Sepucuk Harapan untuk Kabupaten Solok

Sepucuk Harapan untuk Kabupaten Solok Guswandi

Covesia.com - Kabupaten Solok, daerah yang punya sejuta pesona. Daerah yang dianugerahi keindahan alam, dihuni masyarakat yang elok budi dan melahirkan para pemimpin berkualitas. 

Di usia 107 tahun, Solok sudah saatnya menjadi daerah yang terdepan dalam pembangunan dan teknologi, adil merata dalam menikmati kebijakan, serta mampu mensejahterakan penduduknya.

Itulah harapan seluruh masyarakat Solok, baik itu diranah ataupun dirantau. Tinggal bagaimana cara untuk mencapai impian itu, dan siapa yang akan menjadi penggeraknya. 

Dengan sistem pemerintahan yang berlaku di Indonesia, maka sosok paling tepat untuk menggerakkan adalah kepala daerah, dalam hal ini Bupati. Dengan memilih pemimpin tepat, maka mimpi itu akan jadi nyata. Tidak lagi hanya sebatas mimpi yang kala pagi datang semua menjadi hilang.

Dan momentum itu telah datang, Solok sedang melaksanakan proses pemilihan Bupati. Dan kesempatan ini harus dimanfaatkan, salah dalam menentukan pilihan. Maka dampaknya akan dirasakan oleh kita semua.

Dari sekian banyak calon bupati, sosok Nofi Candra patut dicermati lebih seksama. Siapa dia, kenapa dia mau jadi Bupati dan apa yang ditawarkannya. 

Pertama kita bahas siapa Nofi Candra atau biasa disebut NC. Mungkin sudah banyak yang kenal NC di Solok, darimana asalnya, usahanya dan asal usul orangtua. Kita lebih membahas sosok dari sisi siapa dia sebelum menjadi calon bupati.

NC merupakan anggota DPD RI 2014-2019. Dia menduduki posisi mentereng di Senayan, sebagai salah satu wakil ketua alat kelengkapan di DPD RI. Posisi itu jelas bukan sembarangan orang bisa menduduki, akan terjadi persaingan dengan seluruh Senator dari 34 provinsi.

Dengan punya posisi seperti itu, tentu NC masuk kategori politisi yang diperhitungkan dilevel nasional. Akses dan koneksinya tentu juga tidak sembarangan, baik di legislatif maupun eksekutif.

Tapi NC memutuskan tidak maju di Pileg 2019. Padahal dia punya kans menang sangat besar, dengan popularitas dan elektabilitas cukup tinggi. Alasan dia cuma satu, ingin mengabdikan diri di Solok.

Jika dia tipikal haus jabatan, tentu dia bakal maju di Pileg 2019. Karena dia sosok yang punya komitmen jelas, dia memutuskan untuk fokus untuk Pilkada 2020. Jika ada yang bertanya siapa NC, maka jawabannya adalah calon pemimpin yang punya komitmen jelas.

Lalu, kenapa dia mau maju jadi calon bupati. Melihat dari komitmen tadi, bisa kita katakan kenapa dia mau maju, ya karena dia punya keinginan untuk mengabdikan dirinya ke Solok. Membawa pengetahuan dan pengalamannya di level nasional untuk diterapkan di Solok.

Dia mau maju bukan untuk kepentingan pribadinya, tapi kepentingan bersama masyarakat Solok. Supaya mimpi bersama dapat tercapai dan dinikmati secara adil oleh semua pihak.

Dalam proses pencalonan, apa yang ditawarkan NC kepada masyarakat?. Kita tidak lihat dari visi dan misi ya, karena semua calon pasti menyampaikan janji yang sama baiknya. Yang ditawarkan NC saat ini lebih kepada ketulusan dalam pengabdian, rela melepaskan kesempatan untuk dapat jabatan di nasional demi masyarakat Solok. 

NC juga menunjukkan kalau siapapun bisa mencapai mimpinya asal punya niat dan mau bekerja keras. Tidak peduli itu anak seorang petani, buruh atau siapapun. Diusia terbilang muda, NC telah punya cukup modal pengalaman dan pengetahuan, untuk membawa Solok menjadi daerah yang bakal kita banggakan. 

Semua dikembalikan kepada masyarakat Solok, sosok seperti apa yang mereka cari sebagai pemimpin. Ini hanya sepucuk harapan untuk Solok.

(Penulis merupakan jurnalis tinggal di Jakarta)



( )

Berita Terkait

Baca Juga