapkan Insya Allah manakala kita berjanji suatu hal dengan orang lain atau sedang berurusan dengan orang lain.

Hal ini Alquran begitu jelas dan tegas mengajarkan demikian.

“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,” kecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah”. (QS. al-Kahfi 23)

Apa itu takdir ? 

Takdir merupakan pertemuan antara ikhtiar atau usaha manusia dengan kehendak Allah. Hidup merupakan rangkaian usaha demi usaha, sambungan ikhtiar demi ikhtiar. Namun ujung dari usaha dan puncak ikhtiar tidak selalu berhubungan langsung dengan kesuksesan dan keberhasilan. Ada simpul lain yang menghubungkan dengan keberhasilan, yaitu kehendak Allah. Simpul yang tidak diketahui oleh manusia, yang gelap bagi kita semua… Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahuinya (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok … (QS. Luqman:34)

Sekarang mari kita kupas tuntas tentang istilah panduto atau pendusta yang terkait erat dengan kebohongan.

Kebohongan (juga disebut kepalsuan) adalah jenis penipuan dalam bentuk pernyataan yang tidak benar, terutama dengan maksud untuk menipu orang lain, sering kali dengan niat lebih lanjut untuk menjaga rahasia atau reputasi, perasaan melindungi seseorang atau untuk menghindari hukuman atau tolakan untuk satu tindakan. Berbohong adalah menyatakan sesuatu yang tahu tidak benar atau bahwa orang tidak jujur yakini benar dengan maksud bahwa seseorang akan membawanya untuk kebenaran. Seorang pembohong (Panduto) adalah orang yang berbohong, yang sebelumnya telah berbohong, atau yang cenderung oleh alam untuk berbohong berulang kali - bahkan ketika tidak diperlukan.

Berbohong biasanya digunakan untuk merujuk kepada penipuan dalam Komunikasi lisan atau Tertulis. Bentuk lain dari penipuan, seperti penyamaran atau Pemalsuan, biasanya tidak dianggap sebagai kebohongan, meskipun maksud yang mendasarinya mungkin sama. Namun, bahkan pernyataan yang sebenarnya dapat digunakan untuk menipu. Dalam situasi ini, itu adalah maksud yang keseluruhan berbohong daripada kebenaran pernyataan dari setiap individu yang dianggap kebohongan.

Dari uraian tersebut maka saya menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh Buya Mahyeldi tersebut adalah sebuah janji yang disampaikan oleh seseorang Muslim dengan merujuk kepada apa yang diajarkan dalam Al Quran dan sama sekali jauh dari apa yang didefinisikan sebagai kebohongan apalagi untuk disematkan istilah Pendusta (Panduto) . 

Kita bisa sepakat atau tidak sepakat dengan hal ini, tetapi sebagai seorang muslim apabila kita dalam keraguan dalam mengambil sikap mari sama-sama kita lafazkan doa berikut :

“Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusanku ini baik bagiku, di dalam agamaku dan hidupku, serta baik akibatnya bagiku (di masa sekarang atau masa yang akan datang), maka kuasakanlah dan mudahkanlah urusan ini untukku, kemudian berkahilah untukku; dan apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini tidak baik bagiku, di dalam agamaku dan hidupku, serta akibatnya bagiku (di masa sekarang dan masa yang akan datang), maka jauhkanlah urusan ini dariku dan jauhkanlah aku dari urusan ini, dan tentukanlah yang baik untukku di manapun aku berada, kemudian ridhoilah aku dengan kebaikan itu''

(Penulis merupakan Alumni Fakultas Teknik Unand tinggal di Pekanbaru)

Udayana

Udayana ( Alumni Fakultas Teknik Unand )

Berita Terkait

Baca Juga